Literasi Jadi Modal UMKM Bertumbuh dan Mandiri

Suara Muhammadiyah

9 October 2026

85
Dialog UMKM

Dialog UMKM

PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah – Banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bermunculan di tengah masyarakat. Namun, tidak sedikit pelaku usaha yang belum memiliki daya juang dan keberanian untuk mengembangkan bisnisnya. Padahal, keberanian bertumbuh menjadi salah satu kunci agar UMKM mampu bertahan dan mandiri di tengah persaingan ekonomi yang semakin ketat. 

Ketua Lembaga Pengembangan (LP) UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Khafid Sirojudin, mengungkapkan hal tersebut dalam dialog UMKM bertema “Literasi sebagai Modal Membangun Kemandirian Ekonomi dan UMKM”. 

Menurut Khafid, persoalan UMKM tidak semata-mata terletak pada keterbatasan modal atau akses pasar, tetapi juga pada cara berpikir, keberanian mengambil keputusan, dan kesiapan pelaku usaha untuk berkembang. Ia menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai bipolar syariah, obesitas nalar sebagai bagian dari persoalan yang perlu dicermati. 

Dalam konteks ini, literasi menjadi bekal penting bagi pelaku UMKM. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan juga kecakapan memahami, menganalisis, serta mengaplikasikan pengetahuan untuk menghasilkan keputusan dan tindakan yang lebih baik. 

“Apa itu literasi? Kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, memahami, menganalisis, dan mengaplikasikan sesuatu menjadi yang terbaik,” jelasnya di Perpustakaan Purbalingga pada Jumat, 9 Oktober 2026. 

Khafid menekankan bahwa membangun usaha membutuhkan prinsip yang kuat. Ia mengajak pelaku UMKM untuk memegang sejumlah nilai yang menjadi pedoman dalam menjalankan bisnis, mulai dari kehati-hatian, kesederhanaan, hingga konsistensi. 

Pertama, pranoto, yakni menata kehidupan dan usaha dengan baik agar tetap berada di jalur yang benar. Kedua, prasojo, yaitu menjalani hidup secara sederhana dan tidak terjebak dalam keinginan untuk menampilkan kemewahan. 

“Hidup itu prasojo saja. Sugeh macak kere, kere macak sugeh. Repot kalau begitu,” tegasnya. 

Pesan tersebut mengingatkan pelaku usaha agar tidak sibuk membangun citra di hadapan orang lain, tetapi lebih fokus mengelola usaha secara sehat dan sesuai kemampuan. 

Ketiga, prayogo, yakni memilih sesuatu yang terbaik di antara berbagai pilihan. Dalam menjalankan bisnis, prinsip ini penting agar setiap keputusan didasarkan pada pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti tren atau keinginan sesaat. 

Keempat, prayetno, yaitu bersikap waspada dan berhati-hati. Setiap langkah bisnis perlu dipikirkan terlebih dahulu, termasuk dalam mengelola modal, menentukan strategi, dan menghadapi risiko. 

Kelima, prasetyo, yakni setia, istiqamah, dan konsisten terhadap pekerjaan yang dijalani. Menurut Khafid, keberhasilan usaha tidak selalu datang secara instan, tetapi membutuhkan ketekunan dan kesediaan untuk terus belajar. 

Ia juga mengingatkan pelaku UMKM agar membangun semangat kebersamaan dalam kegiatan ekonomi. Salah satu bentuknya adalah tidak berlebihan menawar dagangan pedagang kecil. 

“Jangan suka ngenyang pedagang kecil,” pesannya. 

Sikap tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari cara membangun ekonomi secara berjamaah. Kemandirian ekonomi tidak hanya diukur dari keberhasilan individu, tetapi juga dari kepedulian untuk menguatkan sesama pelaku usaha. 

Khafid mengingatkan bahwa usaha dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk dari rumah. Namun, kegiatan usaha jangan sampai mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan keluarga. 

“Semua usaha bisa dimulai dari rumah, tapi jangan mengorbankan apa yang ada di rumah,” ujarnya. 

Pesan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara pengembangan bisnis dan kehidupan keluarga. Usaha seharusnya menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan, bukan justru menimbulkan persoalan baru dalam rumah tangga. 

Ia juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan baik dalam menjalankan usaha. Kemampuan dan keterampilan tidak tumbuh begitu saja, melainkan melalui latihan serta pengalaman yang dilakukan secara berulang. 

“Bisa karena biasa,” katanya. 

Bagi pelaku UMKM, prinsip tersebut dapat diterapkan melalui kebiasaan mencatat keuangan, meningkatkan kualitas produk, melayani pelanggan dengan baik, dan mengevaluasi perkembangan usaha secara berkala. 

Selain itu, Khafid mengingatkan bahwa pelaku bisnis harus menjunjung tinggi kejujuran. Dalam berdagang, kepercayaan merupakan modal yang tidak kalah penting dibandingkan uang dan jaringan pemasaran. 

“Pembisnis itu tidak boleh salah dan tidak boleh bohong,” tegasnya. 

Pesan itu menjadi pengingat bahwa integritas harus menjadi fondasi bisnis. Pelaku usaha perlu menjaga kepercayaan konsumen melalui informasi produk yang benar, transaksi yang transparan, dan komitmen terhadap kualitas. 

Di tengah perkembangan teknologi, Khafid mengajak pelaku UMKM untuk memanfaatkan peluang ekonomi digital tanpa kehilangan orientasi utama dalam membangun usaha. 

Menurutnya, saat ini masyarakat berada dalam era ekonomi digital. Namun, ke depan, perhatian juga akan semakin besar terhadap ekonomi hijau atau green economy, yang menekankan keberlanjutan dan kepedulian terhadap lingkungan. 

“Digital ekonomi itu bukan tujuan, tapi hanya sarana. Kita boleh berdigital ria, tapi ingat itu cuma sarana,” ungkapnya. 

Dengan demikian, pemanfaatan teknologi digital semestinya diarahkan untuk memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, memperbaiki pelayanan, dan memperkuat daya saing produk. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai usaha yang lebih produktif dan berkelanjutan. 

Khafid juga mengingatkan pelaku UMKM agar tidak takut menghadapi persaingan. Persaingan merupakan bagian dari dinamika bisnis yang perlu dihadapi dengan meningkatkan kualitas dan menemukan keunggulan produk. 

Di sisi lain, ia menyoroti persoalan yang kerap menghambat perkembangan usaha, yakni ketidaksiapan pelaku UMKM ketika bisnisnya mulai membesar. Tidak semua pelaku usaha siap menghadapi perubahan skala bisnis, peningkatan permintaan, atau kebutuhan pengelolaan yang lebih kompleks. 

Karena itu, keberanian untuk bertumbuh perlu diimbangi dengan pengetahuan, perencanaan, kedisiplinan, dan kesiapan mengelola risiko. 

Melalui penguatan literasi, Khafid berharap pelaku UMKM tidak hanya mampu memulai usaha, tetapi juga mengembangkannya secara konsisten. Kemandirian ekonomi pada akhirnya membutuhkan lebih dari sekadar keberanian berjualan: diperlukan kemampuan berpikir jernih, bertindak bijak, menjaga kepercayaan, serta membangun usaha yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan masyarakat. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah - TPQ Aisyiyah Pengalusan sukses menyelenggarakan Pesantren Kilat Ra....

Suara Muhammadiyah

26 March 2025

Berita

MALAYSIA, Suara Muhammadiyah - Pengurus Forum Silaturahmi Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah (Fosk....

Suara Muhammadiyah

23 September 2026

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah –  Anggota Majelis Hukum dan Hak Asasai Manusia (MHH) PP Muhamm....

Suara Muhammadiyah

12 September 2023

Berita

TASIKMALAYA, Suara Muhammadiyah - Stan promosi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendapat perhat....

Suara Muhammadiyah

18 February 2025

Berita

Badan Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan Karier dan Alumni (BPPKA) Univeritas Muhammadiyah Pro....

Suara Muhammadiyah

24 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah