Lima Hal Strategis untuk Kemajuan Muhammadiyah

Publish

5 December 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1030
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

KUPANG, Suara Muhammadiyah - Melihat kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah di berbagai bidang, tentu merupakan bukti akan keberhasilan Muhammadiyah dalam membawa bahtera Persyarikatan melintasi berbagai zaman. Mengingat, sudah lebih se-abad Persyarikatan ini berdiri dan tetap mempertahankan eksistensinya hingga hari ini.

Namun bersamaan dengan itu Muhammadiyah tetap muhasabah, juga perlunya dinamisasi, rekontruksi, revitalisasi bahkan transformasi. Hal ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Pidato Iftitah Tanwir pada Rabu (4/12).

Haedar mengupas tuntas berbagai macam urgensi yang perlu menjadi perhatian bagi Persyarikatan Muhammadiyah. Dalam upaya memaksimalkan pergerakan juga menjadi proyeksi untuk Persyarikatan ke depannya.

Pertama, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) merupakan hal pertama yang perlu menjadi perhatian. Mengingat, disamping amal usaha dalam bidang Pendidikan yang sudah maju, masih ada banyak amal usaha lain yang tergolong level menengah kebawah.

“Kita juga merasakan sekarang bahwa masih banyak amal usaha kita yang levelnya ketika diperbandingkan dengan kemajuan-kemajuan lembaga lain itu berada di menengah ke bawah. Yang tinggi, misalkan perguruan tinggi saja itu 40%, yang 60% masih perlu perjuangan yang keras,” ungkapnya.

Kedua, Keanggotaan Muhammadiyah yang tentunya memerlukan survey tentang jumlah anggota dan simpatisan atau yang merasa menjadi bagian dari Muhammadiyah. Menurut Haedar, dengan mengetahui keanggotaan Muhammadiyah, persyarikatan dapat memaksimalkan potensi kaderisasi, maupun dalam hal pemberdayaan anggota.

Ia juga menyinggung akan pentingnya kehadiran Muhammadiyah di Tengah-tengah komunitas, yang hendaknya dapat mencerdaskan, mencerahkan sekaligus memajukan kehidupan dalam prespektif Islam berkemajuan.

Ketiga, Pemahaman Keagamaan. Haedar Nashir menjelaskan bahwa Muhammadiyah punya risalah islam berkemajuan dan berbagai dokumen paham keislaman yang kaya. Jelasnya, Muhammadiyah menghadirkan paham islam di tengah keragaman dengan cara dakwah tanpa melakukan adjustment yang menghakimi, tetapi tidak memberi alternatif secara strategi dakwah.

“Bilhikmah wal ma'idatil hasanah wajadil hum bil latihihya ahsan,” ucapnya.

Keempat, Hubungan antar ummat beragama. Mengingat kekayaan ragam bangsa Indonesia tentunya menjadi hal yang lumrah dimana sering terdapat isu-isu antar agama.

“Meskipun demikian, umat beragama di Indonesia menjadi kekuatan dan sumber nilai untuk menjadikan Indonesia, tetap menjadi negara yang berketuhanan yang maha esa, menjadikan agama sebagai kekuatan dan sumber nilai kemajuan Indonesia dan menjadikan agama menjadi bagian dari kepribadian bangsa Indonesia,” ujarnya.

Kelima, Peran Islamic Studies atau disebut dengan Diraksa Islamia di perguruan-perguruan tinggi. Haedar Nashir menyatakan bahwa diraksa islamia di perguruan tinggi negeri maupun swasta merupakan kekuatan dan pilar penting untuk membangun Indonesia menjadi Masyarakat yang religius. (Pand)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Riset dan Inovasi (LRI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (....

Suara Muhammadiyah

21 May 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tim Tari Saman SAFIMTA Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universit....

Suara Muhammadiyah

31 January 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Kepemimpinan merupakan bagian penting dalam kehidupan. Ketrampilan kepe....

Suara Muhammadiyah

24 August 2024

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Sumatera U....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Berita

MALAYSIA, Suara Muhammadiyah - Kuliah al Islam dan Kemuhammadiyahan di adakan secara berseri setiap ....

Suara Muhammadiyah

1 August 2025