Kue Lebaran, Simbol Silaturahmi dan Pergeseran Budaya

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
108
Foto Dok Amunba

Foto Dok Amunba

Kue Lebaran, Simbol Silaturahmi dan Pergeseran Budaya

Oleh: Ratna Arunika, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur

Aroma kue kering yang dipanggang perlahan memenuhi udara di minggu-minggu terakhir Ramadhan. Dari dapur-dapur rumah, wangi mentega, gula, dan keju seolah menjadi penanda bahwa hari raya semakin dekat.

Di banyak keluarga, momen membuat kue Lebaran bukan sekadar kegiatan memasak. Ia adalah ritual kecil yang penuh kehangatan. Tangan-tangan sibuk menimbang tepung, mengaduk adonan, membentuk bulatan kecil, lalu menyusunnya rapi di loyang. Di sela-selanya, ada tawa, cerita lama yang diulang, dan kebersamaan yang jarang ditemukan di hari-hari biasa.

Terlebih ketika anggota keluarga yang merantau pulang ke kampung halaman, dapur menjadi ruang pertemuan yang hidup. Aktivitas sederhana seperti membuat kue berubah menjadi peristiwa emosional, sebuah cara merawat kedekatan tanpa harus banyak kata.

Dalam kajian cultural anthropology, makanan seperti ini disebut sebagai ritual food, bukan sekadar sesuatu yang dimakan, tetapi bagian dari perayaan, simbol kebersamaan, sekaligus penanda identitas budaya. Dari sini kita bisa memahami bahwa kehadiran kue Lebaran bukanlah kebiasaan yang muncul begitu saja. Ia menyimpan lapisan makna yang lebih dalam tentang cara manusia merayakan momen penting dalam hidupnya.

Di antara berbagai jenis kue, nastar mungkin menjadi yang paling ikonik. Kue kecil berwarna kuning keemasan dengan isian selai nanas ini membutuhkan ketelatenan dalam pembuatannya. Namun justru di situlah letak kehangatannya. Proses yang rumit terasa ringan ketika dikerjakan bersama.

Selain nastar, ada kastengel dengan taburan keju yang gurih dan renyah, seolah sulit berhenti setelah gigitan pertama. Ada pula putri salju, dengan balutan gula halus yang lembut dan dingin di lidah, menjadi favorit lintas generasi dari anak-anak hingga orang dewasa.

Semua itu kemudian tersusun rapi dalam stoples-stoples bening yang berjejer di meja tamu. Ia tidak sekadar makanan. Ia adalah sambutan. Ia adalah tanda bahwa rumah ini siap menerima siapa pun yang datang bersilaturahmi.

Jejak Sejarah Kue Lebaran

Di tengah kesibukan mengaduk adonan atau menyiapkan hantaran untuk kerabat, mungkin pernah terlintas pertanyaan sederhana, mengapa kue-kue seperti nastar, kastengel, dan putri salju begitu identik dengan Lebaran?

Apakah sejak awal tradisi ini memang lahir dari budaya lokal?

Jawabannya membawa kita pada perjalanan sejarah yang menarik.

Jika ditelusuri lebih jauh, sebagian kue Lebaran yang hari ini terasa begitu “Indonesia” justru memiliki akar sejarah dari luar, khususnya dari pengaruh kuliner Eropa pada masa kolonial.

Tradisi menyajikan kue kering saat Idulfitri di Indonesia berkembang sejak masa Hindia Belanda pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Pada masa itu, masyarakat Eropa membawa kebiasaan membuat koekjes. Kue kering yang biasa disajikan dalam perayaan atau momen spesial.

Kue-kue seperti nastar dan kastengel berasal dari tradisi ini. Nastar diyakini berasal dari istilah Belanda ananas taart, kue tart nanas. Sementara kastengel berasal dari kata kaasstengels, yang berarti batang keju.

Pada awalnya, kue-kue ini hanya dibuat di dapur keluarga Belanda atau kalangan elite kolonial. Ia menjadi simbol status sosial dan bagian dari gaya hidup Eropa yang eksklusif.

Namun sejarah tidak pernah berjalan satu arah.

Seiring waktu, para juru masak pribumi yang bekerja di rumah-rumah kolonial mulai mengenal, mempelajari, dan kemudian mengadaptasi resep-resep tersebut. Dari dapur elit, kue-kue ini perlahan berpindah ke dapur masyarakat.

Resepnya disesuaikan dengan bahan lokal, tekniknya dipermudah, dan maknanya pun berubah. Dari yang awalnya sekadar hidangan ala Eropa, ia kemudian bertransformasi menjadi bagian dari tradisi Lebaran di Nusantara. 

Di sinilah letak menariknya sejarah kuliner,  sesuatu yang kita anggap sangat akrab dan “tradisional” ternyata lahir dari pertemuan berbagai budaya.

Nastar, kastengel, dan putri salju bukan hanya camilan di meja tamu. Mereka adalah saksi kecil dari perjalanan panjang tentang bagaimana pengaruh luar bertemu dengan kreativitas lokal, lalu tumbuh menjadi identitas baru yang kita kenal hari ini.

Mengapa Kue Kering yang Dipilih?

Di tengah aneka rupa pilihan hidangan, kue kering seolah menjadi “jawaban yang disepakati” dalam tradisi Lebaran. 

Alasannya sederhana namun kuat.

Dari sisi praktis, kue kering lebih tahan lama dibandingkan kue basah atau jajanan pasar, sehingga dapat disiapkan jauh hari sebelum Idulfitri tiba. Ragam bentuk dan rasanya pun memberikan variasi. Manis, gurih, renyah, yang bisa dinikmati oleh siapa saja.

Penyajiannya pun sederhana namun tetap menghadirkan kesan istimewa. Toples-toples cantik yang berjejer di meja tamu menciptakan suasana hangat sekaligus rapi.

Dalam tradisi silaturahmi Lebaran, tamu biasanya tidak hanya singgah di satu rumah. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menyambung hubungan, saling memaafkan, dan menjaga kedekatan. Dalam konteks ini, kue kering menjadi hidangan yang “ringan”cukup untuk menyambut, tanpa membebani.

Segelas minuman manis dan beberapa potong kue kering sudah cukup menjadi bahasa sederhana “Selamat datang, rumah ini terbuka untuk menerima kehadiran tamu.”

Simbol Sosial dan Adab Menjamu Tamu

Namun makna kue Lebaran tidak berhenti pada soal kepraktisan.

Ia adalah simbol sosial.

Kue-kue yang tersaji di meja tamu sesungguhnya menyimpan makna sosial yang lebih dalam. Ia adalah bentuk penghormatan dari tuan rumah kepada tamu. Sebuah ekspresi keramahtamahan, perhatian, dan keinginan untuk memuliakan orang yang datang.

Dalam ajaran Islam, menjamu tamu bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari adab dan cerminan keimanan. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Memuliakan tamu tidak selalu berarti menyajikan hidangan mewah. Yang lebih penting adalah memberikan yang terbaik sesuai kemampuan—dengan niat tulus dan sikap yang hangat.

Kue Lebaran, dalam konteks ini, menjadi simbol dari nilai tersebut. Ia adalah bentuk sederhana dari upaya memuliakan tamu. Menyediakan sesuatu untuk dinikmati, sebagai tanda bahwa kehadiran mereka dihargai.

Dalam tradisi masyarakat kita, sering dijumpai tamu yang enggan langsung menyentuh hidangan sebelum dipersilakan. Ada rasa sungkan, ada etika yang dijaga. Di sinilah peran tuan rumah menjadi penting, bukan hanya menyediakan, tetapi juga mengundang dengan kata-kata yang hangat.

Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar bahkan secara khusus membahas anjuran ini:

“Disunnahkan bagi pemilik makanan untuk berkata kepada tamunya saat menyajikan makanan: ‘Silakan makan,’ atau kalimat semakna.”

Ucapan sederhana seperti, “Silakan dicicipi,” bukan sekadar formalitas. Ia adalah bagian dari adab, yang menghidupkan suasana, mencairkan jarak, dan membuat tamu merasa diterima sepenuhnya.

Lebih dari itu, menjamu tamu juga merupakan bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan Allah SWT. Dengan berbagi makanan, seseorang tidak hanya memberi, tetapi juga membuka pintu keberkahan bagi dirinya sendiri.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sebarkan salam, berilah makan, dan sambunglah silaturahmi.”
(HR. Tirmidzi)

Dalam konteks Lebaran, kue-kue di atas meja menjadi bagian dari pesan itu. Ia bukan sekadar suguhan, tetapi medium silaturahmi, cara sederhana untuk mempererat hubungan antarmanusia.

Di situlah letak keindahannya.

Sebuah kue kecil, yang mungkin tampak sederhana, ternyata membawa makna yang besar: tentang penerimaan, tentang penghormatan, dan tentang hubungan yang terus dirawat.

Pergeseran Budaya, Dari Stoples ke Hampers

Dulu, aroma kue yang dipanggang di oven rumah menjadi penanda khas menjelang Lebaran. Harumnya menyelinap keluar dari dapur, memenuhi ruang-ruang rumah, bahkan kadang ikut terbawa angin ke halaman. Ia bukan hanya aroma makanan, tetapi aroma kebersamaan.

Kini, suasana itu perlahan berubah.

Aroma dapur digantikan oleh etalase toko, katalog daring, dan paket-paket cantik yang siap dikirim ke berbagai alamat. Kue Lebaran tidak lagi selalu lahir dari tangan-tangan di rumah, tetapi dari dapur produksi, dari brand, dari sistem distribusi yang rapi dan efisien.

Kue Lebaran mengalami pergeseran nilai.

Jika sebelumnya ia hadir sebagai hasil olahan rumah, penuh cerita dan kebersamaan. Kini ia juga hadir sebagai produk yang dikurasi, dikemas, dan dipresentasikan dengan estetika yang menarik. Stoples di meja tamu perlahan “berpindah bentuk” menjadi hampers, kotak-kotak elegan yang dikirim sebagai hadiah.

Namun perubahan ini tidak sepenuhnya menghapus makna lama.

Kue Lebaran tetap membawa pesan yang sama. Tentang berbagi, tentang mengingat, tentang menjaga hubungan. Hanya saja, cara mengekspresikannya kini mengikuti ritme kehidupan yang semakin cepat, praktis, dan terhubung oleh jarak.

Dalam perspektif sosiologi dan consumer culture, fenomena ini menjadi menarik. Makanan tidak lagi hanya dipahami sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai simbol sosial. Apa yang kita kirimkan, sajikan, atau pilih, sering kali mencerminkan bagaimana kita membangun relasi, bahkan bagaimana kita ingin dikenali.

Hampers, dalam konteks ini, bukan sekadar bingkisan. Ia adalah pesan.

Pesan bahwa kita mengingat. Pesan bahwa hubungan masih dijaga, meski tidak selalu sempat berkunjung langsung.

Jika dulu perhatian diwujudkan dengan menyuguhkan kue di ruang tamu, kini ia sering hadir dalam bentuk paket yang dikirim secara khusus. Hampers menjadi cara baru untuk merawat silaturahmi di tengah jarak, kesibukan, dan perubahan gaya hidup masyarakat modern.

Di satu sisi, fenomena ini membawa hal yang positif.

Menjelang Ramadhan dan Lebaran, geliat ekonomi, terutama di sektor UMKM terlihat begitu nyata. Banyak pelaku usaha kecil yang mengandalkan momen ini sebagai “musim panen”. Produksi meningkat, lapangan kerja sementara terbuka, dan kreativitas dalam pengemasan maupun produk semakin berkembang.

Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa hampers perlahan bergerak menjadi simbol lain,  simbol status sosial.

Pilihan isi, merek, hingga desain kemasan sering kali tidak lagi sekadar soal fungsi, tetapi juga representasi gaya hidup. Apa yang dikirim menjadi cerminan dari “siapa kita” dan “bagaimana kita ingin dilihat”.

Di titik inilah tradisi mulai bersinggungan dengan konsumerisme.

Makna berbagi yang sederhana bisa bergeser menjadi tekanan sosial yang halus. Ada dorongan untuk “tidak kalah”, untuk “tampil pantas”, atau sekadar mengikuti arus kebiasaan yang terus berulang setiap tahun.

Pertanyaannya kemudian menjadi reflektif, apakah hampers yang kita kirim benar-benar menjadi jembatan hubungan antarmanusia?
Ataukah ia perlahan berubah menjadi ritual konsumsi yang kita jalani tanpa banyak berpikir?

Barangkali jawabannya tidak hitam-putih.

Karena pada akhirnya, seperti banyak tradisi lainnya, kue Lebaran, baik dalam stoples maupun hampers akan selalu berada di antara dua hal  makna dan kebiasaan.

Yang membedakan bukanlah bentuknya, tetapi niat yang menyertainya.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketika Bencana Terjadi, Hati Diuji Oleh: Mohammad Fakhrudin Ketika terjadi bencana, di antara kita....

Suara Muhammadiyah

15 December 2025

Wawasan

Martir Hijab Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Saya ingin menuli....

Suara Muhammadiyah

29 July 2024

Wawasan

Mendaki Puncak Ruhani: Mengapa Spiritualitas Membutuhkan Jangkar Agama Penulis: Donny Syofyan, Dose....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Wawasan

Perluasan Jaringan Logmart: Menghidupkan Roda Ekonomi Sumatra Menjelang Muktamar 2027 Oleh: Bayu Ma....

Suara Muhammadiyah

11 September 2025

Wawasan

Trilogi Bagian Pertama: Suami Istri adalah Perhiasan bagi Pasangannya dengan Akhlak dan Perilakunya ....

Suara Muhammadiyah

14 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah