Kepada Siapakah Tuhan Berpihak: Trump, Netanyahu, atau Khamenei?

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
200
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Kepada Siapakah Tuhan Berpihak: Trump, Netanyahu, atau Khamenei?

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi – Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso

Perang antara Iran melawan Amerika dan Israel menimbulkan keriuhan yang luar biasa di media sosial. Ini bukan kali pertama saya membaca berita tentang perang di Timur Tengah yang melibatkan campur tangan negara-negara adidaya. Dahulu, saya hanya biasa melihat berita dari koran, radio, dan televisi. Sekarang, peran media arus utama tersebut sudah kalah jauh dibandingkan dengan kecepatan informasi yang tersebar di media sosial.

Saking banyaknya informasi yang terpasok, saya harus sangat berhati-hati dalam memilih dan memilah mana di antara sekian banyak informasi tersebut yang benar-benar nyata, alias bukan produk kecerdasan artifisial. Apalagi jika informasi yang disajikan disertai gambar atau video. Saya harus berusaha ekstra keras untuk membedakan apakah video dan gambar yang beredar itu palsu atau asli. Ada yang sudah sangat bersuka cita atas kabar tentang tewasnya seorang kepala negara, padahal ternyata informasi itu bersumber dari berita bohong hasil rekayasa kecerdasan artifisial.

Saya intens mengamati beragam sikap yang muncul atas perang ini. Bagi mereka yang berpihak kepada salah satu pihak, biasanya hanya akan membaca informasi yang dianggap meneguhkan keberpihakannya. Ia mengabaikan informasi lain yang dianggap tidak mendukung sikapnya. Misalnya, bagi yang fanatik mendukung Amerika dan Israel, mereka akan berusaha keras untuk hanya membaca informasi yang memberitakan keunggulan keduanya. Dengan sukacita, mereka membaca informasi tentang kehancuran pihak lawan (Iran), lalu menyebarkannya secara masif.

Demikian pula bagi mereka yang bersikap kontra dan begitu fanatik mendukung Iran. Sikap yang sama juga dilakukan secara sempurna. Tidak peduli apakah sumber berita yang mereka sebarkan itu benar atau tidak, hasil buatan AI atau benar-benar hasil rekaman video yang mereka peroleh secara nyata dari lapangan. Seperti biasa, sikap fanatik acap kali membutakan mata dan menutup telinga dengan sangat rapat.

Meski demikian, selain cerminan atas dua sikap di atas, banyak pula yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan informasi nyata yang dianggap benar-benar merepresentasikan kejadian sebenarnya yang berhasil diliput dari lapangan. Biasanya, mereka berusaha mendapatkannya dari media arus utama. Mereka berasumsi bahwa media tersebut akan memberitakan kejadian secara netral, berimbang, dan memenuhi standar cover both sides.

Di tengah industri media yang dimiliki oleh para pemodal yang juga memiliki banyak kepentingan atas peristiwa apa pun yang terjadi di bumi ini, adakah media yang bersikap netral dan memberitakan kejadian hanya berdasarkan kenyataan di lapangan? Mungkin ada, meskipun pembaca harus benar-benar membaca semua informasi dengan sangat cermat, seperti mencari jarum di tengah jerami. Itu adalah cerita tentang bagaimana seseorang mencari dan membaca sebuah berita. Bacaan tersebut tentu akan memengaruhi sikap yang diekspresikan oleh masing-masing orang, baik hanya di lingkungan kantor atau keluarga kecil maupun di ruang publik yang dapat diakses oleh siapa saja

Dalam kasus perang Iran melawan Amerika dan Israel ini, saya pun menjumpai beragam sikap yang diekspresikan melalui ucapan maupun tulisan di media sosial. Ada yang memaki-maki Trump dan Netanyahu. Menjuluki keduanya sebagai penjahat perang, dajjal dst, lengkap dengan mengatasnamakan Tuhan melalui lafaz “laknatullah”. Sikap itu biasanya dibarengi dengan memuji heroisme Khamenei sebagai korban yang lebih dahulu mendapatkan serangan. Namun, ada juga yang bersukacita ketika mendengar kabar bahwa Khamenei akhirnya menemui ajal akibat serangan rudal Amerika dan Israel, meskipun tidak sedikit pula yang sangat berduka dan mendoakan agar arwahnya tenang di surga.

Sekali lagi, dari satu peristiwa tunggal, selalu muncul beragam sikap yang bisa sangat bertolak belakang. Namun, saya juga menjumpai sikap yang menurut hemat saya agak berbeda dari lazimnya. Sikap itu tidak mencerminkan netralitas, tetapi lebih terkesan ketidakpedulian. Misalnya, saya menjumpai sikap dari seorang pesohor dari komunitas juru dakwah. Ketika ditanya bagaimana sikapnya atas perang Amerika dan Israel melawan Iran, dengan mantap ia menyatakan bahwa “keduanya sama-sama musuh Islam”! 

Saya tidak kaget, meskipun saya tidak sependapat dengan ungkapan tersebut. Namun, saya tetap harus membebaskan seseorang dalam mengungkapkan ekspresi pribadinya. Satu hal yang saya yakini, perang antara Iran melawan Amerika dan Israel ini bukanlah perang antarpara penganut agama. Bahwa saya memiliki kesamaan keyakinan keagamaan dengan salah satu pihak, mungkin benar. Namun, bukan atas nama kesamaan itulah keberpihakan saya berada.

Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi sikap seseorang atas perang ini. Ada yang menggunakan lafaz Allah untuk mengutuk salah satu pihak. Ada juga yang mengatasnamakan demi tegaknya keadilan, hak asasi manusia, kemanusiaan, demokrasi, serta keselamatan bangsa dan negara di bumi Tuhan. Semua alasan boleh mengemuka, namun tidak satu pun yang berani secara jujur mengemukakan bahwa perang itu terjadi karena hasrat untuk merebut dan menguasai sumber daya alam di negara lain. Kerakusan telah menuntun mereka untuk mengalahkan yang lain, lalu menguasai isi perut buminya.

Jika niat sebenarnya itu dinyatakan secara jujur, semuanya akan tampak jelas. Atas nama dan untuk apa pun perang itu, tujuan akhirnya adalah perebutan isi perut bumi. Sekalipun ada pihak yang membawa-bawa nama Tuhan, jika perang itu merupakan wujud dari kerakusan, maka jelas hal tersebut telah berlawanan dengan ajaran dasar Tuhan.

Kelak, ketika perang ini akhirnya dimenangkan oleh salah satu pihak, lalu apakah bisa disimpulkan bahwa Tuhan telah berpihak kepada pemenang? Ataukah dalam pertikaian di antara makhluk-Nya seperti ini Tuhan sejatinya tidak berpihak kepada salah satunya? Sebaliknya, bagi yang menderita kekalahan, apakah itu dapat disimpulkan sebagai hukuman Tuhan kepada yang bersangkutan? Sungguh, pertanyaan-pertanyaan ini terus muncul dan sulit sekali terjawab. Namun, saya tidak berani berprasangka buruk, meskipun tidak ada satu pun manusia yang mampu menjawabnya dengan penuh kepastian.

Di sisi lain, ada yang berpandangan, “Tuhan pasti berpihak pada kebenaran!” Lalu pertanyaan berikutnya, siapa yang benar dalam perang ini? Mengingat masing-masing pihak mengaku bahwa kelompoknyalah yang mewakili kebenaran. Saya yakin, atas dasar apa pun, baik Donald Trump, Benjamin Netanyahu, maupun Ali Khamenei juga mendaku sedang membela kebenaran. Lalu, siapa yang benar di mata Tuhan dalam hal ini? Saya pasti tidak akan pernah bisa menemukan jawaban pasti atas semua pertanyaan di atas.

Saya hanya ingin memahami pemikiran Ibnu Taimiyah mengenai prinsip dan ajaran tentang keadilan serta keberpihakan. Menurutnya, Allah mutlak Mahaadil dan keadilan-Nya tidak bergantung pada standar manusia. Allah juga tidak menzalimi siapa pun, bukan karena dipaksa oleh hukum di luar diri-Nya, melainkan karena kezaliman bertentangan dengan kesempurnaan sifat-Nya. Semua keputusan Allah mengandung hikmah (kebijaksanaan dan tujuan). Tidak ada takdir yang sia-sia. Bahkan musibah, kekalahan, atau penderitaan tetap berada dalam lingkup hikmah ilahiah, meskipun manusia tidak selalu mampu memahaminya.

Jadi, hemat saya, jika dalam perang ada satu pihak menang dan ada pihak lain kalah, hal itu tidak otomatis berarti Allah “berpihak” secara emosional sebagaimana manusia berpihak. Kemenangan dan kekalahan berjalan sesuai sunnatullah (hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan). Allah pasti bersama orang-orang yang beriman, bersabar, dan bertakwa.

Dalam pandangan Ibnu Taimiyah, kekalahan bukanlah otomatis hukuman. Setiap musibah atau kekalahan dapat bermakna ujian keimanan, pembersihan dosa, peningkatan derajat, atau konsekuensi dari kelalaian manusia itu sendiri. Dengan demikian, tidak setiap kekalahan adalah hukuman dan tidak setiap kemenangan merupakan tanda keridaan mutlak.

Kesimpulan penutup saya, pertanyaan tentang kepada siapa Tuhan berpihak, bukanlah soal siapa yang menang atau kalah, melainkan apakah manusia tetap setia pada keadilan, kejujuran, dan nilai-nilai ketuhanan. Sebab kemenangan tidak selalu tanda keridha’an, dan kekalahan bukan otomatis hukuman. Tuhan pastilah Maha Adil, sementara manusia hanya mampu menilai dari sudut pandangnya yang terbatas.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Navigasi Iman di Era Digitalisasi  Penulis: Amalia Irfani, Sekretaris LPP PWM Kalbar/Dosen IAI....

Suara Muhammadiyah

31 January 2026

Wawasan

Oleh: Baskoro Tri Caroko Allah SWT menciptakan Alam semesta ini lengkap dengan fasilitas hidup temp....

Suara Muhammadiyah

20 November 2023

Wawasan

Salafisme Versus Muhammadiyah, Puritanisme Historis Versus Moderat Berkemajuan Oleh: Fokky Fua....

Suara Muhammadiyah

18 May 2024

Wawasan

Ulama Muhammadiyah di Era Influencer Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hiday....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Wawasan

Keberkahan Muallimin Muhammadiyah Oleh: Khafid Sirotudin Seorang kawan aktivis persyarikatan pantu....

Suara Muhammadiyah

10 August 2025