Langit dan Bumi: Urutan Penciptaan dalam Al-Qur'an dan Sains

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
77
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Langit dan Bumi: Urutan Penciptaan dalam Al-Qur'an dan Sains

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Kita kembali melanjutkan pembahasan mengenai ayat-ayat Al-Qur'an yang kerap kali disalahpahami, ayat-ayat yang mungkin saja telah mengalami distorsi penafsiran di masa lalu, atau sekadar kurang tepat dipahami. Seringkali, pemahaman awal tentang suatu ayat berbeda jauh dengan pemahaman yang muncul kemudian, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kajian yang lebih mendalam. Bahkan, ada kalanya kita perlu menyadari bahwa sebuah ayat memiliki beragam kemungkinan makna. 

Salah satu ayat yang menjadi sorotan kali ini adalah ayat ke-29 dari surah kedua Al-Qur'an, yang berbunyi: 'Dialah yang menciptakan segala sesuatu di bumi untukmu. Kemudian Dia menuju langit lalu Dia menjadikannya tujuh langit; Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' Sekilas, ayat ini tampak bertentangan dengan temuan-temuan sains modern, dan saya yakin penafsiran klasik pun mungkin mengarah ke sana. 

Kunci dari diskusi ini terletak pada sebuah kata dalam bahasa Arab, yaitu tsumma. Kata ini, dalam bahasa Arab, lazim diterjemahkan sebagai 'kemudian', seperti yang tercermin dalam terjemahan yang telah dibacakan. Namun, kata ini juga memiliki makna lain, yaitu 'lagipula'. Lebih dari sekadar kata penghubung yang menunjukkan urutan waktu, kata tsumma juga dapat digunakan untuk menambahkan informasi tanpa implikasi urutan kejadian. Jadi, jika kita memilih terjemahan yang berbeda, kita bisa memaknai ayat tersebut sebagai: 'Lagipula, Tuhan menuju langit dan membentuknya menjadi tujuh langit.' Yaitu, setelah, Anda tahu, menciptakan bumi."

Selain penciptaan bumi, Dia juga menuju langit dan menjadikannya tujuh langit, atau membentuknya menjadi tujuh langit. Dr. Maurice Bucaille, dalam karyanya yang monumental, 'The Bible, the Quran and Science,' telah mengupas tuntas isu ini. Beliau menunjukkan bahwa terjemahan yang baru saja kita dengar, serta penafsiran yang lazim ditemukan dalam tafsir klasik Al-Qur'an, berpotensi bertentangan dengan sains. Hal ini karena penafsiran tersebut menyiratkan bahwa bumi diciptakan terlebih dahulu, kemudian Tuhan menciptakan langit setelahnya.

Namun, Bucaille juga menekankan bahwa ayat-ayat lain dalam Al-Qur'an justru mengindikasikan urutan yang berbeda, bahkan seolah-olah terbalik. Sebagai contoh, salah satu surah di juz terakhir Al-Qur'an menyebutkan, ‘Dia telah meninggikan bangunannya (langit), lalu menyempurnakannya; dan Dia menjadikan malamnya (gelap gulita), dan menjadikan siangnya (terang benderang); Dan setelah itu bumi Dia hamparkan’ (QS 79: 28-30). 

Ayat ini mengisyaratkan urutan di mana bumi seolah-olah diciptakan setelah langit. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa urutan ini tidak serta-merta berarti bumi diciptakan setelah langit. Kemungkinan lain adalah bumi dan langit diciptakan bersamaan, namun Tuhan membentuk bumi setelahnya. Hal ini dapat dikaitkan dengan konsep evolusi Planet Bumi dari waktu ke waktu.

Lebih lanjut, dalam surah ke-41 Al-Qur'an, Surah Fussilat, kita membaca, ‘Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa." Keduanya menjawab, "Kami datang dengan patuh’ (QS 41: 11). Dari sini, kita melihat penggambaran langit dan bumi yang muncul dari massa gas yang sama.

Menurut Dr. Bucaille, penggambaran ini memberikan kesan penciptaan langit dan bumi yang simultan, sebuah konsep yang selaras dengan pemahaman sains modern. Sains modern menjelaskan bahwa dalam peristiwa Big Bang, terjadi pengembangan galaksi, dan di dalam galaksi kita, terbentuklah bintang-bintang dan planet-planet, termasuk Bumi. Jadi, penciptaan langit dan bumi terjadi secara bersamaan, bukan langit terlebih dahulu atau bumi terlebih dahulu, baru kemudian langit, seperti yang mungkin tercermin dalam terjemahan yang kita dengar dan yang juga ditemukan dalam tafsir klasik."

Oleh karena itu, Dr. Bucaille menyimpulkan bahwa ayat-ayat ini menggambarkan penciptaan langit dan bumi secara bersamaan. Ini sesuai dengan sains modern, yang menjelaskan bahwa Big Bang menghasilkan galaksi, dan di dalam galaksi kita, bintang dan planet, termasuk Bumi, terbentuk. Jadi, penciptaan ini simultan, bukan berurutan seperti yang mungkin dipahami dari terjemahan dan tafsir klasik.

Ini adalah contoh bagaimana sains modern memperjelas penafsiran Al-Qur'an, membantu kita memahami hal yang mungkin kurang jelas sebelumnya. Meski penafsiran klasik memiliki relevansi pada masanya, Al-Qur'an bukanlah buku teks sains. Tujuannya adalah membimbing kita ke surga, seperti yang dikatakan Galileo tentang Alkitab. Kesalahpahaman klasik ini tidak mempengaruhi teologi Muslim, tetapi sains membantu kita menghargai Al-Qur'an dengan lebih baik, setidaknya secara ilmiah.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Gerakan IMM dalam Lintasan Peradaban (1) Oleh: Hilma Fanniar Rohman, Dosen Perbankan Syariah, Unive....

Suara Muhammadiyah

8 May 2024

Wawasan

Jihad Ekologis dan Isyarat Nabi dalam Memelihara Lingkungan Oleh: Khulanah, pendidik pondok pesantr....

Suara Muhammadiyah

2 March 2025

Wawasan

Oleh: Rizal Bahara, STP, MM Sumber daya alam mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia. Sumb....

Suara Muhammadiyah

19 September 2023

Wawasan

Selamat Hari Ayah Nasional: Kehadiranmu Dirindukan Oleh: Nur Ngazizah Dosen UM Purworejo Fatherles....

Suara Muhammadiyah

12 November 2024

Wawasan

Oleh: Amalia Irfani Aksi bela Palestina yang bergemuruh dipenjuru negeri dan terus menjadi gerakan ....

Suara Muhammadiyah

13 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah