"Marron 5.0" Jalan Baru Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah di Era Teknologi Digital

Publish

14 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
83
Dok Istimewa

Dok Istimewa

"Marron 5.0" Jalan Baru Gerakan Mahasiswa Muhammadiyah di Era Teknologi Digital

Oleh: Ahmad Hasan (Yoan Pramoga), Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berdiri pada 14 Maret 1964 dikenal sebagai organisasi kaderisasi yang memiliki identitas kuat. Lahir dari rahim Muhammadiyah, IMM memiliki tujuan besar yaitu membentuk akademisi Islam yang berakhlak mulia. Tujuan ini kemudian dirumuskan dalam Trilogi Ikatan, yaitu Keagamaan, Kemahasiswaan dan Kemasyarakatan. Lalu ditegaskan melalui konsep Tri Kompetensi Dasar, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Ketiga nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun karakter kader IMM, agar tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan moralitas yang kuat.

Namun, perjalanan organisasi tidak pernah terlepas dari perubahan zaman. Generasi IMM hari ini hidup di dunia yang jauh berbeda dibandingkan masa awal berdirinya Ikatan. Karena itu, refleksi terhadap arah gerakan menjadi sangat penting agar organisasi tetap relevan dengan perkembangan kehidupan di tengah masyarakat.

Dunia saat ini sedang memasuki era Society 5.0, yaitu sebuah fase peradaban ketika teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, dan internet of things dimanfaatkan untuk membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Era ini menempatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menggantikan peran manusia.

Di Indonesia sendiri, perkembangan teknologi digital terus meningkat. Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 229 juta orang atau sekitar 80 persen dari total populasi. Fakta ini menunjukkan tentang kehidupan masyarakat yang semakin terhubung dengan dunia digital.

Situasi ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Informasi bisa diakses dengan mudah, tetapi di sisi lain juga muncul berbagai persoalan baru seperti hoaks, polarisasi opini publik, hingga krisis literasi digital. Jika generasi muda tidak memiliki kemampuan berpikir kritis, maka mereka bisa saja terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan.

Di sinilah peran organisasi mahasiswa menjadi sangat penting. IMM tidak boleh hanya menjadi ruang aktivitas seremonial, tetapi harus menjadi tempat pembinaan kader yang mampu membaca perubahan zaman.

Makna Marron 5.0 bagi Gerakan IMM

Istilah Marron 5.0 dapat dimaknai sebagai upaya untuk membawa semangat Ikatan memasuki era baru. Marron tetap menjadi simbol identitas, tetapi gerakannya harus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat modern.

Marron 5.0 berarti kader IMM tidak hanya aktif dalam forum diskusi atau kegiatan organisasi, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk memperluas pengaruh gagasan. Dakwah intelektual yang dahulu dilakukan melalui mimbar kampus, kini dapat diperluas melalui media digital seperti artikel, podcast, video edukasi, hingga platform media sosial.

Gerakan mahasiswa di era digital tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Ide dan gagasan bisa menyebar dengan cepat kepada masyarakat luas. Jika kader IMM mampu memanfaatkan ruang digital secara bijak, maka gerakan Ikatan dapat memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.

Salah satu kekuatan utama IMM sejak awal adalah tradisi intelektual. Banyak kader Ikatan yang dikenal aktif menulis, berdiskusi, dan menyampaikan gagasan kritis terhadap berbagai persoalan bangsa. Tradisi ini harus terus dijaga bahkan diperkuat di era Society 5.0.

Mahasiswa hari ini tidak cukup hanya mengandalkan semangat aktivisme. Mereka juga harus memiliki kemampuan membaca data, memahami fakta, serta menyusun argumentasi yang kuat. Dengan kata lain, gerakan mahasiswa harus berbasis pada pengetahuan.

Data dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 9 juta orang. Jumlah yang besar ini merupakan potensi luar biasa bagi perkembangan intelektual bangsa. Namun potensi tersebut jauh lebih bermakna jika para mahasiswanya memiliki budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis.

Penguatan intelektualitas bisa dilakukan melalui berbagai cara seperti forum kajian, riset sederhana, hingga publikasi tulisan di media massa. Langkah ini penting agar gagasan kader tidak hanya berhenti di ruang diskusi, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kader IMM sebagai Agen Perubahan Sosial

Selain memiliki kemampuan intelektual, kader IMM juga diharapkan mampu berperan sebagai agen perubahan sosial. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika kehidupan bangsa. Mereka harus hadir sebagai bagian dari solusi.

Banyak persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia saat ini, mulai dari ketimpangan pendidikan, kemiskinan, hingga persoalan lingkungan. Dalam konteks ini, kader IMM dapat mengambil peran melalui berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, gerakan literasi, maupun inovasi sosial.

Peran tersebut sejalan dengan semangat humanitas yang menjadi bagian dari Tri Kompetensi Dasar IMM. Humanitas mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus memberi manfaat bagi kehidupan manusia. Dengan kata lain, intelektualitas kader harus selalu diiringi dengan kepedulian sosial.

Refleksi tentang Marron 5.0 mengingatkan bahwa organisasi mahasiswa harus terus berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. Perubahan zaman memang tidak bisa dihindari, tetapi nilai dasar organisasi harus tetap menjadi pegangan.

IMM memiliki warisan nilai yang sangat kuat, yaitu Islam Berkemajuan, tradisi intelektual, serta semangat pengabdian kepada masyarakat. Nilai-nilai inilah yang harus menjadi fondasi dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial.

Jika kader IMM mampu memanfaatkan peluang ini dengan baik, maka Marron tidak hanya akan tetap relevan, tetapi juga menjadi simbol gerakan mahasiswa yang adaptif, cerdas, dan berakhlak.

Pada akhirnya, Marron 5.0 bukan sekadar istilah baru, tetapi sebuah refleksi tentang bagaimana Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.

Dengan menjaga nilai religiusitas, memperkuat intelektualitas, dan memperluas humanitas, kader IMM dapat menjadi generasi yang tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu memberi arah bagi kemajuan bangsa.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Membangun Badan Usaha Koperasi  Oleh Dr.Ir. Armen Mara, M.Si, Ketua Majlis Ekonomi dan Bisnis ....

Suara Muhammadiyah

9 July 2024

Wawasan

Oleh: Gunawan Trihantoro Perjalanan Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang kini memasuki usia 62 tahu....

Suara Muhammadiyah

31 July 2025

Wawasan

Mengikis Sifat Egois Oleh: Akhmad Wahyudi, Mudarris Ma’had Imam Malik Universitas Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

25 April 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Surah Al-Fatihah bukanlah surah....

Suara Muhammadiyah

12 January 2024

Wawasan

Menimbang Solusi Dua Negara Palestina–Israel dalam Perspektif Keadilan dan Karomah Insaniyah ....

Suara Muhammadiyah

31 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah