Matinya Kepakaran di Tengah Banjir Informasi

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
159
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Matinya Kepakaran di Tengah Banjir Informasi

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso – Tangerang Selatan

Berapa grup WA yang ada di dalam gawai Anda selama ini? Saya ikut di banyak grup, namun sejujurnya hanya beberapa saja yang betul-betul saya perhatikan dan saya buka setiap saat. Misalnya, grup yang terhubung dengan keluarga inti atau pekerjaan. Selebihnya hanya sesekali saja saya lihat atau komentari, terutama yang lucu, menyenangkan, atau yang bisa menambah pengetahuan baru. Tentu itu sangat bermanfaat dan membuat hidup lebih membahagiakan.

Grup lainnya lebih banyak terabaikan. Bahkan, ada yang jarang sekali saya baca dan rajin saya hapus. Semangatnya adalah membersihkan gawai dari sampah. Mengapa? Salah satunya karena isinya tidak menambah energi positif atau menumbuhkan semangat baru. Biasanya, grup tersebut hanya berisi sebaran informasi yang provokatif, berbau fitnah karena tidak jelas sumber beritanya sehingga berpotensi merusak karakter orang lain yang menjadi sasaran. Terkadang saya tertarik membacanya jika objek dan konteks orang yang dibicarakan memiliki keterkaitan, bisa karena ikatan pertemanan atau persaudaraan. Namun, saya sangat berhati-hati untuk ikut berkomentar dan mengikuti saran teman untuk bersikap, “biarkan saja …”.

Menghadapi grup-grup semacam itu, saya tetap merasa tidak enak jika harus keluar, karena sesekali grup ini bermanfaat, misalnya saat ada informasi yang dimulai dengan kalimat “innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn”.

Mungkin Anda memiliki cerita yang lebih bervariasi terkait cara mengelola batin dan pikiran dalam menghadapi dinamika grup WA. Ada sisi positif yang bisa dipetik. Misalnya, jika cermat, kita bisa membaca karakter asli seseorang melalui perilakunya di dalam grup WA. Ada yang aktif sebagai pembaca pasif, lalu sesekali berkomentar saat ada pertemuan tatap muka. Ada yang hanya berkomentar pendek, memberi isyarat emotikon. Namun, ada juga yang setiap hari mengirimkan salinan informasi tentang apa saja secara beruntun. Sekali mengirim bisa 6–10 tautan berita. Jika ditanya maksudnya, ia dengan enteng menjawab, “iseng saja, mau dibaca syukur, tidak dibaca ya sudah, tidak usah dipikirkan …”.

Biasanya, ciri lain dari orang tersebut adalah jika salinannya akhirnya menjadi perdebatan, apalagi keributan, ia akan sangat bahagia, meskipun ia sendiri sama sekali tidak ikut memberikan komentar. Ia akan memperhatikan semua perbincangan sambil manggut-manggut, tertawa kecil, dan berkata, “kena kalian semua, ha-ha-ha.”

Ada kenyataan lain yang sering saya dapati, yaitu perdebatan sengit di antara mereka yang jika diperhatikan dengan cermat, masing-masing sebenarnya tidak memiliki basis keilmuan dalam topik yang sedang diperbincangkan. Dalam kasus perang Iran versus Amerika–Israel atau dalam hal penentuan awal puasa dan awal bulan Syawal, misalnya, mereka saling adu tulisan dengan sengit, tetapi basis argumentasinya berupa salinan, bahkan video buatan AI yang nyata-nyata hanya dibuat untuk memenuhi selera hiburan pun dijadikan sebagai dasar argumentasi. Herannya, saya jarang sekali mendapati pandangan pribadi yang dimunculkan. Akhirnya, mereka hanya beradu salinan (hasil copas) dari pihak lain.

Fenomena ini terkadang terasa menghibur, tetapi jika sudah melampaui batas, berubah menjadi kekonyolan yang dipertontonkan. Sampai pada tahap tertentu, jika sudah mentok dan tidak ada lagi bahan yang dapat dijadikan argumen, akhirnya mereka mulai menyerang masalah pribadi. Perdebatan pun terus berlanjut hingga terjadi aksi saling merundung, bahkan mencaci-maki. Jujur, tidak ada yang bisa dipetik dari peristiwa semacam ini selain hanya lucu dan konyol. Meskipun demikian, perbincangan semacam itu begitu menyeruak ke publik, mengisi keriuhan ruang-ruang media sosial, dan dapat ditonton oleh banyak orang.

Fenomena seperti inilah yang disebut oleh Mas Kiai Menteri Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum Muhammadiyah, sebagai era matinya kepakaran. Diskursus publik diisi oleh perbincangan dan perdebatan yang sangat riuh, tetapi orang-orang yang memperdebatkannya sebenarnya tidak memiliki basis keilmuan atas apa yang sedang mereka perdebatkan. Namun, tetap gaduh dan riuh.

Di dalam grup WA, perbincangan sering kali didominasi oleh informasi yang tidak jelas sumbernya, namun tersebar secara luas oleh siapa saja tanpa diketahui tingkat kepakarannya. Maka, tidak heran jika grup WA tiba-tiba dipenuhi oleh orang-orang yang tidak memiliki keahlian di topik yang ia sebarkan itu, tetapi sudah merasa ahli. Akibatnya, kita sering mengalami kegaduhan yang luar biasa, sekaligus kesulitan membedakan antara voice (suara yang bermakna) dan noise (kebisingan).

Situasi semacam ini berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap para pakar dan lembaga ilmu pengetahuan, meskipun mereka benar-benar telah teruji dengan tingkat keilmuan berbasis riset. Buku The Death of Expertise: The Campaign Against Established Knowledge and Why It Matters karya Tom Nichols, yang dikutip oleh Mas Kiai Menteri Abdul Mu'ti, membahas fenomena ini dengan lugas.

“Matinya kepakaran” adalah kondisi ketika otoritas dan kepercayaan terhadap para ahli menurun drastis, bukan karena para ahli benar-benar hilang, melainkan karena masyarakat semakin merasa bahwa semua pendapat memiliki nilai yang sama. Pengalaman pribadi dianggap setara dengan riset ilmiah, dan informasi dari internet seolah dapat menggantikan peran pakar. Akibatnya, opini sering dianggap setara dengan fakta.

Kondisi ini dipicu oleh kesombongan intelektual publik yang merasa cukup tahu hanya dari membaca sekilas di internet, menonton video pendek, atau mengandalkan intuisi pribadi, sehingga menimbulkan ilusi pengetahuan. Hal ini diperparah oleh peran internet dan media sosial yang menyediakan akses informasi luas, tetapi tidak diiringi kemampuan memilah kebenaran sehingga hoaks mudah menyebar dan orang cenderung mencari informasi yang menguatkan keyakinannya.

Selain itu, terdapat kegagalan dalam sistem pendidikan yang terlalu menekankan bahwa semua pendapat benar tanpa melatih kemampuan berpikir kritis dan menghargai otoritas ilmiah. Peran media dan budaya populer juga turut memperparah keadaan dengan sering menyamakan ahli dengan nonahli serta lebih mengutamakan sensasi daripada akurasi. Akibatnya, keputusan publik tidak lagi berbasis ilmu, teori konspirasi berkembang, dan kebijakan publik berisiko salah arah. Dalam jangka panjang, hal ini dapat merusak demokrasi karena melemahnya kepercayaan terhadap pengetahuan yang kredibel.

Meskipun demikian, suara kritik tetap harus disampaikan kepada para ahli yang kadang gagal berkomunikasi dengan publik, terjebak dalam elitisme akademik, atau bahkan bias. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan adalah membangun kerendahan hati intelektual, menghargai keahlian, memperkuat pendidikan kritis, serta mendorong dialog yang sehat antara ahli dan masyarakat. Tidak semua pendapat memiliki bobot yang sama, dan pengetahuan berbasis keahlian, riset, serta pengalaman tetap sangat penting.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Anak Saleh (33) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

6 March 2025

Wawasan

Oleh: Muchamad Arifin, SAg., MAg, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah Di ten....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Wawasan

Orasi dari Timur: Lawatan Politik Buya Hamka ke Bima, 1955 Oleh: Imam Ahnafudin, Aktivis IMM Ciputa....

Suara Muhammadiyah

17 September 2025

Wawasan

Oleh: Mu’arif Momentum milad Majalah Suara Muhammadiyah tahun ini diwarnai dengan berita meny....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Wawasan

Berani Ketika Orang Lain Tak Bernyali Oleh: Muhammad Fakhrudin Di dalam artikel “Perilaku Mu....

Suara Muhammadiyah

19 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah