Memaknai Dialog Dalam Isra’ Mikraj

Publish

17 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
79
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Memaknai Dialog Dalam Isra’ Mikraj 

Oleh : Dr. Nasrullah, M. Pd., Pensiunan Guru SMA, Alumni Program  S3 Pendidikan Islam, UIN Imam Bonjol

Peringatan Isra’ Mikraj tanggal 27 Rajab tahun 2025 dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air. Peringatan itu pada prinsipnya adalah untuk mengambil hikmah dan menjadikan momentum tersebut sebagai pedoman dalam memecahkan permasalahan serta meningkatkan keimanan.

Hal tersebut sangat penting diterapkan di era digital kini. Saat di mana  algoritma telah mewarnai kehidupan. Algoritma terus bergerilya dalam senyap disertai dengan pengaruh luar biasa dan melibatkan banyak orang. Keterlibatan banyak orang tersebut berpatokan pada apa yang paling disukai, apa yang paling sering diklik, apa yang paling banyak di bagikan dan apa yang paling banyak dikomentari. Semua itu berlangsung begitu cepat dan cenderung membentuk  anggapan bahwa yang paling penting adalah sesuatu yang viral. Kebenaran dan kedalaman makna kurang mendapat prioritas.   

Kondisi di atas mempersempit ruang bertanya, artinya kesempatan untuk bertanya berkurang. Padahal, kemauan bertanya merupakan cikal bakal bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan awal bagi perkembangan perbaikan kondisi kehidupan pada masa yang akan datang.  Kemauan untuk bertanya itu juga sangat jelas tergambar dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mikraj Nabi Muhammad. 

Hal tersebut diantaranya terlihat pada pertanyaan Nabi Musa kepada Nabi Muhammad tentang jumlah shalat yang disuruh-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, bahwa jumlah shalat yang disuruh- Nya semula adalah 50. Kemudian dikurangi. Pengurangan itu terjadi setelah dialog antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad SAW, di mana Nabi Musa mengusulkan supaya Nabi Muhammad SAW memohon pengurangan kepada Allah.

Permohonan pengurangan dikabulkan-Nya, sehingga jumlah shalat yang tadinya 50 kali dijadikan 5 kali. Ini berarti memberikan isyarat bagi pentingnya kemampuan bertanya. Pengembangan kemampuan bertanya berarti juga membuka kran  dialog untuk mencari yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan bertanya sudah lama dan memiliki sejarah panjang. Bahkan jauh sebelum berkembangnya teori pendidikan modern yang membuktikan bahwa bertanya itu penting. 

Ditelusuri lebih jauh, motivasi yang tersirat dari ungkapan Nabi Musa yang bertanya kepada Nabi Muhammad tentang jumlah shalat itu bertolak dari kekhawatiran akan kemampuan umat Nabi Muhammad. Menurut Nabi Musa, umat Nabi Muhammad tidak akan sanggup mengerjakan  banyak shalat dalam setiap hari, sebab, dalam pemikiran Nabi Musa, phisik umat Nabi Muhammad lebih kecil, sehingga kurang mampu melaksanakan shalat yang banyak.  Sehingga harus dikurangi dan dikurangi lagi.

Hal itu menunjukkan kekhawatiran berdasarkan pengalaman yang sudah ada. Pengalaman pada saat Nabi Musa menegakkan syariat agama pada masanya. Bila di tarik ke era digital sekarang, maka pola bertanya Nabi Musa memiliki kemiripan dengan situasi yang dihadapi di era digital.

Di era digital yang penuh dengan limpahan informasi, pertanyaan yang sering muncul adalah berapa kuat orang bertahan di tengah banjir informasi, seberapa kuat orang bertahan dari kelelahan mental akibat perbandingan sosial yang tak pernah habis. Seberapa kuat orang mempertahankan kemampuan kognisi di tengah-tengah gempuran kecerdasan imitasi yang menggerogoti sistem kognitif manusia. Dan banyak lagi pertanyaan penyerta lainnya. Semua pertanyaan ini mengerucut dalam lingkup kekhawatiran umum bahwa era digital disamping memberikan berbagai kemudahan juga membentangkan jurang yang dapat menjerumuskan eksistensi manusia.

Dalam Al Qur’an surat Al Nahl ayat 43, Allah berfirman, yang artinya :Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. Perintah Allah ini menunjukkan pentingnya bertanya kepada orang yang  memiliki pengetahuan. Perintah ini sekaligus juga memberikan peringatan bahwa bertanya kepada selain orang tidak dianjurkan.

Hal ini juga mengoreksi sikap bertanya kepada mesin atau menggunakan Artificial Intelegency (AI) untuk menjawab pertanyaan dan meyakini kebenaran jawaban mesin tersebut. Kebiasaan itu harus dikoreksi ulang dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian serta tetap berpedoman kepada pendapat orang yang berilmu pengetahuan.  Juga disebutkan dalam surat Al Anbiya ayat 7, yang artinya : Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. Hal ini menunjukkan bahwa bertanya itu merupakan perintah dari Allah SWT. Disamping itu ilmu harus dirujuk kepada ahlinya atau pakar pada bidang masing-masing.       

Kegiatan bertanya jelas melibatkan lebih dari satu orang. Ini berarti dalam mengemukakan pertanyaan pasti terjadi dialog. Dialog yang terjadi dalam Isra’ Mikraj itu merupakan hal yang sangat penting dan sangat perlu menjadi acuan, sebab degradasi dialog telah terjadi di mana-mana.  Dialog mengalami degradasi karena di era digital, orang lebih banyak ‘berdialog’ dengan AI. AI lebih dominan digunakan. Padahal AI itu juga ada kelemahannya, sehingga perintah- Nya , seperti yang tercantum dalam ayat di atas sangat relevan untuk mengantisipasi kelemahan AI serta memperkuat iklim dialog real antar manusia. 

Semua itu menunjukkan bahwa Allah Maha Kuasa  memberikan bekal serta petunjuk kepada umat manusia dalam memecahkan berbagai permasalahan kehidupan dan selalu mendorong manusia untuk meningkatkan keimanan kepada-Nya. Dengan demikian, hal ini akan memacu peningkatan dialog dalam  aneka literasi yang kini berkembang. Hal ini juga merupakan upaya untuk lebih memasyarakatkan dialog yang kian tergerus arus digitalisasi. Sekaligus juga semakin membumikan hikmah Israk Mikraj. 

Wallahua’alam. 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Teknologi untuk Masjid (Bagian 2) Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen Jurusan Teknik Elektro UII Yogyaka....

Suara Muhammadiyah

27 October 2025

Wawasan

Oleh: Agusliadi Massere Cara menjalani kehidupan dan untuk memenuhi kebutuhan serta mencapai harapa....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Wawasan

Oleh: Muh Akmal Ahsan, Ketua Bidang Ristek DPP IMM Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berdiri pada....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Wawasan

Jurgen Klopp  Membahas berita tantang berhentinya Jurgen Klopp sebagai Manajer Liverpool rasan....

Suara Muhammadiyah

22 May 2024

Wawasan

Refleksi Peringatan Sumpah Pemuda 2025 Oleh: Mohammad Fakhrudin Bulan Oktober bagi bangsa Indonesi....

Suara Muhammadiyah

30 October 2025