Jangan Merasa Tekor dalam Bermuhammadiyah

Suara Muhammadiyah

30 September 2026

53
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Jangan Merasa Tekor dalam Bermuhammadiyah

Abd. Sidiq Notonegoro, Pengajar di UM Gresik, Anggota MPID Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim

Ada gejala dalam bermuhammadiyah yang patut kita renungkan. Ada pihak-pihak yang datang karena melihat ada manfaat yang dapat diperoleh: keuntungan material, jaringan sosial, status, akses, pengaruh, bahkan modal politik. Tentu tidak semua orang demikian. Tetapi gejala semacam ini layak dibicarakan, sebab ketika Muhammadiyah mulai dipandang sebagai tempat untuk mendapatkan sesuatu, bermuhammadiyah perlahan dapat bergeser dari pengabdian menjadi transaksi: apa yang saya berikan dan apa yang saya dapatkan.

Bermuhammadiyah semestinya dilandasi pengabdian dan amal saleh. Yang diberikan bukan hanya uang, tetapi juga pikiran, waktu, tenaga, keahlian, jaringan, dan kesediaan mengerjakan sesuatu yang mungkin tidak pernah diketahui banyak orang. Tidak semuanya dapat dikonversi menjadi angka. Bahkan boleh jadi, yang secara material terlihat sebagai pengeluaran justru menjadi keuntungan yang tidak ternilai harganya. 

Tidak ada yang salah dengan seseorang yang mendapatkan manfaat dari Muhammadiyah. Guru berhak memperoleh penghasilan dari sekolah Muhammadiyah, dokter memperoleh imbalan secara profesional, karyawan menerima haknya. Muhammadiyah bukan ruang yang mengharuskan semua orang bekerja tanpa penghargaan. Persoalannya bukan pada menerima manfaat, tetapi ketika menerima menjadi tujuan dan memberi justru dianggap sebagai kerugian. Di situlah profesionalisme dapat bergeser menjadi kalkulasi transaksional.

Karena itu, janganlah pikiran mencari keuntungan material dibawa terlalu jauh dalam bermuhammadiyah. Muhammadiyah bukan ladang untuk memanen keuntungan pribadi. Ia adalah ladang amal. Jika seseorang lebih sibuk menghitung apa yang akan diperoleh daripada memikirkan apa yang dapat diberikan, kita patut bertanya: apakah ia sedang ikut menghidupkan Muhammadiyah atau justru sedang hidup dari Muhammadiyah?

Metafora ini mungkin terdengar keras. Tetapi sesekali kita membutuhkan cermin yang tidak terlalu halus. Jangan menjadi benalu. Benalu tumbuh dengan mengambil dari inangnya. Ia hidup karena menempel pada sesuatu yang menjadi tempat bergantungnya. Kalau perlu, meskipun terdengar berlebihan, jadilah inang bagi Muhammadiyah. Jadilah tempat tumbuh bagi gagasan, kader, amal usaha, pendidikan, pelayanan sosial, dan berbagai kebaikan. Jangan hanya bertanya apa yang dapat Muhammadiyah berikan kepada kita, tetapi apa yang akan tumbuh di Muhammadiyah karena keberadaan kita.

Terlebih ketika mendapatkan amanah sebagai pimpinan. Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius. Amanah bukan sekadar kehormatan, apalagi kesempatan memperluas kepentingan pribadi. Amanah adalah tanggung jawab. Semakin besar amanah, semestinya semakin besar pula kesediaan untuk memberi. Ada kalanya jabatan lebih cepat mengundang minat daripada pekerjaan yang mengikutinya. Orang tertarik pada kursinya, tetapi lupa bahwa setiap kursi membawa beban; tertarik pada kewenangannya, tetapi kurang tertarik pada tanggung jawabnya.

Padahal, dalam organisasi yang dibangun dari gagasan, kemampuan berpikir adalah bagian penting dari pengabdian. Orang yang mendapatkan amanah tidak cukup hanya hadir dalam rapat dan menikmati atribut jabatan. Ia perlu membawa gagasan, memecahkan persoalan, menggerakkan kader, membangun jaringan, dan meninggalkan sesuatu yang membuat Muhammadiyah lebih kuat daripada sebelum ia menerima amanah. Seseorang boleh maju karena Muhammadiyah. Tetapi jangan sampai setelah dirinya maju, Muhammadiyah justru tidak memperoleh apa-apa dari kemajuan itu.

Jangan-Jangan yang Tekor Justru Muhammadiyah

Ahmad Dahlan memberi kita cermin yang sederhana. Ia tidak menunggu Muhammadiyah menjadi besar untuk kemudian memberikan sesuatu. Justru keberaniannya memberikan sesuatu menjadi salah satu energi yang membuat Muhammadiyah dapat tumbuh. Ketika kebutuhan sekolah dan pembiayaan guru mendesak, ia rela mengorbankan harta miliknya. 

Di situlah barangkali letak perbedaan cara pandang. Kita hari ini mungkin lebih mudah bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari Muhammadiyah?” Ahmad Dahlan justru memberi teladan dengan pertanyaan yang berbeda: “Apa yang harus saya lakukan agar Muhammadiyah tetap memberi manfaat?”

Maka jangan sampai kita terbalik. Kita sibuk menghitung uang yang telah dikeluarkan, waktu yang telah digunakan, tenaga yang telah dicurahkan, atau kesempatan yang mungkin hilang. Tetapi kita lupa menghitung apa yang telah Muhammadiyah berikan kepada kita: ruang belajar, pengalaman, persaudaraan, kepercayaan, jaringan, kesempatan beramal, dan ruang untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Bukankah Muhammadiyah terus menyediakan ruang, membangun amal usaha, mengader, memberi kepercayaan, dan membuka kesempatan untuk berbuat. Sementara sebagian orang justru lebih sibuk memastikan kepentingannya sendiri tetap terlayani.

Di titik ini, cara pandang kita perlu dibalik. Muhammadiyah boleh menjadi tempat kita bertumbuh, tetapi pertumbuhan itu semestinya kembali menjadi kekuatan bagi Muhammadiyah dan kemanfaatan bagi masyarakat. Yang memiliki gagasan, berikan gagasan. Yang memiliki keahlian, berikan keahlian. Yang memiliki waktu, berikan waktu. Yang memiliki tenaga, berikan tenaga. Yang memiliki kemampuan material, gunakan secara bijaksana untuk kemaslahatan.

Sebab bermuhammadiyah bukan soal siapa yang paling banyak mengeluarkan, lalu menagih pengembalian. Bermuhammadiyah adalah soal bagaimana apa yang kita miliki menjadi lebih berarti karena digunakan untuk sesuatu yang melampaui diri sendiri. Uang bisa habis, jabatan bisa berakhir, tenaga bisa melemah, dan usia akan sampai pada batasnya. Tetapi gagasan dapat diteruskan, kader dapat tumbuh, amal dapat berkembang, dan manfaat dapat berjalan jauh setelah kita tidak lagi berada di dalamnya.

Karena itu, saatnya kita cerahkan pikiran, kita ikhlaskan hati dalam bermuhammadiyah. Jangan membawa terlalu banyak kalkulasi material ke dalam ruang pengabdian. Jangan menjadikan Muhammadiyah sebagai tempat mengambil manfaat, sementara diri kita sibuk menghitung apa yang telah kita keluarkan.

Jangan sampai kita merasa paling banyak memberi, padahal boleh jadi kita justru lebih banyak menerima. Jangan sampai merasa tekor. Sebab boleh jadi, dengan merasa tekor, kita sedang mengecilkan sendiri keuntungan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, yang penting bukan berapa banyak yang kita bawa pulang dari Muhammadiyah, tetapi apa yang tetap tumbuh di Muhammadiyah setelah kita pergi.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bahaya Perangai “Feodal” dalam Tubuh Persyarikatan Oleh: Revvina Agustianti Subroto, Ke....

Suara Muhammadiyah

21 January 2025

Wawasan

Kontroversi KUHAP Baru dan Pertarungan Legitimasi di Ruang Publik Digital Penulis: Mukhlish Muhamma....

Suara Muhammadiyah

14 January 2026

Wawasan

Iman dan Arah Kemajuan Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta  Sulit bagi ....

Suara Muhammadiyah

21 November 2025

Wawasan

Kematian Kreativitas Bernama "CPNS" Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Saw....

Suara Muhammadiyah

2 June 2026

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Baru-baru ini Menko PMK Muhadjir Effendy mewacanakan larangan haji lebih dari s....

Suara Muhammadiyah

15 September 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah