Masjid Harus Menjadi Pusat Gerakan Dakwah dan Membahagiakan Jamaah

Suara Muhammadiyah

13 September 2026

270
Muhammad Jamaludin Ahmad, SPsi., Psikolog. Foto: Cris

Muhammad Jamaludin Ahmad, SPsi., Psikolog. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebagai bagian sentral dalam kehidupan, keberadaan masjid keberfungsiannya sangat multifungsi. Bagi Muhammadiyah, masjid dijadikan sebagai pusat gerakan dakwah Islam.

“Sebagai sebuah organisasi pusatnya Muhammadiyah memang di Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Namun, sebagai gerakan dakwah, pusatnya Muhammadiyah yang sesungguhnya adalah di Cabang Ranting dan Masjid,” tegas Muhammad Jamaludin Ahmad.

Kenapa pusatnya di situ? “Karena di situ berkumpulnya jamaah,” lanjutnya. Khususnya masjid, yang setiap hari selalu datang jamaah, baik untuk menunaikan salat atau sekadar berhenti rehat setelah menempuh perjalanan musafir.

Sorotan permukaan menampakkan, kondisi masjid saat ini banyak yang sepi jamaah. “Jangan sampai terjadi di masjid Muhammadiyah,” tekan Jamal, Ahad (13/9) saat Kajian Rutin Ahad Pon di Masjid Al Furqon, Nitikan Baru, Kota Yogyakarta.

Jamal berkata, shalat itu mesti dilakukan berjamaah di masjid. Dan itu mesti digeliatkan kembali jika masih ada masjid yang sepi jamaah.

“Jamaah terbaik di lakukan di masjid saking banyaknya keutamaan,” ujar Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid PP Muhammadiyah tersebut.

Sebab di situlah sebagai bagian dari kategorisasi masjid dikatakan makmur. Karena itu, untuk mencapai pada kategorisasi tersebut, seyogyanya perlu mengubah paradigma berpikir.

“Kalau ada masjid Muhammadiyah yang sepi jamaah, apakah kita akan serius seperti mengelola rumah sakit, universitas, dan sekolah?” tanya Jamal, mengajak dan menekankan konteks itu.

“Kalau bisa lebih bagus dibanding mengelola AUM, sehingga nanti infaknya banyak, jamaahnya luar biasa, dan kegiatannya luar biasa,” tuturnya.

Selain itu, pengelola masjid mesti diperbarui. Jamal menyarankan, anak muda harus dilibatkan dalam mengurus masjid. “Yang senior-senior wajib (ada), tetapi yang melaksanakannya adalah anak-anak muda,” pintanya.

Jamal optimis dan yakin anak-anak muda mampu mengelola masjid dengan baik. Selagi, ada arahan dan bimbingan dari para pengurus senior. “Insyaallah masjidnya makmur,” sambungnya.

Lebih jauh lagi, masjid harus menjadi tempat yang membahagiakan. “Datang dan pulang dengan gembira,” kata Jamal. Parameternya, dari sisi fasilitasnya; bersih dan wangi.

“Kalau orang datang ke masjid, Insyaallah masjid bukan sumber setres. Karena masih banyak masjid jadi sumber setres,” ungkapnya, dibuktikan fakta empirik, masjid dikunci, kamar kecil dikunci, sehingga terkesan tidak terbuka (inklusif) untuk semua kalangan (jamaah).

“Masjid harus dibuat jadi tempat yang menyenangkan,” imbuh Jamal.

Juga, dari sisi takmirnya. Jamal mendorong takmir masjid harus mencontohkan untuk memakmurkan masjid. “Kita harus jadi pelopor agar orang lain bisa memakmurkan masjid,” bebernya. Dan, orang tua harus menggerakkan anak-anaknya salat berjamaah di masjid.

“Salat tidak mudah. Butuh suami didukung isteri. Isteri didukung suami, anak didukung orang tuanya,” menggarisbawahi lebih lanjut. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Rektor UMJ Dilantik Jadi Ketua Umum Fokal IMM Periode 2023-2028  JAKARTA, Suara Muhammadiyah -....

Suara Muhammadiyah

29 October 2023

Berita

CIREBON, Suara Muhammadiyah - Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (....

Suara Muhammadiyah

30 November 2024

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – SMP Muhammadiyah 1 Kalasan, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, ....

Suara Muhammadiyah

11 September 2025

Berita

Memajukan Kesejahteraan Bangsa PEKALONGAN, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan &r....

Suara Muhammadiyah

14 December 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Anak harus diberi ruang kreasi sebagai bentuk aktualisasi tal....

Suara Muhammadiyah

18 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah