Langkah Transformasi Tapak Suci melalui Muktamar XVI
Yudha Kurniawan, Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY
Tapak Suci dalam usia lebih dari enam dasawarsa, memiliki tantangan untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman. Maka Muktamar XVI yang akan digelar di Semarang pada Agustus 2026, bukan sekadar sebagai agenda rutin lima tahunan atau forum pergantian kepemimpinan saja.
Lebih dari itu, Muktamar XVI sangat penting dalam perjalanan transformasi organisasi Tapak Suci. Berbagai tujuan khusus yang tertera di proposal Muktamar XVI, memperlihatkan kesadaran kolektif bahwa Tapak Suci harus mampu menjawab tantangan masa depan, tanpa kehilangan jati dirinya.
Transformasi mengandung semangat perbaikan berkelanjutan, maka perlu kesadaran melakukan evaluasi. Karena itu, dalam Muktamar XVI dilakukan penilaian secara jujur dan objektif atas perjalanan organisasi selama periode terakhir.
Bukan untuk mencari kekurangan, evaluasi adalah sarana mengambil pelajaran dari berbagai keberhasilan, juga kegagalan dan hambatan yang ditemui. Tapak Suci akan terus tumbuh sebagai perguruan besar, sepanjang mampu belajar dari pengalamannya sendiri.
Setelah evaluasi, transformasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu membawa perubahan positif. Muktamar XVI menjadi ajang musyawarah untuk menempatkan para anggota terbaik perguruan, sebagai personalia Pimpinan Pusat pada periode berikutnya.
Trend dinamika dunia yang bergerak cepat, menuntut Tapak Suci menghadirkan kepemimpinan yang memahami tradisi organisasi, sekaligus mampu membaca masa depan. Kepemimpinan yang visioner menentukan kemampuan Tapak Suci dalam langkahnya di percaturan nasional maupun internasional.
Perlu diingat bahwa Muhammad Barie Irsjad telah memberi contoh semangat kepemimpinan yang visioner. Pada saat perguruan ini baru berdiri pada 31 Juli 1963, pemuda asli Kauman itu mendeklarasikan Tapak Suci sebagai gerakan dunia, bukan gerakan kampungan.
Peta jalan perguruan
Kepemimpinan yang kuat saja tidak cukup, Tapak Suci juga membutuhkan kompas yang presisi. Muktamar XVI nantinya merumuskan Pola Kebijakan Strategis Jangka Panjang sebagai peta jalan perguruan.
Dokumen ini menjadi kompas yang menunjukkan langkah Tapak Suci dalam mengarungi rimba olahraga, kemajuan teknologi, perubahan sosial, sebagai konsekuensi tantangan global yang terus berkembang. Perguruan besar dapat menjadi kerdil dan kehilangan orientasinya, gara-gara tidak memiliki peta jalan yang jelas.
Modernisasi Tapak Suci dan kemajuan yang dicapainya, tidak boleh menggerus jatidiri-nya sebagai Putera Muhammadiyah. Muktamar XVI harus menempatkan penguatan ideologi menjadi agenda relevan yang sangat penting.
Nilai-nilai ke-Muhammadiyah-an dan ke-Tapak Suci-an harus terus ditanamkan kepada seluruh anggota. Dengan demikian, Tapak Suci memiliki karakter pembeda dari perguruan pencak silat lainnya.
Tapak Suci adalah Muhammadiyah seutuhnya lahir dan batin. Tidak boleh menawar harga lebih rendah hanya sekedar perguruan pencak silat yang berafiliasi ke Muhammadiyah. Identitas inilah yang selama ini menjadi sumber kekuatan moral sekaligus fondasi gerakan dakwah Tapak Suci.
Transformasi Tapak Suci harus menyentuh aspek keilmuan. Perkembangan organisasi yang semakin meluas menuntut standardisasi materi keilmuan, ragam seni, dan teknik bela diri.
Standardisasi diperlukan agar kualitas pembelajaran tetap terjaga serta kemurnian ajaran yang diwariskan para pendiri tidak mengalami distorsi. Dengan demikian, seorang anggota Tapak Suci di mana pun berada akan memperoleh pemahaman dan kualitas keilmuan yang relatif sama.
Maka Muktamar XVI perlu memastikan pola pembinaan dan pewarisan keilmuan Tapak Suci. Pada periode berikutnya, pengurus harus menyajikan program-program kerja yang relevan dengan tujuan pembinaan dan pengembangan aspek keilmuan.
Anak Panah Internasional Muhammadiyah
Lebih jauh lagi, Muktamar XVI harus menunjukkan keseriusan Tapak Suci untuk memperluas perannya di tingkat internasional. Penguatan koordinasi dengan Perwakilan Wilayah Luar Negeri menjadi bagian dari strategi besar internasionalisasi perguruan ini.
Tapak Suci tidak hanya hadir sebagai perguruan pencak silat, tetapi juga sebagai duta budaya Indonesia dan wajah dakwah Islam berkemajuan di berbagai negara. Apa yang dahulu dicita-citakan Pendekar Besar Muhammad Barie Irsjad sebagai "gerakan dunia" kini semakin menemukan relevansinya.
Di bidang prestasi olahraga, Muktamar XVI menumbuhkan harapan semakin terarahnya penguatan sistem pembinaan atlet secara profesional. Prestasi selama ini tidak boleh membuat Tapak Suci berpuas diri.
Persaingan dunia olahraga semakin kompetitif dan menuntut sistem pembinaan yang berbasis sport science, manajemen modern, serta peningkatan mutu sumber daya manusia yang berkelanjutan. Tapak Suci harus terus menjadi salah satu pilar utama prestasi pencak silat Indonesia dan dunia.
Pada akhirnya, seluruh agenda tersebut bermuara pada satu tujuan besar, yaitu memperkuat konsolidasi organisasi. Tapak Suci merupakan keluarga besar yang tersebar di berbagai daerah bahkan berbagai negara.
Karena itu, ukhuwah, komunikasi, dan koordinasi antarpimpinan menjadi modal penting untuk membangun organisasi yang solid dan mandiri. Kekuatan Tapak Suci tidak hanya terletak pada kehebatan individu-individu di dalamnya, tetapi pada kemampuannya menyatukan berbagai potensi dalam satu gerakan yang terarah.
Muktamar XVI harus mengantarkan roda pergerakan perguruan ini menjadi organisasi yang efektif. Semangat komplementatif harus terus dibangun agar setiap eleman kepengurusan berikutnya dapat saling melengkapi.
Praktik baik kepengurusan periode sebelumnya, ada dalam departemen-departemen yang di bawah kendali Ketua III Roni Syaifulloh. Saya dapat mengamati dinamika departemen-departemen nya Roni, karena PP Tapak Suci sering meminjam fasilitas BPMP DIY tempat kerja saya.
Maka dinamika yang bagus ini harus dikloning pada kepengurusan periode pasca Muktamar XVI. Dengan demikian, seluruh elemen dalam Pimpinan Pusat bergerak dinamis dan efektif sesuai peran yang harus dilaksanakannya.
Muktamar XVI adalah kesempatan untuk meneguhkan kembali cita-cita besar tersebut. Sebuah momentum untuk memastikan bahwa Tapak Suci tidak hanya mampu menjaga warisan masa lalu, tetapi juga siap menjemput masa depan.
Dari forum inilah diharapkan lahir gagasan, kebijakan, dan kepemimpinan yang mampu membawa Tapak Suci menjadi organisasi yang semakin modern, profesional, berpengaruh, dan mendunia, tanpa kehilangan akar tradisi yang menjadi sumber kekuatannya.

