PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Selama satu hari penuh, Pegiat Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah mengadakan Kopdar sesama pegiat Taman Pustaka di Aula Ukhuwah Islamiyah Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Kegiatan ini diikuti oleh pegiat Taman Pustaka dan juga Himpunan Pustakawan Muhammadiyah Aisyiah serta pustakawan sekolah di Banyumas.
Ada sekitar 150 orang turut meramaikan kegiatan ini. Dalam pembukaan acara ini, Ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad menyampaikan "bangsa yang membaca, ia akan menjemput kemajuan peradaban, tetapi bangsa yang tidak mau membaca, tidak akan menjemput kemajuan peradaban".
Pak Dadang Kahmad juga mengajak para penggerak dan aktivis Muhammadiyah untuk terus membaca. Ia berpesan kepada pegiat Taman Pustaka Muhammadiyah tiga pesan penting. Pertama, jadikan literasi sebagai ibadah. Kedua, bangun perpustakaan. Ketiga, jadikan perpustakaan
untuk produksi pengetahuan.
Dalam sesi temu penulis Banyumas, Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah mengundang dua penulis kenamaan; Ahmad Tohari seorang penulis dan sastrawan kondang, serta Nasirun Purwokartun seorang penulis, sastrawan dan juga pegiat pustaka di Banyumas. Keduanya membagi kisah yang mengesankan tentang dunia literasi dan kepenulisan. Ahmad Tohari membagi kisahnya saat menulis Ronggeng Dukuh Paruk. Ia mengatakan alasan menjadi penulis karena mempunyai harapan untuk menemukan jejak jejak ilahi dalam kehidupan ini. Itu saya temukan pada jejak jejak kehidupan orang miskin, kata Ahmad Tohari dengan semangat.
Tohari menegaskan, "saya gak punya bakat untuk menulis sastra yang berwatak kota, apalagi orang kaya". Sementara itu, Nasirun Purwokartun membagi pahit getirnya di dunia literasi sejak ia menjadi novelis hingga menjadi seorang yang tekun menulis babad. Ia menulis Babad Banyumas berjilid jilid, ia juga menulis Babad Diponegoro, dan Babad Sapehi. Semua itu ia lakukan dengan spirit kerja literasi selama kurang lebih empat tahun. Mengapa ia menulis Babad? Karena ditulis dalam bahasa Jawa, tidak banyak orang tahu dan mau. Nasirun turut serta menggerakkan masyarakatnya di Banyumas untuk berliterasi bersama rumah bukunya. Bale Pustaka, rumah bukunya kini jadi ruang literasi yang terus tumbuh dan bergerak.
Pada sesi berikutnya, para pegiat literasi dari komunitas rumah baca Banjarnegara, Komunitas Limbah Pustaka, dan juga Himpusma turut berbagi dan memberi inspirasi mengenai kerja-kerja literasi yang menggerakkan buku.
Di tengah keterbatasan dan juga tantangan yang tidak mudah, Sarekat Taman Pustaka terus bergerak meneruskan cita-cita Kiai Dahlan yang menjadikan buku tidak hanya jadi ruang bisu, tetapi bergerak dan menggerakkan pikiran.
Acara Kopdar Sarekat Taman Pustaka ditutup oleh Wakil Sekretaris MPI PP Muhammadiyah M. Amir Nashiruddin, S.HI. Dalam sambutannya ia mengucapkan terimakasih kepada pegiat Taman Pustaka, karena para pegiat Taman Pustaka inilah yang menjadi ujung tombak dari spirit literasi di Muhammadiyah. Ia juga berharap silaturahmi ini akan terus membawa literasi Muhammadiyah dan bangsa ini menjadi lebih baik dan membawa manfaat untuk umat. (AY/Diko)

