Lebaran Penuh Toleransi, Mahasiswa Non-Muslim UM Bandung Ikut Rasakan Hangatnya Silaturahmi

Suara Muhammadiyah

25 March 2026

765
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Jarak ribuan kilometer antara Kabupaten Sarmi, Papua, dan Kota Bandung tidak menghalangi Gracella Weyasu untuk merasakan makna “pulang” pada Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Di tengah suasana perantauan yang sepi saat libur lebaran, dia justru menemukan kehangatan yang tak terduga.

Mahasiswa non-muslim tersebut mendapatkan rumah kedua di kediaman sahabatnya, Nurul Hasyanah, mahasiswa Prodi PIAUD UM Bandung. Tanpa memandang perbedaan suku ataupun agama, Nurul dan keluarganya membuka pintu kebersamaan dengan penuh keikhlasan.

Grace, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa kehidupan sebagai perantau membuatnya harus terbiasa dengan kesendirian. Kondisi itu semakin terasa saat harga tiket pulang kampung melonjak tinggi, sedangkan teman-temannya memilih kembali ke kampung halaman.

Di tengah situasi tersebut, ajakan Nurul menjadi titik balik yang membahagiakan. Senior yang telah dia anggap sebagai kakak itu mengundangnya untuk merayakan lebaran bersama keluarga di Baleendah, Kabupaten Bandung. “Kamu jangan sendirian di kos, ikut teteh saja ke rumah. Ibu sudah tanya terus kapan Grace datang ke rumah,” kenang Grace.

Sesampainya di rumah Nurul, Grace disambut dengan penuh kehangatan. Dia bahkan dibuatkan baju lebaran seragam layaknya anggota keluarga lainnya. Meski berbeda keyakinan, dia tidak diperlakukan berbeda sedikit pun.

Tak hanya menjadi tamu, Grace juga ikut terlibat dalam berbagai persiapan menjelang hari raya. Dia membantu membersihkan rumah hingga membuat kue kastengel bersama ibu dan Nurul. “Ada rasa bangga saat aku ikut membersihkan rumah. Aku merasa menjadi bagian dari persiapan menyambut tamu,” ungkapnya.

Menurut Nurul, keputusan mengajak Grace telah melalui persetujuan keluarga. Orang tuanya menyambut baik kehadiran Grace dan menganggapnya seperti anak sendiri, terlebih mengetahui dia harus merayakan libur Idul Fitri seorang diri di kos.

Selama tinggal bersama, Grace menunjukkan ketertarikan besar untuk memahami makna Ramadhan dan tradisi Idul Fitri. Dia bahkan ikut berbuka puasa dan menyimak berbagai penjelasan tentang nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya. “Gracella banyak belajar tentang bulan suci Ramadhan dan sangat antusias,” jelas Nurul.

Puncak kebersamaan terjadi saat pagi Idul Fitri. Grace turut berangkat ke masjid mengenakan pakaian seragam keluarga dan menyaksikan pelaksanaan salat Id dari saf paling belakang dengan penuh haru. Momen itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.

Setelahnya, dia ikut bersilaturahmi, bersalaman dengan tetangga, hingga menikmati hidangan bersama keluarga besar Nurul. “Momen bersalaman dan bermaaf-maafan itu menjadi puncak dari segalanya. Pelukan hangat yang kuterima memberitahuku bahwa rumah bukanlah soal tempat lahir, melainkan di mana kita disayangi,” tuturnya.

Kisah mahasiswa non-muslim UM Bandung ini menegaskan bahwa toleransi dan kasih sayang mampu melampaui sekat perbedaan. Hal itu juga sekaligus mencerminkan nilai Islam yang menjunjung tinggi keberagaman, khususnya di momen Hari Raya Idul Fitri.***(FK)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) P....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menggelar simulasi dan ed....

Suara Muhammadiyah

25 January 2026

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah — Ratusan goweser dari berbagai komunitas di Magelang Raya mengge....

Suara Muhammadiyah

10 August 2025

Berita

BAHAUR, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Daerah Nasyiatul 'Aisyiyah (PDNA) Pulang Pisau melaksana....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Berita

MANGGARAI TIMUR, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan me....

Suara Muhammadiyah

23 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah