Kader Sarjana Wirausaha Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

2 August 2026

98
Kader Sarjana Wirausaha Muhammadiyah

Kader Sarjana Wirausaha Muhammadiyah

Kader Sarjana Wirausaha Muhammadiyah

Oleh: Hafidz Sirojuin 

Bertempat di Lantai 2 Ruang 201 PP Muhammadiyah Ahmad Dahlan Yogyakarta, Rabu 29 Juli 2026, dilakukan pentasyarufan Beasiswa Kader Sarjana Wirausaha Muhammadiyah 2025. Program pertama kali ini hasil kerja sama MPKSDI PP Muhammadiyah dengan Bank CIMB Niaga Syariah. Dana sebesar Rp 250.000.000 dibagikan kepada 50 Sarjana, masing-masing Rp 5 juta sebagai start-up atas berbagai rintisan usaha mikro dan kecil. 

Proses seleksi diawali dengan pengajuan Proposal Bisnis yang akan dirintis, sedang dan telah berjalan. Seleksi dilakukan sejak mereka menyelesaikan tugas akhir (skripsi) pada tahun 2025 oleh Tim Seleksi yang diketuai Dzar Albana, Wakil Sekretaris MPKSDI PPM. Dalam sambutan sebelum penyerahan simbolis, Ketua MPKSDI Bachtiar Dwi Kurniawan menyampaikan ucapan selamat kepada 10 perwakilan yang hadir dan terimakasih kepada CIMB Niaga Syariah serta Timsel yang telah bekerja dengan baik.

Gus Bach –panggilan akrab Bachtiar– menyatakan bahwa perkaderan di bidang wirausaha penting dilakukan untuk menyiapkan sedini mungkin kader persyarikatan yang berkhidmat di bidang bisnis, perdagangan dan kewirausahaan. Beliau juga mengatakan bahwa lapangan kerja formal bagi sarjana yang baru lulus semakin ketat. “Jangan melihat dari besaran beasiswa yang cuma Rp 5 juta, tetapi ini wujud komitmen MPKSDI untuk menciptakan kader-kader Saudagar Muhammadiyah di masa mendatang”. “Syukur bisa berhasil dan berkembang usahanya, jika gagal “ora popo” (tidak masalah), coba lagi sampai berhasil”, ujarnya dengan gaya khas seorang dosen kepada mahasiswanya.

Sebagaimana kita tahu bahwa standar ideal rasio pengusaha atau entrepreneur bagi negara maju umumnya berada di kisaran 12% hingga 14% dari populasi penduduk. Sedangkan untuk negara berkembang berada di minimal 4% sampai 5%. Di negara kita, masih berada di kisaran 3,1% hingga 3,3% dari jumlah penduduk Indonesia 288.315.089 jiwa (Pemutakhiran Data Kependudukan Bersih, Semester II tahun 2025). Dan sebagian besar pengusaha berada pada skala Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. 

Berdasarkan UU Cipta Kerja dan PP Nomor 7 tahun 2021, kriteria ukuran usaha dihitung dari Modal Usaha (di luar tanah dan bangunan) atau Hasil Penjualan Tahunan (omzet). Usaha Mikro: modal usaha maksimal Rp1 miliar atau omzet tahunan maksimal Rp2 miliar. Usaha Kecil: Modal Usaha lebih Rp1 miliar sampai Rp5 miliar, atau omzet lebih dari Rp2 miliar sampai Rp5 miliar. Usaha Menengah: Modal Usaha lebih dari Rp5 miliar hingga Rp10 miliar, atau omzet lebih dari Rp15 miliar sampai Rp50 miliar per tahun. Sedangkan untuk Usaha Besar, modal usaha atau omzet tahunan di atas skala Usaha Menengah (Rp50 miliar). 

Tulang punggung ekonomi nasional saat ini berada pada Usaha Mikro dan Kecil (UMK). UMK menyerap hampir 97% dari total tenaga kerja di Indonesia. Usaha Menengah menyerap tenaga kerja dalam jumlah sedang, dengan skala operasional lebih luas, manajemen lebih terstruktur dengan baik, serta menggunakan teknologi yang lebih modern. Jumlah UMKM mencapai 99% unit usaha, dimana Usaha Menengah (0,8-0,9%) dan Usaha Besar (0,1-0,2%). 

Jika saat ini jumlah warga (kader, anggota, pimpinan, pengelola AUM, simpatisan) persyarikatan sebanyak 60 juta orang, setidaknya dibutuhkan komunitas kader/anggota/pimpinan/pengelola AUM dan BUMM/BUM-WM/BUM-AUM yang memiliki jiwa entrepreneurship dan berideologi Muhammadiyah sebanyak 2,4 juta (4%) hingga 6 juta (10%) orang entrepreneur (saudagar, pedagang, pebisnis, industriawan, bakul pasar, kaum profesional pengelola AUM/BUMM/ BUM-AUM, BPRS/BTM/KSPPS/KSU, dll.). Entrepreneurship (kewirausahaan) adalah proses menciptakan, mengembangkan dan mengelola usaha dengan menggabungkan nilai kejujuran, keadilan, fairness, kesabaran dan ketekunan, serta unsur keterampilan, kreativitas, inovasi, mampu melihat peluang, dan keberanian mengambil resiko demi mendapatkan manfaat (benefit), keuntungan (profit) dan nilai tambah (value added).

Para asabiqul awwalun Muhammadiyah, banyak yang memiliki latar belakang profesional sebagai pedagang yang berjiwa entrepreneurship dan welas asih. Sehingga mampu membentuk ruhul jihad (semangat berjuang) bagi segenap kader/anggota/warga persyarikatan untuk memberikan harta, aset, pemikiran, waktu dan jiwa raga terbaik secara optimal kepada Muhammadiyah. Semangat memberi dan berbagi yang dipadukan dengan jiwa entrepreneurship ini telah melandasi budaya kemandirian organisasi. Satu pitutur mashur pernah disampaikan KH. Ahmad Dahlan dan diamalkan oleh segenap kader, anggota, pimpinan, warga persyarikatan hingga sekarang: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah”.

Selain sebagai pendakwah (kyai, mubaligh), banyak pendiri organisasi ini memiliki profesi sebagai pedagang, pebisnis dan saudagar. Diantaranya: KH. Ahmad Dahlan (pedagang batik); Haji Fachrodin –nama kecil Mohammad Jazuli– pendiri Suara Muhammadiyah, industriawan dan perdagangan batik, perhotelan syariah, pers dan percetakan, jasa pelayanan haji, dan industri sigaret kretek Tjap Merak; KH. Faqih Usman (Ketua Persekutuan Dagang Sekawan Gresik, pedagang alat-alat bangunan dan galangan kapal), KH. Syuja’ –nama kecil Danil– adalah inisiator berdirinya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) dan penggagas subsidi silang dalam pelayanan medis, dimana pasien mampu membantu pembiayaan pasien tidak mampu. 

Fakta sejarah telah membuktikan bahwa seorang pedagang pasar tradisional atau sepasang petani padi dan palawija, atau petambak pembudidaya ikan mampu melahirkan banyak anak menjadi dosen, guru, profesor, tentara, polisi, insinyur, DPR/DPRD, menteri, ustad, pilot, ASN, pejabat pemerintah, dokter, paramedis, direktur perusahaan (BUMN/BUMD/Swasta), serta beragam jabatan profesional lainnya. Tetapi seorang polisi, guru besar atau pejabat birokrat belum tentu mampu melahirkan seorang pedagang pasar, petani atau petambak yang handal.

Program perdana yang diinisiasi MPKSDI PP Muhammadiyah ini wajib disyukuri dan dikembangkan secara berkelanjutan di masa mendatang. Di tengah arus perubahan politik dan ekonomi global yang bergerak sangat cepat, Muhammadiyah dituntut bergerak secara cepat dan tepat untuk melakukan hijrah maknawiyah dalam menyiapkan semakin banyak kader yang berideologi Muhammadiyah, memiliki sense of entrepreneurship yang jujur dan berperadaban unggul: mandiri, profesional (sesuai profesi), modern (kekinian), progresif, inovatif, tangguh-tanggap-tanggon, berkemajuan. Jangan sampai kita lalai atau abai menyiapkan kader entrepreneur pengelola AUM dan BUMM yang baik, sehingga membuka kesempatan bagi pengelola melakukan mal-praktek dan mal-administrasi. 

Bukan tidak mungkin, aset persyarikatan yang sangat besar dimanfaatkan segelintir oknum Kapitalis Birokrat (Kabir) alias Peng-Peng (Penguasa sekaligus Pengusaha) yang berhasil menyusup dan “macak” sebagai seorang yang terlihat alim saleh secara ritual personal. Jangan sampai persyarikatan memberikan peluang dan kesempatan kepada mereka menyalahgunakan jabatan sebagai Pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan (Pusat sampai Ranting) untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. 

Pada kegiatan pentasyarufan ini, Gus Bach (Ketua MPKSDI) didampingi Erik Tauvani (Wakil Bendahara), Dzar Albana (Wakil Sekretaris/Ketua Timsel), Hafidz Syirojudin (Kabid Perkaderan Komunitas) dan segenap anggota Timsel. Acara diakhiri dengan penyerahan secara simbolis kepada 2 perwakilan dari 50 penerima Beasiswa Sarjana Wirausaha Muhammadiyah 2025 dari wilayah DIY dan Jateng. 

Kafe Kemajoean SM Tower, 31 Juli 2026

 

  


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Jurgen Klopp  Membahas berita tantang berhentinya Jurgen Klopp sebagai Manajer Liverpool rasan....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024

Wawasan

Pentingnya Partisipasi Orangtua dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Oleh: Wakhidah Noor Ag....

Suara Muhammadiyah

26 September 2023

Wawasan

Kajian Implikatur untuk Kenali Makna Tersirat dalam Ujaran Bahasa Oleh: Abdul Latif, Dosen Pendidik....

Suara Muhammadiyah

31 July 2025

Wawasan

Pancasila: Dari Rekat Bangsa Menuju Damai Dunia Penulis: Amalia Irfani, LPPA PWA Kalbar/Dosen IAIN ....

Suara Muhammadiyah

1 June 2026

Wawasan

Cegah Kekerasan Seksual: Bangun Sistem Tegas dan Transparan Oleh: Evi Sofia Inayati, SPsi, Ketua Ma....

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah