Lelah yang Kita Samakan dengan Tangguh

Suara Muhammadiyah

3 July 2026

398
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Lelah Yang Kita Samakan dengan Tangguh; Ketika “Normal Baru” Menjadi Normalisasi Kemunduran

Oleh: Agoes Soebeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II, Jakarta Timur

Kita menyebutnya “normal baru”. Padahal yang terjadi mungkin “normal yang baru saja turun kelas”.

Mall ramai lagi. Jalanan macet lagi. Notifikasi HP tak pernah berhenti. Kita tampak sibuk, produktif, dan tangguh. Tapi coba jujur: berapa banyak dari kita yang pulang ke rumah hanya untuk rebah, menatap layar, dan merasa kosong?

Mungkin kita tidak sedang bangkit. Mungkin kita hanya sudah terlalu lelah untuk protes.

Di balik kesan “baik-baik saja”, ada kelelahan sosial yang berlangsung diam-diam. Ia tidak masuk IGD, tidak tercatat di statistik, dan jarang disebut dalam khutbah. Ia tinggal di dada guru yang mengajar dengan senyum padahal batinnya terkuras. Di pundak orang tua yang tetap lembur walau daya beli terus tergerus. Di mata anak muda yang men-scroll kabar krisis setiap malam sampai hatinya kebal.

Laporan Digital 2024 Indonesia mencatat, masyarakat kita menghabiskan rata-rata lebih dari tujuh jam sehari di internet. Sebagian besar untuk media sosial. Arus informasi itu isinya konflik, krisis, dan kecemasan tanpa jeda. 

Akibatnya muncul apa yang disebut peneliti sebagai compassion fatigue, kelelahan empati. Bukan karena kita tidak peduli. Tapi karena kapasitas batin sudah habis. Terlalu banyak luka dunia yang kita tonton, sampai kita kehilangan energi untuk merasakannya secara sehat.

Kelelahan ini bertemu dengan kenyataan ekonomi yang belum pulih. Keluarga masih berjuang menjaga dapur tetap mengepul. Kualitas konsumsi dikompromikan demi bertahan. Di pendidikan, dampak learning loss pascapandemi masih terasa. Di kesehatan, banyak yang menunda berobat karena takut biaya.

Yang paling berbahaya bukan semua itu. Tapi ketika kita mulai menganggapnya biasa. 

Kita mulai memaklumi antrean layanan publik yang panjang. Kita pasrah dengan mutu sekolah yang belum optimal. Kita diam saat ruang digital dipenuhi informasi menyesatkan. Lama-lama, standar yang menurun diterima sebagai kewajaran.

Di sinilah “normal baru” perlu dikritisi. Tidak semua adaptasi adalah kemajuan. Ada kalanya kita beradaptasi dengan cara menurunkan standar. Dan itu bukan ketahanan. Itu penyerahan.

Masyarakat yang lelah cenderung menurunkan ekspektasi. Daya kritis melemah bukan karena bodoh, tapi karena energi untuk memperjuangkan perubahan sudah habis dipakai untuk bertahan hari ini.

Padahal demokrasi butuh warga yang sadar dan terlibat. Pembangunan manusia butuh umat yang punya harapan dan keberanian menuntut hidup lebih baik. 

Islam mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [QS. Ar-Ra’d: 11]. 

Ayat itu menolak kepasrahan. Ia menuntut kesadaran bahwa ada yang salah, dan ada tenaga untuk memperbaikinya. 

Masalahnya, kelelahan kolektif merampas keduanya. Yang tersisa hanya satu kalimat: “Yang penting bisa hidup hari ini.” Soal martabat, mutu pendidikan, tata kelola yang bersih, ditunda. 

Muhammadiyah lahir dari gerakan tajdid, pembaruan. Dari keberanian menolak membiasakan yang buruk. Jika kita diam saja saat penurunan standar dinormalkan, maka kita sedang mengkhianati ruh gerakan itu.

Jalan Pulang dari Kelelahan Kolektif

Karena itu, kelelahan sosial tidak boleh dianggap urusan pribadi. Ini urusan bangsa.

Pemerintah perlu menaruh kesejahteraan psikologis sebagai indikator kebijakan, setara dengan pertumbuhan ekonomi. Rakyat tidak bisa produktif jika jiwanya terluka.

Dunia pendidikan harus menempatkan kesehatan mental peserta didik dan guru sebagai bagian inti proses belajar, bukan program tambahan. Sekolah harus jadi rumah yang memulihkan, bukan pabrik yang menguras.

Layanan kesehatan mental harus diperluas, mudah diakses, dan bebas stigma. Kuat bukan berarti menanggung semuanya sendirian.

Literasi digital harus naik kelas. Tidak cukup bisa membedakan hoaks dan fakta. Kita perlu belajar mengelola konsumsi informasi, membuat batas, dan memberi “ruang jeda” dari notifikasi yang tak pernah berhenti.

Media massa juga punya tanggung jawab. Fungsi kontrol penting, tapi umat juga butuh narasi harapan. Cerita tentang komunitas yang bangkit, inovasi desa, guru yang menginspirasi, dan UMKM yang bertahan, harus mendapat ruang yang adil.

Langkah pertama paling jujur adalah pengakuan. 

Tidak semua yang tampak normal itu sehat. Tidak semua yang diam itu kuat. Kadang, seseorang terlihat tegar hanya karena sudah terbiasa memikul beban yang terlalu berat.

Bangsa maju tidak diukur dari seberapa pandai ia bertahan dalam luka. Bangsa maju adalah bangsa yang menjaga martabat, kualitas hidup, dan kesehatan lahir-batin warganya.

Jika kelelahan sosial ini terus kita abaikan, yang kita wariskan ke generasi mendatang bukan ketangguhan. Tapi keletihan yang diwariskan turun-temurun. 

Dan itu harga yang terlalu mahal untuk sebuah bangsa yang sedang menatap masa depan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Betlehem, Benarkah Tempat Kelahiran Yesus? Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universi....

Suara Muhammadiyah

17 January 2025

Wawasan

Cinta dalam Lensa Ibnu Hazm: Perjalanan Melalui Hati dan Pikiran Oleh: Dwi Kurniadi, Kader IMM Pond....

Suara Muhammadiyah

11 April 2025

Wawasan

Piawai Mengeksekusi Penulis: Iu Rusliana, Dosen Ilmu Manajemen Sumber Daya Insani Program MM Uhamka....

Suara Muhammadiyah

30 January 2026

Wawasan

Sumpah Jabatan: Makna Konstitusional dan Spiritual Oleh: Immawan Wahyudi, Dosen Fakultas Hukum UAD ....

Suara Muhammadiyah

9 December 2024

Wawasan

Anak Ndeso; Belajar Dari Pengalaman Prof Dr. Romo Kyai Haji Abdul Mu’ti  Oleh: Saidun De....

Suara Muhammadiyah

8 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah