BANTUL, Suara Muhammadiyah — Sebanyak 750 anak asuh dari 24 panti asuhan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadiri kegiatan Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah ‘Aisyiyah se-DIY yang diselenggarakan oleh MPKS PWM DIY bekerja sama dengan LPSI UAD, LAZISMU UAD, dan RDK 1447 H. Kegiatan tersebut digelar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Kamis, 26 Februari 2026 M/9 Ramadan 1447 H.
Acara ini menjadi ajang silaturahim sekaligus penguatan semangat pendidikan bagi anak-anak asuh di lingkungan LKSA Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua PWM DIY Dr. Nurrahmat Ghazali, Ketua MPKS DIY Zaenal Arifin, Kabid Kemasyarakatan LPSI UAD Saeful Efendi, M.Pd., P.I., Ketua LAZISMU UAD Sunu Prasetyo Adi, M.E., serta Ketua LPSI UAD Rahmadi Wibowo Suwarno, Lc., M.Hum.
Dalam sambutannya, Zaenal Arifin menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan silaturahim di kampus yang menjadi kebanggaan keluarga besar Muhammadiyah tersebut. Ia menegaskan bahwa UAD merupakan kampus milik bersama warga persyarikatan.
Ia memotivasi para anak asuh untuk berani memiliki cita-cita besar. Mengutip semangat bahwa semua bisa kuliah di UAD, ia mengajak anak-anak untuk bermimpi setinggi langit. “Kalau pun jatuh, tetap berada di antara bintang-bintang,” ujarnya.
Zaenal juga mengingatkan agar keterbatasan tidak menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, kesungguhan dan semangat pantang menyerah akan membuka jalan pertolongan Allah Swt. Ia menambahkan bahwa peluang beasiswa masih terbuka dan mendorong siswa kelas 2 dan 3 untuk mulai mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan tinggi.
Sambutan berikutnya disampaikan Saeful Efendi yang mewakili Rektor UAD. Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh tamu di Masjid Islamic Center UAD yang menjadi salah satu ikon masjid terbesar di kawasan Jogja Selatan.
Ia menjelaskan bahwa LAZISMU UAD menyiapkan paket bingkisan berupa alat tulis dan perlengkapan mandi untuk anak-anak asuh yang hadir. Selain itu, UAD juga membuka peluang beasiswa khusus bagi kader Muhammadiyah dan anak-anak yang memiliki hafalan Al-Qur’an, termasuk yang telah mencapai 10 juz atau lebih.
Menurutnya, kader dari LKSA Muhammadiyah memiliki nilai ideologis yang kuat dan potensial untuk melanjutkan pendidikan di UAD. Ia pun memohon doa agar UAD terus berkembang dan semakin luas manfaatnya bagi umat.
Sementara itu, Dr. Nurrahmat Ghazali menyampaikan bahwa kegiatan silaturahmi dan buka bersama tersebut merupakan agenda rutin MPKS PWM DIY yang pada tahun-tahun sebelumnya juga digelar di kampus Muhammadiyah lainnya. Ia menyebut kehadiran 750 anak asuh sebagai capaian yang progresif dan membanggakan.
Ia menegaskan bahwa kepedulian terhadap anak yatim merupakan implementasi spirit Al-Ma’un yang diajarkan oleh Ahmad Dahlan. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan yang ramah anak di lingkungan LKSA, tanpa kekerasan fisik maupun verbal, baik antar anak maupun dari pengasuh kepada anak asuh.
Menurutnya, pendidikan di lingkungan Muhammadiyah harus berlandaskan nilai humanisme, membebaskan, dan transendental. Ia juga mendorong kolaborasi antarpanti asuhan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di DIY tanpa persaingan tidak sehat, melainkan saling mendukung dan menguatkan.
Kegiatan dilanjutkan dengan kajian menjelang berbuka puasa yang disampaikan Rahmadi Wibowo Suwarno dengan tema “Ramadan sebagai Madrasah Kehidupan: Membentuk Karakter, Disiplin, dan Spirit Keilmuan.”
Dalam kajiannya, ia menegaskan bahwa ibadah umat Islam berlandaskan kalender Hijriah. Ia mengingatkan pentingnya memahami bulan-bulan Hijriah karena ibadah utama seperti puasa, zakat, Idulfitri, dan Iduladha menggunakan sistem penanggalan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa Ramadan merupakan madrasah dengan kurikulum, metode, dan tujuan yang jelas. Kurikulumnya adalah Al-Qur’an dan Sunnah, metodenya melalui puasa dan ibadah, serta tujuannya membentuk ketakwaan sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an.
Menurutnya, ketakwaan bukan sekadar rasa takut, tetapi kesadaran untuk mendekat kepada Allah dan menghindari segala bentuk azab, baik di dunia maupun akhirat. Ia mengaitkan hal tersebut dengan pentingnya pola hidup sehat, kebersihan, kedisiplinan ibadah, serta semangat menuntut ilmu.
Rahmadi juga menekankan bahwa kemiskinan dan kebodohan merupakan bentuk kesengsaraan dunia yang harus diatasi melalui pendidikan dan kemandirian ekonomi. Dalam konteks itu, ia menyoroti peran lembaga pendidikan Muhammadiyah dan LAZISMU dalam membebaskan umat dari kebodohan dan kemiskinan.

