Memaknai Kesuksesan
Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Wakil Ketua LPCR PM PP Muhammadiyah
Saat masih anak-anak, saya selalu membayangkan bahwa standar sukses dalam hidup adalah seperti kehidupan yang sedang dijalani Pak Sumodihardjo, tetangga saya. Kehidupannya tampak mewah, sangat kontras dengan para warga lain yang tinggal di pinggiran hutan jati di daerah pedesaan di Kabupaten Ngawi.
Pak Sumo—begitu kami memanggilnya—saat itu menjabat sebagai mantri hutan, pegawai kehutanan lapangan yang bertugas mengawasi, mengelola, dan melindungi kawasan hutan. Jabatan tersebut terbilang mentereng, terlebih ia merupakan lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.
Sebagai “raja kecil” di wilayah pedesaan, Pak Sumo menempati sebuah rumah mewah dengan halaman yang luas di pinggir hutan. Rumah panggung berkayu jati itu terdiri atas tiga bagian. Rumah utama berukuran sekitar 500-meter persegi, rumah kecil di bagian depan yang difungsikan sebagai garasi, serta paviliun kecil di bagian belakang yang digunakan sebagai tempat tinggal para pekerja sekaligus dapur kotor. Rumah bercat putih dan berkaca itu tampak megah dengan tiga mobil yang terparkir: Toyota Hardtop berwarna hijau telur asin, sedan Holden berwarna biru, dan Jeep Willys berwarna merah hati.
Sebagai mantri hutan, Pak Sumo menikahi seorang perempuan asal Kota Solo. Ibu Wid (Widyastuti) adalah perempuan anggun, bertubuh tinggi dan proporsional. Hidungnya mancung, rambutnya ikal dan berwarna pirang, dengan kulit putih bersih. Banyak orang mengira ia adalah perempuan Solo keturunan Belanda. Konon, dulu ia pernah menjadi penari Keraton Solo dan menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi, kampus yang sama dengan Pak Sumo.
Bu Wid kerap hadir dalam acara pernikahan maupun pertemuan kampung. Penampilannya selalu anggun dan mewah, sehingga pandangan mata warga kampung sering tertuju pada perhiasan yang ia kenakan. Perbincangan bapak-bapak saat ngopi di warung Lek Ratmini akan selalu menyinggung tumit kaki Ibu Wid, yang konon bisa berubah warna menjadi biru terong ketika ia mengenakan sepatu jinjit berhak tinggi. Perubahan itu bisa terjadi lantaran warna kulit kakinya yang begitu putih bersih.
Saat usia remaja, saya selalu cemburu pada gaya hidup kedua anak pasangan ini. Mas Dodik, putra sulungnya, selalu tampil necis ala anak kota: celana jeans biru, kaus hitam ketat, kacamata Ray-Ban, sepatu kulit, serta Jeep Willys sebagai kendaraan sehari-hari. Sebagai mahasiswa arsitektur di ITB, penampilannya memang sangat berbeda dengan anak-anak muda di kampung yang rata-rata hanya bersepeda ontel dan menggembala kerbau di sawah.
Tampilan Mbak Sus, anak kedua, tak kalah menarik. Ia menjadi satu-satunya gadis di kampung yang selalu mengenakan kalung emas di pergelangan kaki kirinya yang panjang dan ramping, dengan betis kecil bak model papan atas. Berbeda dengan sang ibu yang gemar memakai sepatu berhak tinggi, Mbak Sus lebih sering mengenakan sepatu olahraga ceper berwarna putih. Postur tubuhnya yang tinggi memang tak memerlukan sepatu berhak agar tubuhnya tampak lebih tinggi jauh di atas rata-rata gadis kampung yang sebagian besarnya mengalami stunting.
Setiap sore, Mbak Sus rutin bermain piano di rumah besar. Anak-anak kampung hanya bisa mengintip dari jauh, menyaksikan jari-jarinya yang lincah menari di atas tuts piano. Belakangan saya tahu, solo piano yang sering ia mainkan itu adalah Clair de Lune dari Suite Bergamasque, karya Debussy yang lembut dan melankolis. Suara piano itu menggema di perkampungan yang sunyi di pinggir hutan, mengalun lembut hingga menjelang magrib.
Saat dewasa imajinasi saya tentang kesuksesan pun berubah. Saya membayangkan seorang pemuda sukses itu seperti Tio Pakusadewo ketika bermain drama dalam naskah Waiting for Godot karya Samuel Beckett, atau saat ia tampil dalam film Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho. Bayangan kesuksesan lain muncul pada sosok Mathias Muchus, yang begitu apik memerankan tokoh Tarjo dalam serial drama Losmen karya Tatiek Maliyati dan Wahyu Sihombing pada akhir 1980-an. Pada masa itu, definisi kesuksesan saya selalu tercermin melalui sosok-sosok aktor tersebut.
Memasuki masa kerja, saya tidak lagi memandang bahwa kesuksesan seseorang harus selalu meniru atau identik dengan nasib orang lain. Saya menyadari betul bahwa setiap orang memiliki tapak jalannya masing-masing. Berbahagialah mereka yang mampu menerima dan setia pada jalan hidupnya sendiri, sehingga dapat menjalani setiap langkahnya dengan amanah, bahagia, dan selalu mensyukuri prosesnya. Saya pun berusaha keras untuk setia pada pilihan itu, meski hasilnya tidak selalu sesuai harapan. Saya sadar bahwa selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan, dan itulah bagian dari perjalanan hidup.
Memasuki masa pensiun, bayangan tentang kesuksesan kembali muncul, tetapi kali ini dalam bentuk yang sangat berbeda. Berbekal kesadaran yang cukup matang, saya membayangkan kesuksesan ideal di masa pensiun adalah seperti yang dijalani oleh Pak Guru Saiful. Dia adalah guru yang selama masa aktif mengajar, hanya mendapatkan gaji yang telah ditetapkan oleh negara. Dia tidak punya jabatan atau pekerjaan sampingan, sehingga tidak ada konflik kepentingan yang bisa timbul dari jabatannya.
Setelah pensiun, “pak guru” menjalani masa tua hanya berdua dengan pasangannya. Anak-anak telah dewasa, hidup mandiri, dan tinggal terpisah. Hari-harinya diisi dengan olahraga ringan, berkebun, menanam tomat, kacang panjang, dan cabai, serta beternak gurami, nila, patin, dan ayam kampung di pekarangan belakang rumah. Sesekali, ia meluangkan waktu dan keahliannya dalam bermotor untuk merancang motor modifikasi, sekaligus melakukan touring ke berbagai daerah wisata bersama komunitasnya.
Ia membangun gubuk kecil di pekarangan belakang rumah yang menjadi tempat berteduh saat hujan atau melindungi diri dari terik matahari. Gubuk inilah medium pemulihan jiwa paling nyaman di saat sumpek. Gubuk itu juga berfungsi sebagai ruang makan siang dan sore, sambil memetik terong, cabai, dan kacang panjang yang berlimpah di kebun.
Awalnya, gubuk ini dibangun hanya sebagai tempat merokok, karena istrinya selalu mengeluh jika rumah utama berbau rokok. Namun seiring waktu, gubuk itu berubah menjadi ruang kecil yang penuh ketenangan dan kebahagiaan sederhana, sebuah sudut di mana keseharian menjadi terasa damai.
Hanya saat waktu salat tiba, ia akan berhenti sejenak untuk berangkat ke masjid. Ia selalu memilih berjalan kaki sambil membawa tas kresek dan berjalan menunduk, memperhatikan duri, paku, pecahan kaca, kawat, dan benda-benda lain yang bisa membahayakan pejalan kaki maupun pengguna kendaraan. Semua benda itu ia kumpulkan dengan hati-hati ke dalam tas kresek, lalu dibuang ke tempat sampah.
Sesampainya di masjid, pak guru menjadi orang pertama yang membuka pintu dan jendela serta menyalakan kipas angin. Usai salat, ia pun menjadi orang terakhir yang meninggalkan masjid sambil sekali lagi mengumpulkan benda-benda berserakan di sekitar untuk diletakkan pada tempatnya. Pulang dengan berjalan kaki, ia mengikuti ritme dan kebiasaan yang sama—sebuah rutinitas sederhana yang mencerminkan ketelitian, kepedulian, dan ketulusan hati.
Sesekali saya mampir ke gubuk kecil pak guru sambil ikut menikmati telur ayam kampung rebus dan kopi pahit. Di balik penampilannya yang tampak sudah selesai, damai, serta sukses dalam menjalani hidup, ternyata ia juga menyimpan gejolak yang harus terus menerus ia taklukkan. Salah satunya adalah harapannya untuk bisa memodifikasi motor yang andal, kuat, dan dapat digunakan untuk berkeliling Indonesia. Harapan itu tentu saja ditentang oleh istri, anak-anak, dan cucunya.
“Setiap saat saya masih harus bertarung untuk menundukkan harapan itu. Meski tubuh saya masih terasa kuat dan bekal uang cukup, saya tidak hidup sendirian. Saya harus menghormati keinginan orang-orang yang mencintai saya. Ya…begitulah hidup” ujarnya serius sambil mengisap rokok kretek dengan pelan, nikmat sekali.
Baginya, pengetahuan manusia itu sangat terbatas. Manusia hanya mampu melihat suatu penampakan di permukaan kulit. Kelihatannya, seseorang tampak telah meraih kesuksesan dalam hidup, atau sebaliknya. Namun, apakah itu benar seperti yang terlihat di depan mata? Tidak ada yang benar-benar mengetahui kebenarannya selain diri sendiri.
Saya semakin yakin bahwa bayangan kesuksesan yang pernah saya identikkan pada sosok Pak Sumo dan Ibu Wid, Tio Pakusadewo dan Mathias Muchus, itu semua hanyalah kesan sumir yang belum tentu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Kesuksesan, bukan tentang apa yang terlihat, melainkan tentang ketenangan hati, kemampuan mengendalikan keinginan, dan keikhlasan mensyukuri hidup yang dijalani.
Menurut Pak Guru, “kesuksesan sejati itu adanya di sini,” sambil menepuk dadanya. Kesuksesan itu hanya bisa diraih oleh mereka yang mampu mengendalikan keinginan yang terus tumbuh subur dalam diri. Ketika seseorang mampu menerima dan menikmati apa yang ia jalani serta terus berusaha untuk bersyukur atas setiap tarikan napas yang Allah berikan, maka di sanalah kesuksesan sejati bersemayam.

