Khutbah Jum'at: Dosa Digital

Suara Muhammadiyah

6 August 2026

823
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Khutbah Jum'at: Dosa Digital

Oleh: Furqan Mawardi, Ketua LPCRPM PWM Sulawesi Barat, Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di zaman hari ini, kita hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu manusia berbicara dengan lisan, maka hari ini manusia juga “berbicara” dengan jari-jemarinya. Bahkan jemari seseorang sekarang ini lebih cepat dan lebih dahsyat daripada  lisannya. Hanya dengan sekali klik, apa yang kita share bisa langsung tersebar ke seantero dunia. Namun terkadang kita lupa bahwa apa saja yang kita tulis, apa yang kita bagikan, apa yang kita komentari, semuanya akan menjadi bagian dari amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Allah berfirman:

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ 

 “Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini tidak hanya berlaku untuk lisan kita, tetapi juga untuk tulisan kita. Karena di era digital, tulisan adalah lisan yang diabadikan.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Salah satu penyakit besar di era media sosial hari ini adalah ringannya tangan untuk menyebarkan sesuatu, tetapi beratnya hati untuk memastikan kebenarannya. Informasi datang begitu cepat, lalu jari kita pun bergerak lebih cepat. Tanpa tabayyun, tanpa klarifikasi, tanpa sempat bertanya. Apakah berita ini benar atau tidak?

Seolah-olah yang penting bukan lagi kebenaran, tetapi kecepatan untuk menyebarkan. Bukan lagi keakuratannya, tetapi sensasinya. Padahal, setiap yang kita bagikan bukan hanya berhenti di layar, tetapi bisa berdampak luas. Merusak nama baik seseorang, menimbulkan keresahan, bahkan memecah belah hubungan.

Di sinilah Al-Qur’an telah jauh-jauh hari mengingatkan kita:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ 

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini seakan berbicara langsung kepada kita hari ini. Karena di era digital, “orang fasik” itu bisa berupa akun anonim, pesan berantai, atau potongan video yang belum jelas sumbernya. Jika dahulu berita datang terbatas, hari ini berita datang tanpa batas dan justru di situlah ujian kita semakin berat.

Betapa banyak dosa yang kita lakukan hanya dengan satu klik “share”. Betapa banyak fitnah yang menyebar hanya karena satu jempol yang tidak dikendalikan. Satu kiriman bisa menjangkau ratusan orang, lalu berlipat menjadi ribuan dan kita menjadi bagian dari rantai dosa itu, tanpa kita menyadarinya.

Rasulullah telah mengingatkan sejak dahulu:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Merenungkan pesan hadis ini, sepertinya hari ini terasa semakin tajam maknanya. Banyak orang berkata, “Saya tidak berdusta, saya hanya meneruskan.” Padahal justru di situlah letak bahayanya. Menyebarkan tanpa memastikan kebenaran, pada hakikatnya adalah bagian dari menyebarkan kebohongan itu sendiri.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Tidak berhenti di situ, media sosial juga sering berubah menjadi ladang subur bagi ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian. Komentar-komentar yang kasar, sindiran yang merendahkan, bahkan membuka aib orang lain, dituliskan dengan begitu mudah. Seolah-olah tidak ada rasa takut, dan tidak ada rasa bersalah.

Padahal mungkin yang kita tulis hanya beberapa kalimat, tetapi bagi orang lain bisa menjadi luka yang sangat dalam. Dan yang lebih berat, luka itu bisa terus hidup karena jejak digital tidak mudah untuk dihapus dan dihilangkan.

Allah telah mengingatkan dengan sangat tegas:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ 

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Dan Rasulullah menegaskan:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ini, “berkata” tidak lagi hanya melalui lisan, tetapi juga melalui tulisan. Bahkan tulisan seringkali lebih berbahaya, karena ia bisa dibaca berulang-ulang, disebarkan berkali-kali, dan meninggalkan jejak yang panjang.

Maka sebelum kita mengetik, sebelum kita berkomentar, sebelum kita membagikan sesuatu, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri:

 Apakah berita  ini benar? Apakah berita  ini baik? Apakah berita ini bermanfaat?

Jika tidak, maka diam atau tidak mengetik bukanlah sebuah kelemahan. Justru itulah bentuk kekuatan iman. Karena tidak semua yang kita tahu harus kita sampaikan, dan tidak semua yang kita dengar harus kita sebarkan.

Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi pahala kita habis karena dosa digital. Jangan sampai kita menjaga lisan, tetapi kita lalai menjaga jari-jari kita.

Dosa digital adalah dosa yang sering dianggap ringan, tetapi dampaknya sangat luas dan cepat menyebar.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،

قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمَنَاتِ, الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ, إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْواتِ, يَا قَضِيَ الْحَاجَتِ, رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ, رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Sumber: Majalah SM Edisi 11/2026 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khutbah

Oleh: Dr Muhammad Sa’ad Ibrahim, MA, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah السَّلَامُ �....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Khutbah

Oleh: Ahmad Fatoni إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْت....

Suara Muhammadiyah

16 November 2023

Khutbah

Khutbah Jum'at: Menyelamatkan Waktu Dari Jajahan Distraksi Oleh: Muhammad DN, MHI, Ketua PDM Hulu S....

Suara Muhammadiyah

9 July 2026

Khutbah

Oleh: Prof Dr HM Hizbul Muflihin, MPd, Wakil Ketua PDM Banyumas, Jawa Tengah  الْحَمْد....

Suara Muhammadiyah

14 August 2025

Khutbah

Oleh: Diyan Faturahman الـحَمْدُ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِ�....

Suara Muhammadiyah

25 April 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah