Ketua PDM Pekanbaru: Jangan Seolah Haramkan Ibadah yang Berbeda dengan Pemerintah

Suara Muhammadiyah

20 March 2026

492
Foto Istimewa

Foto Istimewa

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pekanbaru menyampaikan kritik keras terhadap Fatwa Nomor 2 Tahun 2004 yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Fatwa tersebut menjelang idulfitri ini dengan sengaja diterbitkan di media online dan dibeberapa media sosial.

Ketua PDM Pekanbaru, Jabarullah, menilai bahwa redaksi fatwa yang mewajibkan seluruh umat Islam mengikuti ketetapan pemerintah berpotensi menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat.

“Fatwa ini jangan sampai dipahami seolah-olah mengharamkan atau membatalkan ibadah umat Islam yang berbeda dalam penetapan hari raya. Ini berbahaya bagi ukhuwah Islamiyah,” tegasnya.

Lebih lanjut, PDM Pekanbaru menegaskan bahwa ketentuan tersebut tidak sejalan dengan konstitusi, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945:

Pasal 28E ayat (1):

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya...”

Pasal 29 ayat (2):

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Menurutnya, pasal tersebut secara tegas menjamin bahwa setiap umat beragama memiliki kebebasan dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan dan ijtihadnya.

Perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriyah merupakan bagian dari khazanah fiqh Islam yang sah dan telah berlangsung lama, baik melalui metode rukyat maupun hisab. Praktik ini juga dijalankan oleh berbagai ormas Islam, termasuk Muhammadiyah, dengan dasar metodologi yang kuat.

“Persatuan umat tidak boleh dibangun dengan memaksakan keseragaman dalam wilayah ijtihad. Yang harus dikedepankan adalah penghormatan terhadap perbedaan,” tambahnya.

Atas dasar itu, PDM Pekanbaru mendesak Majelis Ulama Indonesia untuk segera melakukan peninjauan ulang terhadap fatwa tersebut, dengan:

Mengubah pendekatan dari mewajibkan menjadi mengimbau

Menegaskan penghormatan terhadap perbedaan ijtihad

Menghindari kesan adanya pengharaman terhadap praktik ibadah yang berbeda

PDM Pekanbaru juga mengajak seluruh umat Islam untuk tetap menjaga persatuan, mengedepankan sikap tasamuh (toleransi), serta menjadikan perbedaan sebagai rahmat dalam kehidupan beragama.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Mahasiswa S3 PBI Uhamka Menjadi Narasumber Webminar Literasi Digital TEGAL, Suara Muhammadiyah - Ke....

Suara Muhammadiyah

4 April 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Badan Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan Karir dan Alumni (BPPKK....

Suara Muhammadiyah

4 August 2026

Berita

PONTIANAK, Suara Muhammadiyah — Silaturahim Idul Fitri 1447 H Keluarga Besar Muhammadiyah Kali....

Suara Muhammadiyah

5 April 2026

Berita

SIDOARJO, Suara Muhammadiyah - Kabar membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan. Siswi SMA Mu....

Suara Muhammadiyah

9 May 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) meraih penghargaan Paritr....

Suara Muhammadiyah

26 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah