KH Amal Fathullah Zarkasyi dan Ilmu Kalam

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
235
KH Prof Amal Fathullah Zarkasyi

KH Prof Amal Fathullah Zarkasyi

KH Amal Fathullah Zarkasyi dan Ilmu Kalam

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, Alumni Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor 

Membaca buku Dirāsah fī ‘Ilm al-Kalām: Tārīkh al-Madhāhib al-Islāmiyyah wa Qaḍāyāhā al-Kalāmiyyah (Studi Ilmu Kalam: Sejarah Mazhab-Mazhab Islam dan Persoalan-Persoalan Teologisnya) karya KH Prof Amal Fathullah Zarkasyi menghantarkan saya pada satu kesadaran penting: bahwa karya ini tidak disusun semata-mata untuk memetakan sejarah perdebatan dalam ilmu Aqidah (kalam), melainkan diarahkan secara sadar untuk menjaga sekaligus menguatkan bangunan Aqidah Ahlussunnah wal Jamā‘ah di tengah arus pemikiran yang terus bergerak dan berubah.

Sebagai seorang santri yang pernah bergelut dengan dunia akademik, saya menangkap arah yang hendak ditegaskan oleh penulis. Ilmu kalam dalam buku ini diarahkan secara sadar sebagai instrumen penjagaan dan penguatan Aqidah, bukan sekadar medan adu argumentasi. Prof. Amal—akrab disapa—menempatkan ilmu kalam pada fungsi dasarnya: mempertajam nalar muqāran—nalar perbandingan yang jernih dan terukur—agar pembaca mampu memahami peta perbedaan teologis secara dewasa. Oleh karena itu, ilmu kalam tidak diarahkan menjadi ruang perdebatan tanpa ujung, sebab wilayah tersebut telah dan akan selalu menjadi ranah para Mutakallimīn; sementara bagi pembelajar, yang lebih utama adalah kejernihan sikap dan kemantapan Aqidah.

Uraian tentang ragam mazhab Aqidah—dari Khawarij, Mu‘tazilah, Syiah, hingga Ahlussunnah wal Jamā‘ah—bukanlah upaya untuk mensejajarkan seluruh pandangan Aqidah. Sebaliknya, melalui penelusuran historis dan kajian pemikiran tersebut, pembaca diajak menelusuri alasan mengapa manhaj Ahlussunnah sebagai jalan tengah yang menjaga keseimbangan antara akal (‘aql) dan nash. Dalam kerangka ini, perbedaan dihadirkan sebagai bahan perbandingan yang disusun secara adil—proporsional, sekaligus menjadi cermin reflektif untuk semakin meneguhkan Aqidah.

Yang terasa sangat kuat dalam buku ini adalah penegasan bahwa aqidah Ahlussunnah wal Jamā‘ah dibangun di atas sikap tawassuṭ (moderat), tawāzun (seimbang), dan i‘tidāl (lurus). Akal diberi ruang untuk bekerja dan menalar, namun tidak ditempatkan sebagai otoritas yang berhak menghakimi—apalagi menafikan—wahyu. Sebagai seorang santri, saya membaca penegasan ini sebagai pesan yang mendalam dan sangat penting: bahwa Iman tidak perlu dikorbankan demi rasionalitas, dan sebaliknya, rasionalitas justru diarahkan untuk memperkokoh dan merawat Iman.

Dalam pembahasan isu-isu kalam klasik—seperti sifat-sifat Allah, persoalan takdir, dan hubungan kehendak manusia dengan kehendak Ilahi—penulis dengan konsisten menunjukkan preferensi metodologis Ahlussunnah. Namun preferensi ini tidak disampaikan dengan nada polemik, melainkan dengan argumentasi tenang dan sistematis. Sikap ini mencerminkan bagaimana ulama Ahlussunnah yang menjaga Aqidah bersanding dengan kebijaksanaan.

Sebagai salah satu dari sekian banyak pembelajar pernah merasakan ruang akademik dengan Beliau, saya merasakan manfaat buku ini sebagai penyeimbang. Di satu sisi, ia (buku) membentengi pembaca dari kecenderungan ekstrim rasionalistik yang dapat melemahkan Iman; di sisi lain, ia juga menjaga agar sikap tidak jatuh pada anti-intelektualisme. Inilah wajah dalam Dirasah Ilmu Kalam ini yang menjaga keyakinan, sekaligus mendidik cara berpikir.

Pada bagian inilah, buku ini menunjukkan signifikansinya tidak semata untuk kalangan mahasiswa atau santri, melainkan bagi setiap orang yang resah menyaksikan Aqidah kerap dipermainkan dalam hiruk-pikuk perdebatan ruang publik. Studi Ilmu Kalam hadir sebagai pengingat bahwa merawat Aqidah Ahlussunnah wal Jamā‘ah tidak dilakukan dengan mematikan peran akal, tetapi dengan membimbingnya agar tetap bergerak dalam bingkai wahyu dan adab. 

Pada akhirnya, buku ini saya pahami sebagai peninggalan intelektual seorang guru yang berikhtiar menyiapkan bekal bagi generasi penerus agar tidak kehilangan pijakan aqidah. Aqidah yang disampaikan dalam buku ini bukanlah keyakinan yang rapuh atau tertutup dari daya intelektual, melainkan Aqidah yang “dewasa”, berakar kuat, dan sanggup berdialog tanpa tercerabut dari jati diri. Di titik inilah nilai paling hakiki buku ini saya temukan: sebagai upaya merawat dan meneguhkan Iman Ahlussunnah wal Jamā‘ah dengan nalar yang lurus sekaligus ketenangan hati.

Yogyakarta, 3 Januari 2026

Mengenang Wafatnya KH Amal Fathullah Zarkasyi 

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Meniti Jalan Kehidupan dengan Ilmu dan Iman Oleh: Suko Wahyudi,  PRM Timuran Yogyakarta  ....

Suara Muhammadiyah

1 February 2025

Wawasan

Bukan Sekadar Satu Atap: Esensi Hidup Bersama dalam Naungan Sakinah Oleh: Ahmad Afwan Yazid, M.Pd, ....

Suara Muhammadiyah

7 January 2026

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Bagaimana seharusnya kita mensy....

Suara Muhammadiyah

11 September 2024

Wawasan

Al-Masih dalam Al-Qur`an dan Tradisi Yahudi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univers....

Suara Muhammadiyah

26 August 2024

Wawasan

18% yang Bermakna, Kehadiran Muhammadiyah di Tanah Minoritas Muslim  Oleh: Furqan Mawardi, Ket....

Suara Muhammadiyah

24 August 2025