PADANG, Suara Muhammadiyah - Aula Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat dipenuhi semangat perubahan pada Sabtu kemarin (31/1/2026). Puluhan pengurus dari berbagai bidang hadir memadati ruangan, bahu-membahu merajut mimpi besar: menjadikan masjid sebagai episentrum transformasi umat di era digital.
Rapat kerja bertajuk "Sinergi Pelaksanaan Program Kerja Tahunan Pengurus" bukan sekadar pertemuan rutin biasa. Atmosfer yang terbangun begitu dinamis—diskusi mengalir, gagasan bermunculan, dan komitmen menguat. Kehadiran tokoh senior Muhammadiyah, Buya Prof. Dr. H. Sobhan Lubis, M.A dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar, semakin menegaskan pentingnya momentum ini.
Forum strategis tersebut menjadi ajang evaluasi mendalam terhadap capaian program sebelumnya. Namun lebih dari itu, para pengurus juga menatap jauh ke depan—merancang blueprint konkret untuk mengakselerasi program-program yang lebih terukur dan berdampak.
Buya Ki Jal Atri Tanjung, sang nahkoda Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar, menyampaikan visi yang mencerahkan. Dengan penuh keyakinan, beliau menggarisbawahi tiga pilar utama: digitalisasi, sinergi, dan kebersamaan.
"Masjid kita harus bertransformasi. Bukan cuma jadi tempat shalat lima waktu, tapi mesti menjadi mercusuar peradaban—pusat dakwah yang menyejukkan, rumah pendidikan yang mencerdaskan, dan basis pemberdayaan yang mengangkat derajat umat," ujar Buya Ki Jal dengan penuh semangat.
Digitalisasi menjadi kata kunci yang berulang kali digaungkan. Di tengah arus zaman yang kian digital, masjid dituntut adaptif tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya. Kolaborasi erat antarbidang pengurus menjadi kunci agar setiap program tak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bersinergi menghasilkan dampak maksimal bagi jamaah dan masyarakat luas.
Dengan semangat baru dan strategi yang lebih matang, Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar siap melangkah lebih progresif menyongsong masa depan gemilang.

