Jatah Hidup Terbatas, Jangan Sampai Melampaui Batas

Suara Muhammadiyah

7 March 2026

663
dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Cris

dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Penyesalan terbesar umat manusia apabila telah meninggalkan bumi selamanya. Satu hal yang menjadi penyesalan itu adalah ingin dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh (Qs Al Mu’minun ayat 99–100).

Kata Agus Taufiqurrahman, ada juga yang sampai berdengking. Pun ada pula berkehendak supaya ada penangguhan kematian, dengan tujuan seperti tersebut tadi.

“Tentu kita tidak ingin seperti yang digambarkan itu. Ketika nanti sudah dipanggil, kita tidak dalam posisi yang kembalinya kepada Allah dengan bekal yang baik,” tuturnya.

Di sinilah pentingnya mengingat kematian, lalu mempersiapkan diri pasca-kematian itu. Yang demikian itu, menjadi kategorisasi orang cerdas menurut Rasulullah Saw (HR at-Timidzi).

“Orang yang mengingat kematian, ia akan menyadari bahwa hidup di dunia ini terbatas, ada akhirnya,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Ahad (8/3) saat Kajian Subuh di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Dengan menyadari terbatas, sudah seyogianya menggunakan waktu yang terbatas itu dengan baik. “Tidak menghambur-hamburkan (waktu),” sambung Agus. Ibarat sebuah rezeki yang melimpah, tanpa disadari menghamburkan tanpa berpikir panjang.

“Karena banyak stoknya. Mau beli apa pun cadangannya masih banyak,” ucapnya. Namun untuk konteks waktu, hal itu tidak bisa disepadankan. “Mesti berpikir panjang. Jatah hidup tidak seperti rezeki yang melimpah itu,” sambungnya.

Namun yang pasti, kematian menjadi keniscayaan. Dan itu merupakan rahasia Allah yang tidak bisa diprediksi kapan tibanya. “Kita tidak tahu kapan matinya,” bebernya. Bahkan, tiada seorang pun yang mampu menundanya, memajukan, bahkan mengundurnya sekali pun.

“Ketika kematian itu rahasia (datangnya tidak terduga), kalau datang tidak bisa ditunda, tentu kita harus kapan pun,” tegas Agus.

Di sinilah pentingnya untuk menguatkan jangkar keimanan dan keislaman dalam kehidupan. Mengingat seruaan Allah agar jangan sampai mati bukan dalam keadaan muslim yang baik (Qs ali-Imran ayat 102).

“Tidak boleh melepaskan satu segmen dari kehidupan lepas dari tuntunan Islam. Maka kita harus kawal betul agar kita berada di jalur muslim yang baik, tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak benar (melampaui batas),” pesannya.

Maka dari itu, pentingnya mempersiapkan diri sedari sekarang. Kuncinya selain taqarrub Ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), harus memberikan kemanfaatan kepada kehidupan sejagat.

“Maka bekal ke surga secara individual, tauhid kita menghasilkan pribadi yang saleh, akhlaknya bagus, tetapi secara sosial tauhid yang baik memberikan peran kepada masyarakat yang baik,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

GRESIK, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menggelar acara Yudisium Pa....

Suara Muhammadiyah

1 February 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah membe....

Suara Muhammadiyah

25 May 2024

Berita

MANADO, Suara Muhammadiyah — Suasana penuh semangat dan kekeluargaan terasa dalam kegiatan Kaj....

Suara Muhammadiyah

11 May 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Aktivitas fotografi di ruang publik selama ini dianggap wajar ....

Suara Muhammadiyah

3 November 2025

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Suasana cerah dan panas matahari tak menyurutkan ratusan siswa S....

Suara Muhammadiyah

17 February 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah