Kado Milad Hutan Wakaf Berkemajuan 114 Hektare

Suara Muhammadiyah

19 October 2026

310
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Kolaborasi MLH PP Muhammadiyah bersama FOLU Net Sink 2030

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah — Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat (MLH PP) Muhammadiyah melakukan Kick Off kegiatan rehabilitasi lahan, penanaman, dan pemeliharaan pohon di delapan lokasi dengan total luas 114 hektare. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Muhammadiyah green Movement. Kegiatan ini akan berlangsung pada 2026–2028 tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia dalam kerangka Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah memperkuat konservasi lingkungan, memulihkan fungsi ekologis lahan, dan mendukung upaya penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

Kick off ini dilaksanakan di kawasan Hutan Wakaf Berkemajuan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (18/10/2026). Kegiatan ditandai dengan penanaman pohon secara simbolis oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Buya Anwar Abbas bersama Ketua MLH PP Muhammadiyah M. Azrul Tanjung. Keduanya didampingi jajaran Pimpinan Muhammadiyah dari PDM hingga PRM yang ada di Kab. Gunungkidul , tokoh masyarakat Gunungkidul serta perwakilan pemerintah setempat.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Majelis Lingkungan Hidup Muhammadiyah dari Sumatera Utara, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hadir pula Ecoforest Berkemajuan team yang merupakan peserta Training of Trainers (ToT) EcoKader dan EcoRevive berjumlah 50 peserta yang akan mengelola lahan di masing-masing lokasi program. kegiatan ditutup dengan Tausiyah Ekologis oleh Buya Anwar Abbas sekaligus penutupan pelatihan ToT EcoKader dan EcoRevive yang telah berlangsung pada 16–18 Oktober 2026.

Hutan Wakaf Berkemajuan Jadi Kado Milad ke-114 Muhammadiyah

Buya Anwar Abbas mengatakan, pengembangan Hutan Wakaf Berkemajuan merupakan bagian dari kontribusi Muhammadiyah dalam memperingati Milad ke-114 melalui aksi nyata pelestarian lingkungan.

“Hutan Wakaf Berkemajuan ini menjadi bagian dari kado Milad ke-114 Muhammadiyah. Kita akan menanam di lahan seluas 114 hektare yang tersebar di delapan titik di Indonesia,” kata Buya Anwar.

Menurut dia, keberhasilan program penghijauan tidak cukup diukur dari jumlah pohon yang ditanam. Hal yang lebih penting adalah memastikan pohon dapat bertahan hidup, tumbuh dengan baik, dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

“Pohon-pohon ini harus dipastikan hidup. Jangan hanya ditanam, kemudian tidak dirawat. Kita harus menggunakan ilmu, memilih bibit yang tepat, menanam dengan benar, menyediakan pengairan, dan merawatnya dengan baik,” ujarnya.

Buya Anwar menekankan, rehabilitasi lahan harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi ekologis setiap wilayah. Pemilihan jenis tanaman, kualitas bibit, teknik penanaman, ketersediaan air, dan pemeliharaan pascatanam menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program.

Hal tersebut relevan dengan kondisi Gunungkidul yang memiliki karakteristik lahan berkapur dan sejumlah kawasan yang menghadapi keterbatasan air. Karena itu, kegiatan penghijauan membutuhkan perencanaan yang matang, terutama dalam menentukan jenis tanaman dan sistem pengelolaan air yang sesuai.

Kawasan Hutan Wakaf Berkemajuan Gunungkidul seluas dua hektare akan dikembangkan menjadi kawasan konservasi dan agroforestry. Kawasan ini juga dilengkapi saung dan sistem irigasi otomatis serta dikembangkan sebagai hutan pendidikan atau edu forest.

Pengembangan tersebut diharapkan menjadikan kawasan hutan wakaf berkemajuan tidak hanya berfungsi sebagai ruang penghijauan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan konservasi bagi sekolah dan masyarakat. Melalui pendekatan ini, upaya pemulihan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan literasi ekologis dan dakwah lingkungan.

Delapan Lokasi Rehabilitasi Lahan

Ketua MLH PP Muhammadiyah M. Azrul Tanjung mengatakan, pengalaman pengelolaan Hutan Wakaf Berkemajuan di Gunungkidul menjadi salah satu rujukan untuk memperluas gerakan konservasi Muhammadiyah ke berbagai daerah.

“Gunungkidul kita jadikan percontohan Hutan Wakaf Berkemajuan di Indonesia. Pengembangannya akan menjangkau delapan titik, termasuk Banyumas, Lampung, Bengkulu, Banten, dan Sumatera Utara,” kata Azrul.

Delapan lokasi tersebut meliputi Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Banyumas di Jawa Tengah, Kabupaten Lebak di Banten, Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Lampung Selatan di Provinsi Lampung, Provinsi Bengkulu, Kabupaten Deli Serdang, serta Kabupaten Tapanuli Selatan di Sumatera Utara.

Dari delapan lokasi tersebut, masing-masing dua titik berada di Provinsi Lampung dan Sumatera Utara. Adapun empat titik lainnya berada di Gunungkidul, Banyumas, Lebak, dan Bengkulu.

Secara keseluruhan, program ini mencakup lahan seluas 114 hektare yang akan dikembangkan melalui kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon selama periode 2026–2028.

Azrul menjelaskan, MLH PP Muhammadiyah telah menjalankan berbagai kegiatan lingkungan bersama PDM Gunungkidul. Pengalaman tersebut menjadi modal untuk memperkuat pengelolaan kawasan, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan mengembangkan model konservasi yang dapat disesuaikan dengan kondisi ekologis setiap daerah.

Ia mendorong keterlibatan masyarakat dalam seluruh tahapan rehabilitasi lahan, mulai dari penyediaan bibit dan penanaman hingga pemeliharaan serta pemantauan pertumbuhan pohon.

“Kita mendorong umat ikut menanam sekaligus merawat pohon. Partisipasi itu perlu berlanjut setelah bibit ditanam agar pohonnya tumbuh dan memberikan manfaat,” ujarnya.

Menurut Azrul, keberlanjutan program sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dan kesiapan pengelola di setiap lokasi. Karena itu, pengembangan Hutan Wakaf Berkemajuan perlu didukung pengorganisasian masyarakat, peningkatan kapasitas kader, dan mekanisme pemantauan yang terukur.

Dukung FOLU Net Sink 2030

Program rehabilitasi lahan seluas 114 hektare ini dilaksanakan MLH PP Muhammadiyah bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, dengan dukungan pendanaan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dalam kerangka Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

FOLU Net Sink 2030 merupakan agenda nasional yang menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan mampu menyerap emisi gas rumah kaca lebih besar daripada emisi yang dihasilkannya pada 2030.

Dalam kerangka tersebut, Muhammadiyah Green Movement diarahkan untuk mendukung pemulihan tutupan vegetasi dan fungsi ekologis lahan melalui penanaman yang disertai pemeliharaan secara berkelanjutan.

Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari luas lahan yang direhabilitasi, tetapi juga dari tingkat keberhasilan tumbuh tanaman, keberlanjutan tutupan vegetasi, dan manfaat ekologis yang dihasilkan.

Pengembangan Hutan Wakaf Berkemajuan dilakukan melalui dua pendekatan. Pertama, pengembangan hutan pada lahan wakaf Muhammadiyah dengan dukungan pendanaan pemerintah atau mitra donor. Kedua, pengembangan hutan pada lahan milik pemerintah atau masyarakat melalui pendampingan dan fasilitasi MLH PP Muhammadiyah bersama Majelis Lingkungan Hidup tingkat wilayah dan PDM. Pelaksanaannya disesuaikan dengan status kepemilikan dan dasar pemanfaatan setiap lahan, serta didukung pendanaan pemerintah atau mitra donor.

Kedua pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat model konservasi yang mengintegrasikan pengelolaan lahan, partisipasi masyarakat, penguatan kelembagaan, dan keberlanjutan pembiayaan.

EcoKader dan EcoRevive Perkuat Kapasitas Pengelola

Pelaksanaan Muhammadiyah Green Movement turut diperkuat melalui pelatihan ToT EcoKader dan EcoRevive pada 16–18 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan 36 peserta dari perwakilan Majelis Lingkungan Hidup tingkat wilayah dan PDM yang berasal dari delapan lokasi program.

Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas kader dan tim Ecoforest Berkemajuan dalam melaksanakan rehabilitasi lahan serta pemeliharaan pohon. Penguatan kapasitas juga mencakup pengelolaan kawasan, pelibatan masyarakat, dan pengembangan kegiatan pendidikan lingkungan.

Tim Ecoforest Berkemajuan akan menjadi pelaksana penting di masing-masing lokasi. Mereka diharapkan mampu mengoordinasikan penanaman dan pemeliharaan pohon, membangun kolaborasi dengan struktur Muhammadiyah setempat, serta memastikan pengelolaan lahan berlangsung secara berkelanjutan.

Keterlibatan kader dari berbagai daerah juga diharapkan membentuk jaringan gerakan konservasi Muhammadiyah yang saling terhubung. Dengan demikian, pengalaman dan praktik baik dari Gunungkidul maupun lokasi lainnya dapat dibagikan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Selain mendukung rehabilitasi lahan, Hutan Wakaf Berkemajuan diarahkan menjadi kawasan edu forest yang dapat dimanfaatkan oleh sekolah, pesantren, perguruan tinggi, kader Muhammadiyah, dan masyarakat untuk mempelajari konservasi lingkungan.

Kawasan tersebut diharapkan menjadi ruang pembelajaran mengenai hubungan antara hutan, tanah, air, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim. Dengan demikian, gerakan penanaman pohon tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi fisik lahan, tetapi juga pada pembentukan kesadaran dan perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Melalui Tausiyah Ekologis pada penutupan kegiatan, Buya Anwar Abbas menegaskan pentingnya menjadikan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam. Menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang perlu diwujudkan melalui pengetahuan, keteladanan, dan tindakan nyata.

Bagi Muhammadiyah, pengembangan Hutan Wakaf Berkemajuan merupakan bagian dari dakwah ekologis yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan perlindungan lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui program Muhammadiyah Green Movement 2026–2028, MLH PP Muhammadiyah berharap lahan-lahan yang dikelola Persyarikatan dapat memberikan manfaat ekologis dan sosial secara berkelanjutan. Dengan cakupan 114 hektare di delapan lokasi, program ini diharapkan turut memperkuat gerakan konservasi Muhammadiyah sekaligus mendukung upaya nasional menghadapi perubahan iklim.

Gerakan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak berhenti pada penanaman, tetapi ditentukan oleh komitmen untuk memelihara dan memastikan pohon tumbuh serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam sebuah riset yang dilakukan MOSAIC tahun 2022 mendapati te....

Suara Muhammadiyah

19 February 2025

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh siswa SMP Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

18 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tim Program Kosabangsa Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UM ....

Suara Muhammadiyah

14 October 2025

Berita

BLANG KEJEREN, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh A. Malik Musa bes....

Suara Muhammadiyah

2 February 2024

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah - Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) hadiri forum rektor perguru....

Suara Muhammadiyah

23 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah