Masyarakat Indonesia Bisa Bersatu Berkat Integrasi Nilai Agama dan Budaya

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1347
Haedar Nashir

Haedar Nashir

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Indonesia sebagai bangsa besar, telah dianugerahi oleh Allah SwT dengan aneka nikmat dan berkah begitu rupa. Yakni tanah air yang kaya raya, mencakup kekayaan sumber daya alam, juga keanekaragaman hayati melimpah ruah.

Demikian yang tertangkap dari pidato Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat Halal Bi Halal di Auditorium KH A Azhar Basyir Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sabtu (19/4).

“Betapa kayanya Indonesia darat, laut, bahkan udara. Dan itu perlu kita syukuri dan tasyarufkan dengan cara yang terbaik dengan cara memahami sejarah dan eksistensi bangsa ini, sekaligus konstruksi kebangsaan dan keindonesiaan,” ucapnya.

Haedar mengungkapkan, Indonesia terbentuk secara jelas pada akhir era glasial yang terjadi pada kurun waktu kurang lebih 600 ribu tahun yang lalu. “Biarpun proses sebelumnya itu cukup panjang sampai 2,58 juta tahun yang lalu,” katanya.

Lebih rinci lagi, Haedar menyebut, Indonesia juga terbentuk dari atas beragam suku, ras, dan kedaerahan dengan sebaran yang luar biasa, yang membentuk masyarakat majemuk atau Bhineka Tunggal Ika.  “Kita bisa bersatu, dalam keragaman itu. Dengan kawasan yang luas, kita bisa bersatu," sebutnya.

Titik temu dari kebersatuan tersebut, karena ditopang dengan nilai-nilai luhur yang hidup dalam ruang kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu agama dan kebudayaan. Pada zaman dahulu, agama disebut agama setempat. Lalu muncul agama-agama besar seperti Hindu, dan seiring berjalannya waktu, Islam kemudian berkembang dan tumbuh besar.

“Peralihan dari Hindu ke Islam begitu damai. Begitu juga datangnya Kristen, Katolik, dan semuanya. Sehingga itulah yang menjadi nilai luhur kerukunan hidup umat beragama yang dalam perjalanan sejarahnya, tidak pernah ada perang dan konflik yang serius. Karena nilai agama kemudian bisa menyatu dalam kebudayaan luhur yang hidup ditubuh bangsa ini,” tegasnya.

Menurut teori, kepusparagaman (heterogenitas), pada dasarnya tidak bisa bersatu. “Seperti air dan minyak,” ucapnya. Namun, Indonesia menunjukkan eksistensinya yang mana dapat bersatu. “Karena ada dua nilai yang hidup di tubuh bangsa ini. Yang orientasinya adalah damai, harmoni, keluhuran, keadaban, dan nilai-nilai luhur lainnya,” bebernya.

Haedar memandang, semua ini terwujud berkat dedikasi para aktor (seluruh tokoh bangsa) melalui proses pergumulan yang dinamis dan sarat pengorbanan. “Dan kita sekarang mewarisi itu. Tinggal bisa tidak menjaganya,” sambungnya. Sampai kemudian, terbentuk kata Indonesia. “Tidak nama yang lain (Dwipantara, Melayunesia, Insulinde, Swarnadwipa, dan Nusantara). Kalau diganti nama yang lain, mungkin harus Proklamasi lagi,” seloroh Haedar.

Disambung Haedar, para tokoh memilih kata Indonesia karena membawa dua semangat, yaitu identitas diri untuk menunjukkan Indonesia berhak merdeka dan semangat persatuan lewat kodifikasi Sumpah Pemuda dan Kongres Perempuan pada tahun 1928.

“Jadi secara official, wujud dari silaturahmi kebangsaan kita; rawat, jaga kesatuan pemikiran, kesatuan wawasan, yang official itu Indonesia. Agar energi kita tidak masuk pada hal-hal yang sudah baku, lalu kita menjadi kontroversi, lupa pada isi, yakni identitas diri dan persatuan Indonesia,” pungkasnya.

Sementara itu, Rektor UMJ Ma'mun Murod menyampaikan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang hadir dalam acara tersebut. “Terima kasih atas kepercayaan dari PP Muhammadiyah untuk menempatkan UMJ dua kali berturut-turut menjadi Shohibul Bait (tuan rumah) untuk pelaksanaan halal bi halal,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan Jogja ....

Suara Muhammadiyah

7 July 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (FK....

Suara Muhammadiyah

16 June 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 baru saja dilaksanakan pada Rabu....

Suara Muhammadiyah

23 February 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhamamdiyah Prof Dr H Dadang Kahmad, MSi m....

Suara Muhammadiyah

5 July 2024

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Interaksi sosial yang hangat, diskusi warga di serambi, atau pusat lo....

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah