Ketika Tenaga Kesehatan dan Pasien Saling Terluka

Suara Muhammadiyah

14 August 2026

413
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ketika Tenaga Kesehatan dan Pasien Saling Terluka

Oleh: dr. Fakhri Haidar Anis

Saat Sakit, Manusia Menjadi Sangat Rapuh

Di tengah ramainya berita yang viral di media sosial belakangan ini, ada satu hal yang terasa sangat menyedihkan: hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien tampak semakin mudah dipenuhi ketegangan, baik dalam pelayanan langsung maupun melalui percakapan di ruang digital.

Pemandangan seperti ini tentu tidak nyaman bagi masyarakat. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan seharusnya menjadi tempat orang mencari pertolongan, bukan ruang yang memperlihatkan saling curiga dan saling menyalahkan.

Ada sebuah kutipan sederhana yang layak menjadi bahan renungan bersama:

“Selelah-lelahnya tenaga kesehatan, tetap yang lebih tidak enak adalah menjadi orang yang sedang sakit.”

Kalimat ini tampak sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.

Ketika sehat, kita dapat beraktivitas dengan bebas, berpikir jernih, dan menjalani hari tanpa banyak kekhawatiran. Namun ketika sakit, yang terganggu bukan hanya tubuh, melainkan juga pikiran dan jiwa. Rasa cemas, takut, lelah, dan ketidakpastian sering kali menjadi beban yang jauh lebih berat daripada rasa sakit itu sendiri.

Karena itulah, nikmat sehat merupakan karunia yang sering baru terasa sangat berharga ketika kita kehilangan sebagian darinya. Saudara-saudara kita yang berhari-hari terbaring di fasilitas kesehatan tentu memiliki harapan yang sama: segera pulih dan kembali berkumpul dengan keluarga.

Beratnya Tanggung Jawab Tenaga Kesehatan

Di sisi lain, kita juga perlu memahami bahwa memilih profesi tenaga kesehatan bukanlah pilihan yang ringan. Setiap pekerjaan memiliki risiko, tetapi risiko yang dihadapi tenaga medis sangat berbeda dengan banyak profesi lainnya.

Seorang mekanik mungkin hanya menghadapi kemungkinan sebuah mesin berhasil diperbaiki atau akhirnya harus diganti dengan yang baru. Berbeda dengan tenaga kesehatan yang setiap hari berhadapan langsung dengan kehidupan manusia. Di hadapan mereka terdapat begitu banyak kemungkinan yang tidak selalu dapat dipastikan hasilnya: ada pasien yang sembuh dan kembali menjalani hidup dengan normal, ada yang tetap harus bergulat dengan sakitnya, ada yang mengalami kecacatan yang mengubah perjalanan hidupnya, dan ada pula yang pada akhirnya tidak dapat diselamatkan dan meninggal dunia.

Karena itulah, beban yang dipikul tenaga kesehatan bukan sekadar persoalan teknis pekerjaan, melainkan juga tanggung jawab kemanusiaan yang penuh dengan ketidakpastian, harapan, dan duka.

Beban moral dan psikologis seperti ini tidak mudah dipikul. Apalagi ketika hasil yang tidak diharapkan kemudian diikuti kemarahan, tekanan, atau tuntutan hukum dari keluarga pasien yang masih berada dalam situasi duka dan sulit menerima kenyataan.

Meski demikian, ada satu keyakinan yang penting untuk kita renungkan bersama: kematian memiliki waktu yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Tanggal, jam, dan detiknya tidak dapat dimajukan ataupun ditunda oleh manusia. Yang dapat diupayakan oleh tenaga kesehatan adalah memberikan pelayanan terbaik sebelum takdir itu tiba.

Pelayanan yang baik tidak hanya bergantung pada keterampilan teknis, tetapi juga pada sikap dan cara seseorang memperlakukan orang lain. Pelayanan yang berkualitas lahir dari kesediaan untuk melayani dengan sepenuh hati, sehingga setiap tindakan dilakukan dengan ketulusan dan rasa tanggung jawab. Selain itu, pekerjaan harus dijalankan sesuai prosedur dan standar profesi agar pelayanan tetap aman, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Semua itu akan menjadi lebih bermakna apabila disertai komunikasi yang jujur dan empatik, sehingga orang yang dilayani merasa dihargai, didengarkan, dan dipahami dengan baik.

Sebaliknya, pelayanan yang buruk, prosedur yang diabaikan, dan komunikasi yang tidak baik sering kali menjadi sumber munculnya kekecewaan dan konflik dengan keluarga pasien.

Empati Adalah Titik Temu Kemanusiaan

Hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien seharusnya dibangun di atas prinsip yang paling mendasar: saling menghargai dan saling menghormati sebagai sesama manusia.

Sebelum ada label dokter, perawat, bidan, pasien, atau keluarga pasien, kita semua adalah manusia yang sama-sama memiliki rasa takut, harapan, dan keterbatasan.

Pasien membutuhkan empati dan penjelasan yang menenangkan. Tenaga kesehatan juga membutuhkan penghormatan atas usaha, ilmu, dan pengabdian yang mereka berikan dalam situasi yang sering kali penuh tekanan.

Ketika kedua pihak mampu saling memahami, lingkungan pelayanan kesehatan akan menjadi lebih kondusif, lebih manusiawi, dan lebih menenteramkan bagi semua.

Persoalan yang muncul hari ini kemungkinan bukanlah masalah kecil yang datang secara tiba-tiba. Keadaan tersebut bisa menjadi akumulasi dari berbagai persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Keterbatasan fasilitas kesehatan, tingginya beban kerja tenaga medis, sistem pelayanan yang belum ideal, serta kebijakan yang kadang belum sepenuhnya berpihak pada kebutuhan di lapangan perlahan-lahan saling bertumpuk dan membentuk situasi yang semakin kompleks.

Karena itu, apa yang terlihat hari ini sebaiknya dipahami bukan hanya sebagai kesalahan satu pihak atau satu peristiwa, melainkan sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar dan membutuhkan perhatian bersama untuk memperbaikinya.

Oleh sebab itu, peristiwa yang sedang ramai diperbincangkan semestinya tidak hanya berhenti sebagai bahan viral sesaat. Ia perlu menjadi titik balik untuk melakukan perbaikan bersama—perbaikan dalam sistem pelayanan, perlindungan tenaga kesehatan, edukasi kepada masyarakat, dan terutama dalam membangun kembali budaya komunikasi yang penuh empati.

Baik tenaga kesehatan maupun pasien sebenarnya berada di pihak yang sama: sama-sama menginginkan kesembuhan, keselamatan, dan kebaikan.

Semoga kita semua belajar untuk lebih lembut dalam bersikap: tenaga kesehatan tidak kehilangan empatinya dalam melayani, sementara pasien dan keluarga tidak kehilangan rasa hormatnya dalam menerima pelayanan. Sebab, di antara rasa lelah dan rasa sakit, yang paling dibutuhkan manusia adalah saling memahami dan saling menguatkan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Hardiknas dan Harapan Guru PAUD: Antara Kesejahteraan dan Amanah Peradaban Oleh: Afridatul Laela, G....

Suara Muhammadiyah

3 May 2026

Wawasan

Do’a di Lembah Berbatu & Pisang Cavendish Oleh : Dr. Nasrullah, M.Pd., Pensiunan Gur....

Suara Muhammadiyah

22 August 2025

Wawasan

Membangun Tradisi Membaca Dan Menulis Oleh: M. Husnaini, S.Pd.I., M.Pd.I., Ph.D. Menulis, Harus Di....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Wawasan

Milad 66 Uhamka: Merenda Peradaban Berkemajuan Oleh: Prof. Dr. Abdul Rahman A. Ghani Momen Ulang t....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023

Wawasan

Menteri Utusan Ormas Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso, Wakil Se....

Suara Muhammadiyah

29 October 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah