GOWA, Suara Muhammadiyah — Pengelola Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, punya ungkapan untuk menggambarkan perjalanan membangun lembaga itu: membuat perahu sambil berlayar.
Pesantren harus terus menerima dan mendidik santri ketika fasilitas belum sepenuhnya tersedia. Bangunan mesti bertambah saat kemampuan keuangan terbatas. Sementara itu, kebutuhan makan, asrama, kesehatan, serta pembinaan santri tidak boleh berhenti.
”Kita membuat perahu sambil berlayar. Kita menempuh jalan sambil menemukan jalan baru,” kata Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar Dr. Dahlan Lama Bawa pada Resepsi Milad Ke-20 Darul Fallaah di Bissoloro, Rabu, 12 Agustus 2026.
Dua dasawarsa berlalu. Pesantren itu masih berlayar, tetapi persoalannya mulai berubah. Jika pada masa awal tantangan utamanya adalah bertahan dan membangun, memasuki dasawarsa ketiga Darul Fallaah mulai berbicara tentang kemampuan membiayai dirinya sendiri.
Tema yang dipilih untuk memasuki fase baru itu, ”Menuju Pondok Pesantren Unggul dan Mandiri”, sekaligus memperlihatkan bahwa kemandirian tersebut belum sepenuhnya tercapai.
Dahlan menyebut Unismuh Makassar masih memberi dukungan rutin khususnya untuk gaji guru dan tenaga kependidikan. Karena itu, ia menempatkan kemandirian ekonomi sebagai pekerjaan besar pada dasawarsa ketiga.
”Unggul secara akademik dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Kata ”menuju” menjadi penting. Darul Fallaah tidak sedang mengumumkan keberhasilan menjadi pesantren mandiri. Ia sedang menata jalan ke arah itu.
Dari subsidi menuju produktivitas
Sejarah Darul Fallaah berangkat dari kebutuhan membuka akses pendidikan bagi masyarakat Bissoloro dan sekitarnya.
Setelah Unismuh Makassar memiliki lahan sekitar 75 hektar di kawasan tersebut, muncul gagasan menghadirkan lembaga pendidikan bagi masyarakat sekitar. Sejak awal, misi itu disertai keberpihakan kepada anak yatim dan keluarga kurang mampu melalui subsidi pendidikan.
Pilihan itu membawa konsekuensi ekonomi.
Pada periode awal, santri bahkan pernah memperoleh layanan pendidikan tanpa pungutan. Sementara itu, pembangunan harus tetap berjalan. Bahan bangunan pernah diambil lebih dahulu dan dibayar setelah dukungan rutin tersedia. Biaya pekerja serta sejumlah kebutuhan operasional juga ditopang Unismuh Makassar.
Dukungan universitas, warga Muhammadiyah, dan para donatur membuat pesantren dapat bertumbuh. Namun, semakin besar lembaga, semakin besar pula biaya yang harus disediakan.
Santri bukan hanya membutuhkan ruang kelas. Mereka tinggal di asrama, makan setiap hari, menjalani pembinaan, dan mendapatkan layanan kesehatan. Pesantren juga harus menggaji tenaga pendidik, pembina, serta memelihara berbagai fasilitas.
Di titik inilah kemandirian berubah dari cita-cita menjadi kebutuhan.
Wakil Rektor III Unismuh Makassar Dr. KH. Mawardi Pewangi mengingatkan bahwa persoalan itu tidak semestinya dijawab semata-mata dengan mencari bantuan baru. Kuncinya, menurut dia, justru terletak pada pengelolaan lembaga.
Mawardi mengutip pesan mantan Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar tentang pentingnya membangun mutu dan kepercayaan.
”Kalau sekolahnya baik, orang datang. Orang datang pasti bawa uang,” katanya.
Pandangan itu memberi dimensi lain pada pembicaraan tentang kemandirian. Sumber pendapatan memang penting, tetapi kepercayaan tidak lahir semata dari banyaknya aset. Ia tumbuh dari mutu pendidikan, pelayanan, dan tata kelola.
Mawardi juga mendorong kreativitas pengelolaan ekonomi pesantren. Kebutuhan sehari-hari santri, menurut dia, dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi apabila dikelola dengan baik sehingga perputaran uang tidak seluruhnya keluar dari lingkungan pesantren.
Darul Fallaah kini mencoba menerjemahkan gagasan itu melalui aset yang sejak awal dimiliki: tanah.
Menghidupkan Lahan
Pemanfaatan lahan bukan hal baru bagi Darul Fallaah.
Pesantren pernah mengembangkan sawah dan kebun jagung. Sebagian hasilnya dikonsumsi untuk kebutuhan sendiri, sedangkan sebagian lainnya dijual. Uang hasil penjualan, menurut Dahlan, ikut menopang pembangunan asrama dan kebutuhan pesantren.
Ia bahkan pernah membayangkan lahan yang dimiliki pondok sebagai semacam ”mesin ATM”. Bukan mesin yang seketika mengeluarkan uang, melainkan aset produktif yang dapat terus memberi daya hidup jika dikelola dengan baik.
Memasuki dasawarsa ketiga, skala pemanfaatannya hendak diperbesar.
Darul Fallaah mulai menyiapkan sekitar 20 hektar lahan untuk dikembangkan secara produktif. Hasilnya diharapkan perlahan menjadi salah satu sumber pembiayaan pesantren.
Pengelola menyatakan pembukaan lahan tidak dimaksudkan dengan menghilangkan seluruh vegetasi. Di bagian pinggir kebun direncanakan penanaman sejumlah jenis pohon, antara lain mahoni, sukun, dan bambu. Hasil lahan hendak dimanfaatkan untuk menopang pesantren, sementara vegetasi tetap dipertahankan.
Langkah itu menandai perubahan cara melihat tanah pesantren. Lahan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berdirinya masjid, ruang belajar, dan asrama, tetapi mulai diposisikan sebagai modal produksi.
Namun, tanah produktif tidak otomatis berarti kemandirian.
Pengelolaan membutuhkan tenaga, keterampilan, biaya, pasar, dan kesinambungan produksi. Kemandirian pesantren karena itu tidak cukup dibangun dengan membuka kebun. Ia membutuhkan tata kelola yang dapat mengubah aset menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Mandiri, tetapi untuk apa?
Persoalan lain kemudian muncul. Ketika pesantren berbicara mengenai bisnis, lahan produktif, dan sumber pendapatan, untuk apa kemandirian itu dibangun?
Jawabannya kembali pada kata pertama dalam cita-cita Darul Fallaah: unggul.
Pesantren tidak hanya ingin mampu membiayai dirinya sendiri. Kemampuan ekonomi ditempatkan sebagai penyangga agar fungsi pendidikan dapat semakin kuat.
Darul Fallaah berstatus sebagai laboratory school Unismuh Makassar. Posisi itu membuatnya berfungsi sebagai tempat pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Dahlan menyebut berbagai penelitian, dari tingkat sarjana hingga pascasarjana, telah menjadikan pesantren sebagai ruang kajian.
Perspektif pendidikan itu pula yang ditekankan Muhammad Natsir Arif, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Gowa, yang hadir mewakili Pemerintah Kabupaten Gowa.
Menurut Natsir, kekuatan pesantren tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan anak-anak berilmu, tetapi juga pada pembentukan adab melalui kehidupan pendidikan yang berlangsung sepanjang hari.
”Lembaga pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengutamakan adab,” katanya.
Ia menilai pendidikan pesantren memberi ruang bagi pengembangan kemampuan intelektual yang berjalan bersama pembentukan emosional dan spiritual.
Natsir juga mengkritik cara pandang yang menjadikan pesantren seolah-olah tempat terakhir bagi anak yang dianggap bermasalah. Menurut dia, logika itu seharusnya dibalik. Pesantren justru perlu dipandang sebagai pilihan pendidikan bagi anak-anak yang mempunyai kemampuan dan potensi untuk dikembangkan.
Pandangan tersebut menempatkan pembicaraan tentang kemandirian ekonomi Darul Fallaah dalam konteks yang lebih luas.
Yang hendak dibuat mandiri bukan sekadar organisasi dengan sejumlah bangunan dan lahan. Yang hendak dijaga keberlanjutannya adalah sebuah sistem pendidikan.
Karena itu, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada berapa banyak pendapatan yang mampu dihasilkan pesantren, tetapi juga sejauh mana pendapatan itu memperkuat mutu pendidikan dan mempertahankan akses bagi keluarga yang membutuhkan.
Alumni menjadi modal
Di luar tanah dan dukungan finansial, Darul Fallaah memiliki modal lain yang tumbuh selama 20 tahun: alumninya.
Dahlan mengatakan sekitar 50 persen alumni kembali ke almamater untuk menjadi guru dan pembina. Mereka pernah datang sebagai santri, tinggal di asrama, kemudian pulang untuk mendampingi generasi berikutnya.
Pada sisi sumber daya manusia, hampir seluruh tenaga yang ada disebut merupakan alumni Unismuh Makassar dan sekitar separuh merupakan alumni Darul Fallaah sendiri. Pesantren juga mulai merancang peningkatan kualifikasi guru melalui pendidikan magister.
Regenerasi semacam itu merupakan bentuk kemandirian yang tidak langsung terlihat dalam laporan keuangan.
Lembaga tidak hanya membutuhkan uang untuk bertahan. Ia juga membutuhkan orang-orang yang mampu mengambil alih tanggung jawab ketika generasi pengelola berganti.
Darul Fallaah karena itu mulai mengubah pengalaman mengelola pesantren menjadi sistem. Dahlan menyebut telah tersedia 97 standar operasional prosedur yang mengatur pembelajaran, pembinaan, hingga pelayanan.
Baginya, lembaga yang kuat tidak boleh bergantung kepada satu atau dua tokoh. Sistem harus tetap berjalan ketika orang berganti.
Kemandirian Darul Fallaah dengan demikian sedang dibangun melalui beberapa lapis sekaligus: sumber ekonomi, sumber daya manusia, dan sistem kelembagaan.
Bertumbuh perlahan
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof. Mustari Bosra melihat perjalanan dua dasawarsa Darul Fallaah sebagai pertumbuhan yang berlangsung secara bertahap.
Muhammadiyah, menurut dia, kerap memulai lembaga dari kondisi yang serba terbatas, lalu mengembangkannya sedikit demi sedikit.
Darul Fallaah dinilainya mengalami perkembangan yang mungkin tidak berlangsung pesat, tetapi bergerak ”perlahan-lahan tapi pasti”. Ia optimistis dasawarsa ketiga akan membawa perkembangan lebih jauh.
Mustari juga menempatkan dukungan masyarakat sebagai modal penting. Kehadiran unsur pemerintah kecamatan dan desa dalam peringatan milad, menurut dia, memperlihatkan penerimaan masyarakat terhadap pesantren.
Selama dua dasawarsa, Darul Fallaah memang dibesarkan oleh banyak tangan: universitas, warga Muhammadiyah, pemerintah, masyarakat, orangtua santri, alumni, serta para donatur.
Kemandirian tidak berarti memutus semua hubungan itu.
Tantangannya justru mengubah dukungan menjadi kekuatan yang memperbesar kemampuan pesantren berdiri di atas kakinya sendiri, bukan menjadi ketergantungan permanen.
Dua dasawarsa pertama Darul Fallaah merupakan cerita tentang bagaimana lembaga itu dibangun dan dipertahankan dalam keterbatasan. Dasawarsa ketiga menghadirkan pertanyaan yang lebih rumit: bagaimana membangun usaha tanpa menggeser misi pendidikan, mengolah lahan tanpa mengabaikan keberlanjutan, dan mengurangi ketergantungan subsidi tanpa menutup akses bagi keluarga yang tidak mampu.
Darul Fallaah belum mempunyai seluruh jawabannya.
Itulah sebabnya mereka memilih kata ”menuju”, bukan menyatakan telah menjadi pesantren unggul dan mandiri.
Dua puluh tahun lalu, Darul Fallaah membangun perahu sambil berlayar. Kini perahu itu lebih besar dan penumpangnya bertambah.
Tantangannya bukan lagi sekadar menjaga perahu tetap mengapung, melainkan membuatnya cukup kuat untuk terus berlayar dengan tenaganya sendiri tanpa meninggalkan tujuan awal perjalanan: pendidikan dan pengabdian.

