YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., mengingatkan para lulusan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) agar mampu menjadi penjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat.
Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Wisuda dan Pelepasan Thalabah PUTM 2026 di Ballroom Prime UMY Hotel, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026). Sebanyak 52 lulusan diwisuda dan 44 thalabah dilepas untuk menjalani masa pengabdian di berbagai wilayah.
Haedar menilai para lulusan PUTM tidak sekadar menyelesaikan pendidikan akademik. Mereka memiliki mandat untuk membawa nilai Islam Berkemajuan sekaligus menjadi kader yang mampu menjawab persoalan masyarakat di tengah era disrupsi.
Dalam amanatnya, Haedar membahas perubahan sosial yang berlangsung cepat sebagai konsekuensi dari social disruption. Salah satu perkembangan paling besar yang dihadapi manusia saat ini adalah kemunculan kecerdasan buatan. Menurutnya, perkembangan teknologi tersebut membawa manfaat besar, tetapi juga menghadirkan tantangan serius apabila manusia kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
Ia menyoroti gejala ketergantungan manusia terhadap perangkat digital. Ketergantungan tersebut bahkan membuat manusia merasa sangat kehilangan ketika tidak membawa telepon seluler. “Sekarang, kalau suami atau istri yang ketinggalan mungkin tidak terlalu cemas. Tapi kalau ponsel yang ketinggalan, rasanya seperti kiamat sugra,” seloroh Haedar.
Menurutnya, perkembangan AI juga berpotensi mengubah banyak jenis pekerjaan manusia. Kemampuan mesin dalam melakukan berbagai pekerjaan secara otomatis dapat menggantikan sejumlah pekerjaan teknis apabila manusia tidak meningkatkan kualitas dan kapasitasnya.
Namun, Haedar menegaskan bahwa kecerdasan teknologi tidak identik dengan kemanusiaan. AI dapat mengolah data dan menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi tidak memiliki hati nurani untuk menentukan apa yang baik, buruk, pantas, atau tidak pantas.
Di tengah perkembangan tersebut, Haedar mengajak para kader PUTM kembali memahami hakikat manusia sebagai makhluk yang diciptakan dalam bentuk terbaik, fi ahsani taqwim.
Menurutnya, manusia memiliki dua instrumen penting yang menjadi pembeda dari teknologi, yakni al-qalb atau hati dan al-aql atau akal.
Akal memungkinkan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara hati nurani menjadi sumber nilai, moral, adab, dan kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuan tersebut.
Karena itu, Haedar mengingatkan agar para ulama tidak hanya menjadi manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kepekaan kemanusiaan.
Kombinasi akal dan hati tersebut diperlukan agar manusia mampu menjalankan dua fungsi sekaligus, sebagai Abdullah dan Khalifatullah. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak berhenti pada kemampuan teknis, tetapi diarahkan untuk membangun peradaban yang berkemajuan dan memberikan kemaslahatan.
Lulusan PUTM sebagai “Kopassus” Muhammadiyah
Dalam kesempatan tersebut, Haedar juga mengungkapkan perhatian khususnya terhadap para lulusan PUTM. Ia menyampaikan bahwa 52 ijazah wisudawan PUTM ditandatangani secara langsung olehnya.
“Saya jejerkan di meja saya yang besar, saya tunggu kering satu per satu baru dimasukkan kembali ke map,” tutur Haedar.
Tindakan tersebut menjadi simbol perhatian dan penghargaan terhadap kader-kader yang dipersiapkan untuk menjalankan tugas pengabdian dan dakwah Muhammadiyah.
Sebelumnya, lulusan PUTM kerap dianalogikan sebagai “Kopassus” Muhammadiyah, yakni kader khusus yang dipersiapkan untuk menghadapi tantangan dakwah dan persoalan keumatan yang membutuhkan kapasitas keilmuan serta keteguhan ideologis.
Karena itu, Haedar meminta para lulusan tidak menjadikan ijazah sebagai akhir perjalanan. Sebaliknya, kelulusan harus menjadi awal dari pengabdian yang lebih luas di tengah masyarakat.
Haedar juga menekankan pentingnya penguasaan Manhaj Tarjih secara utuh. Menurutnya, kader ulama Muhammadiyah perlu memahami pendekatan bayani, burhani, dan irfani secara seimbang.
Pendekatan bayani memberikan kekuatan pada teks dan sumber ajaran, burhani memberikan landasan rasional dan keilmuan, sementara irfani menghadirkan dimensi penghayatan, rasa, dan kedalaman spiritual.
Haedar mengingatkan agar kehidupan beragama tidak menjadi terlalu kaku karena hanya mengedepankan aspek rasional dan tekstual.
“Jangan sampai orang Muhammadiyah meninggal dianggap seperti kucing yang langsung dikubur tanpa doa karena takut dianggap tidak rasional,” ujarnya.
Menurut Haedar, doa merupakan bagian dari tuntunan agama, sementara rasa duka merupakan bagian dari dimensi kemanusiaan yang tidak boleh dihilangkan dalam kehidupan beragama.
Ia juga mendorong para kader PUTM untuk terlibat dalam proyek-proyek intelektual Muhammadiyah, termasuk pengembangan dan penyelesaian Tafsir At-Tanwir sebagai salah satu karya penting dalam pengembangan pemikiran Islam Berkemajuan.
Dalam amanatnya, Haedar kembali menegaskan lima karakter Islam Berkemajuan yang harus menjadi identitas kader Muhammadiyah.
Pertama, mabda' at-tauhid, yakni menjadikan tauhid sebagai fondasi kehidupan. Kedua, ruju' ilal Qur'an was Sunnah, yakni kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam.
Ketiga, ihya al-ijtihad wa tajdid, yaitu menghidupkan semangat ijtihad dan pembaruan. Keempat, tanmiatul wasathiyah, yakni mengembangkan sikap moderat dan berkeadaban. Kelima, tahqiq rahmatan lil alamin, yaitu mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam melalui kemaslahatan nyata.
Haedar juga mengangkat sosok Buya Ahmad Syafii Maarif sebagai salah satu teladan dalam kehidupan ber-Muhammadiyah. Menurutnya, Buya merupakan sosok pemikir yang independen, tetapi mampu menempatkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan dan sistem Persyarikatan ketika mendapat amanah memimpin Muhammadiyah.

