Tentang Sukatani dan Kerinduan akan Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur
Oleh: Nia nur Pratiwi,S.Pd,M.M, Ketua IMM Jawa Tengah 2024-2026
“Di dalam otak mereka hanyalah kekuasaan
Di dalam hati mereka tak ada kepuasan
Di dalam cara mereka terpampang kedzaliman
Di dalam harap mereka cahaya kemenangan.”
(Gelap Gempita, Sukatani)
Lirik di atas bukan sekadar bait puisi gelap, melainkan teriakan hati yang terpatri dari realitas sosial. Sukatani, band asal Purbalingga dengan genre punk-wave yang garang, hadir bukan untuk menghibur, tetapi untuk menggugah.
Di tengah gemuruh musik pop yang kerap mengumbar kisah cinta, mereka memilih menjadi suara yang menantang: mengkritik sistem, mengecam ketidakadilan, dan membongkar borok-borok kekuasaan.
Namun, eksistensi mereka justru dipersempit oleh tekanan institusi—sampai-sampai vokalisnya dipecat dari pekerjaannya sebagai guru. Bukankah ini ironi? Di negeri yang konon menjunjung demokrasi, mengapa suara kritis dianggap sebagai ancaman? Padahal Kritik bukan tentang benci, tapi tentang cinta yang tak pernah padam pada negeri.
Musik sebagai Medium Dakwah: Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Seni
Dalam Islam, seni bukanlah entitas yang kosong dari nilai. Sejarah dakwah Nabi Muhammad ﷺ mencatat bagaimana syair-syair seperti qasidah dan nasyid digunakan untuk menyebarkan pesan tauhid dan keadilan. Bahkan, dalam Sahih Bukhari, diceritakan bagaimana Rasulullah ﷺ memuji Hassan bin Tsabit, penyair yang membela Islam dengan syair-syairnya: “Sesungguhnya Allah ﷻ membela Rasul-Nya melalui lisan Hassan.” (HR. Bukhari). Seni adalah alat untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar—seruan kepada kebaikan dan penolakan terhadap kemungkaran.
Dalam konteks seni musik,di dunia islam banyak contoh ketika musik dijadikan alat untuk perlawanan terhadap penindasan,misalnya di asia selatan ada musik Qawwali (musik Sufi) yang digunakan untuk melawan kekejaman penguasa. Penyair sufi Bulleh Shah (abad ke-18) mengecam feodalisme, salah satu syair mereka berbunyi "Raja-raja menindas rakyat dengan pajak, Tapi tak ada yang bisa mencuri cahaya Ilahi dari hati kami." Yang mencerminkan prinsip Quran "Kekuasaan hanyalah milik Allah." (QS. Al-An’am: 57).
Di Yaman, gambus (alat musik tradisional) digunakan untuk menyanyikan syair-syair perlawanan terhadap rezim korup, salah satu Penyair mereka, Abdulrahman Al-Abnubi menulis "Jika penguasa mencuri roti rakyat, Maka palu keadilan harus menghancurkan singgasananya." Syair ini secara langsung menggemakan sabda Nabi ﷺ "Barangsiapa diangkat menjadi pemimpin, lalu ia menutup pintu bagi orang miskin dan tertindas, maka Allah akan menutup pintu langit untuknya." (HR. Ahmad)
Di Palestina, grup nasyid seperti Izzatul Islam menggubah lagu-lagu bertema perjuangan melawan penjajahan Israel, yang salah satu liriknya berbunyi "Batu-batu di tangan kami adalah senjata, Darah syuhada adalah harga kemerdekaan. Secara tidak langsung menjadi musik yang menginspirasi intifada.
Lagu “Bayar, Bayar, Bayar” karya Sukatani, yang menjadi soundtrack protes mahasiswa baru-baru ini, dapat dinilai sebagai bagian dari dakwah sosial apalagi kedua personilnya beragama Muslim. Tentu saja, Kritik terhadap institusi dan kesewenang-wenangan penguasa bukanlah tindakan subversif, melainkan panggilan moral yang selaras dengan firman Allah:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).
Jika musik dengan lirik kritis seperti ini dibungkam, lalu di mana ruang bagi rakyat untuk bersuara?
Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur: Mimpi yang Tertunda
Konsep Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur (negeri yang baik dan penuh ampunan Tuhan) dalam Quran (QS. Saba’: 15) bukanlah utopia ala Thomas moore. Ia adalah visi masyarakat yang adil, sejahtera, dan bermartabat—di mana pemimpin dan aparatus tak hanya berkuasa, tetapi juga melayani. Sayangnya, mimpi ini terkubur oleh praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) yang menggerogoti sendi-sendi keadilan.
Allah ﷻ tegas mencela tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 188).
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan: “Barangsiapa yang kami angkat untuk suatu jabatan, lalu ia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu, maka itu adalah ghulul (pengkhianatan).” (HR. Muslim).
Ironisnya, di Indonesia, korupsi, kolusi, dan nepotisme justru dinormalisasi. Hukum seringkali tumpul ke atas namun tajam ke bawah bahkan untuk menjadi penegak ataupun berurusan dengan hukum saja kita perlu bertanya “wani piro”.
Membungkam Kritik: Pengkhianatan terhadap Amanah Keadilan
Ketika Sukatani dipaksa meminta maaf dan vokalisnya dipecat, kita diingatkan pada kisah Nabi Musa yang berani menantang Fir’aun. Dalam Quran, Musa berkata: “Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” (QS. Thaha: 25-28). Musa tak gentar meski ancaman datang dari penguasa zalim.
Mengapa hari ini suara kritis justru dianggap musuh? Bukankah Islam mengajarkan syura (musyawarah) dan ‘adalah (keadilan)? Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah…” (QS. Al-Maidah: 8).
Membungkam kritik sama saja dengan membunuh prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Jika institusi merasa tersinggung, evaluasilah diri, jangan malah membungkam suara rakyat.
Kerinduan yang Tak Pernah Padam
Kita semua merindukan Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofur, tetapi visi itu tak akan terwujud tanpa perjuangan.
Islam sudah mengajarkan formula untuk menjadi tidak apatis ditengah kemungkaran , sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Musik Sukatani adalah bentuk “perbuatan dengan lisan”. Jika hari ini suara mereka dibungkam, esok akan muncul seribu suara lain. Sebab, kerinduan akan keadilan tak pernah mati—ia abadi, seperti firman Allah:
“Kebenaran telah datang, dan yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’: 81).
Sekali lagi, Seni musik dalam Islam tidak sekadar hiburan, tetapi jihad bil lisan (perjuangan dengan lisan). Ia mengingatkan kita pada kisah Nabi Dawud ﷺ yang diberi keahlian bermusik oleh Allah (QS. Saba’: 10), atau Nabi Musa ﷺ yang berdoa: "Lepaskanlah kekakuan lidahku" (QS. Thaha: 27) agar bisa berbicara melawan Fir’aun. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
"Sebaik-baik jihad adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim." (HR. Abu Dawud).Seni musik yang melawan penindasan adalah manifestasi dari prinsip ini. Ia bukan pengkhianatan terhadap moral dan etika, tapi panggilan untuk tegaknya ‘adalah (keadilan) dan ihsan (kebaikan universal).