Kejujuran Batin dan Amanah Kepemimpinan

Publish

7 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
197
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kejujuran Batin dan Amanah Kepemimpinan

Oleh: Dr. Edy Nurcahyo, S.H., M.H., Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Buton

Dalam kehidupan modern, kepemimpinan kerap dinilai dari apa yang tampak di permukaan: kelancaran komunikasi, kecakapan manajerial, dan kemampuan menjaga citra di ruang publik. Padahal, fondasi paling menentukan dari sebuah amanah kepemimpinan justru terletak pada sesuatu yang tidak terlihat, yakni kejujuran batin. Ketika integritas hanya diukur dari pengakuan manusia, ia menjadi rapuh dan mudah tergelincir. Di titik inilah Al-Qur’an mengarahkan pandangan manusia ke ruang yang lebih dalam, tempat amanah diuji tanpa sorotan.

Al-Qur’an menawarkan ukuran yang lebih dalam dan menenangkan. Dalam Surah At-Tariq ayat 9-10, Allah mengingatkan tentang suatu fase kehidupan yang tak terelakkan: “Pada hari ketika segala rahasia disingkapkan. Maka manusia tidak memiliki kekuatan dan tidak pula penolong.” Ayat ini menggeser fokus manusia dari pencitraan lahiriah menuju kejujuran batiniah.

Kata as-sara’ir (segala rahasia) tidak hanya menunjuk pada kesalahan besar yang disembunyikan, tetapi juga niat, motif, dan orientasi batin di balik tindakan yang tampak baik. Dunia memberi ruang luas bagi manusia untuk menyembunyikan banyak hal, bahkan sering kali mengapresiasi mereka yang piawai melakukannya.

Di sinilah Al-Qur’an meletakkan ujian integritas. Selama rahasia masih dapat disimpan, kejujuran belum tentu teruji. Seseorang bisa tampak benar di hadapan publik, namun belum tentu jujur di hadapan nuraninya sendiri. Integritas sejati justru tumbuh dalam ruang sunyi, ketika tidak ada tuntutan untuk terlihat baik.

Bagi pemimpin, akademisi, dan siapa pun yang memikul amanah, kesadaran ini menjadi sangat relevan. Jabatan dan otoritas sering kali menciptakan ilusi bahwa yang penting adalah persepsi, bukan substansi. Padahal, ayat ini mengingatkan bahwa yang tersembunyi hari ini tidak akan selamanya tersembunyi.

Ayat berikutnya menegaskan bahwa pada hari terbukanya rahasia itu, manusia tidak memiliki quwwah (kekuatan) dan nashir (penolong). Semua yang selama ini menjadi sandaran: jabatan, pengaruh, jaringan sosial, bahkan reputasi keagamaan, semua itu tidak lagi memiliki daya guna.

Pesan ini mengandung koreksi mendasar terhadap cara manusia memaknai kekuasaan dan keberhasilan. Dunia sering kali menilai seseorang dari posisinya, sementara Al-Qur’an menilai dari kejujurannya. Ketika sandaran dunia runtuh, yang tersisa hanyalah rekam jejak moral yang selama ini tersembunyi.

Dalam konteks kepemimpinan, ayat ini menumbuhkan sikap rendah hati. Kekuasaan bukan jaminan keselamatan moral, dan popularitas bukan perlindungan dari pertanggungjawaban. Kesadaran ini justru melahirkan kepemimpinan yang tenang, tidak reaktif, tidak defensif, dan tidak terjebak pada pencitraan.

Melalui tafakur atas ayat ini, kita memahami bahwa tidak semua rahasia dibuka di dunia. Ketidakadilan yang tampak dibiarkan, kejujuran yang tidak diapresiasi, serta kepura-puraan yang seolah aman, sering kali menimbulkan kegelisahan. Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa penundaan bukanlah pembiaran.

Allah menunda pembukaan rahasia karena dunia adalah ruang ujian, bukan ruang vonis. Justru karena kebenaran tidak selalu segera terungkap, maka keikhlasan dan integritas memiliki makna. Jika semua langsung dibuka, kejujuran tidak lagi menjadi pilihan melainkan keterpaksaan.

Pemahaman ini menenangkan jiwa. Ia membebaskan manusia dari obsesi pembenaran diri dan dorongan untuk selalu terlihat benar. Fokus berpindah dari penilaian manusia menuju kejujuran di hadapan Allah.

QS At-Tariq ayat 9-10 mengajak manusia membangun integritas yang tidak bergantung pada pengawasan eksternal. Integritas yang tidak sibuk mempertahankan citra, tetapi konsisten menjaga niat. Integritas yang tidak bising di ruang publik, tetapi kokoh di ruang batin.

Bagi insan beriman, terutama mereka yang terlibat dalam gerakan organisasi, dan kepemimpinan, kesadaran ini menjadi fondasi etis yang penting. Amanah bukan sekadar tentang keberhasilan program, tetapi tentang kejujuran proses. Bukan hanya tentang apa yang dicapai, tetapi bagaimana dan dengan niat apa semua itu dijalankan.

Pada akhirnya, ayat ini mengingatkan bahwa akan datang suatu hari ketika semua topeng dilepaskan. Pada saat itu, yang berbicara bukan lagi narasi, melainkan kebenaran. Kesadaran akan hari itu yang semestinya menuntun manusia untuk hidup lebih jujur, lebih tenang, dan lebih bertanggung jawab sejak sekarang.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mubalig Hijrah, Kaderisasi dan Dakwah Global Oleh: Elis Zuliati Anis, Dosen Universitas Ahmad Dahla....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024

Wawasan

Wahai Guru, Mendidiklah dengan Cinta Oleh: Dr. Husamah, S.Pd., M.Pd., Wakil Dekan I FKIP Universita....

Suara Muhammadiyah

13 November 2025

Wawasan

Tanggapan atas putusan Mahkamah Konstitusi tentang Syarat Usia Capres-Cawapres Oleh: Dr. phil. Ridh....

Suara Muhammadiyah

17 October 2023

Wawasan

Pengembangan Bisnis Muhammadiyah Oleh: Saidun Derani Berbisnis itu adalah kegiatan di mana seseora....

Suara Muhammadiyah

28 May 2024

Wawasan

Usia Aisyah & Bani Quraizhah: Sebuah Kajian Ulang Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buda....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025