Membaca Ulang Siklus 100 Tahunan dalam Bingkai Sunnatullah dan Kemanusiaan

Publish

6 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
104
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Membaca Ulang Siklus 100 Tahunan dalam Bingkai Sunnatullah dan Kemanusiaan

Oleh: Najib Maulana Alfikri, Aktivis Muhammadiyah

Bagi kita yang kerap bergulat dengan teks, menelaah transkrip realitas, dan menyusun kerangka demi kerangka pemikiran layaknya menulis sebuah buku yang utuh, sejarah tidak pernah hadir sebagai deretan angka mati. Sejarah adalah subjek yang bernapas, jika kita meletakkan telinga pada perkembangan sebuah peradaban, kita akan mendengar gemuruh yang berulang. 

Wabah Marseille pada 1720, Kolera pada 1820, Flu Spanyol yang melumpuhkan dunia pada 1920, hingga pandemi COVID-19 pada 2020. Jajaran angka ini seolah membentuk sebuah irama yang terlalu rapi untuk disebut sebagai kebetulan belaka. Dari keteraturan inilah teori konspirasi siklus seratus tahunan (100-years cycle theory) lahir. Yang menuding adanya tangan tak kasat mata, sekelompok elite bayangan yang merancang penderitaan manusia secara periodik untuk mereset populasi, menata ulang tata ekonomi, dan memegang kendali atas rantai kekuasaan.

Ketika klaim-klaim ini dibenturkan dengan realitas psikologis manusia, yang kemudian diuji melalui lensa Sunnatullah dalam bingkai Al-Qur'an dan Sunnah, serta ditelaah lewat otonomi kemanusiaan kita, narasi siklus seratus tahunan ini perlahan mengelupas. Terdapat tiga dimensi fundamental yang harus kita bongkar untuk memahami mengapa mitos deterministik ini begitu membius, dan bagaimana kita seharusnya memposisikan diri di hadapan roda waktu.

Apophenia Sejarah

Secara psikologis, pikiran manusia memiliki kecenderungan alamiah yang disebut apophenia. Yang memiliki arti hasrat tak tertahankan untuk mencari pola, makna, dan koneksi di antara peristiwa-peristiwa yang pada dasarnya acak dan terpisah. Ketika dihadapkan pada kekacauan yang absolut, penderitaan massal, dan runtuhnya tatanan sosial yang selama ini diandalkan, kognisi kita merasa terancam. Mengakui bahwa alam semesta ini memiliki elemen ketidakpastian.

Di sinilah teori konspirasi tentang siklus seratus tahunan masuk sebagai sejenis obat psikologis. Mempercayai bahwa ada aktor jahat yang menekan tombol pandemi setiap abad yang justru memberikan rasa aman. Mengapa? Karena jika ada yang mengendalikan bencana tersebut, berarti kekacauan ini memiliki struktur.

Namun, secara faktual, siklus abad ini adalah bentuk simplifikasi sejarah yang manipulatif, yang kadang hanya memilih data yang sesuai dan membuang yang berseberangan. Jika kita melebarkan lensa observasi, kita akan menemukan bahwa wabah mematikan tidak pernah menunggu pergantian abad. Pandemi Justinian pada abad ke-6, Black Death pada abad ke-14, Flu Rusia pada tahun 1889, Flu Asia pada tahun 1957, hingga epidemi HIV/AIDS yang dimulai pada tahun 1980-an, itu semua terjadi tanpa peduli pada perhitungan kalender. 

Memaksakan sejarah untuk tunduk pada angka 100 itu menjadi sebuah keangkuhan yang mengaburkan akar masalah sebenarnya, bahwa kerentanan manusia selalu berbanding lurus dengan bagaimana mereka memperlakukan alam dan sesamanya. 

Dialektika Sunnatullah

Meninggalkan ilusi matematika konspirasi, kita harus melangkah pada pemaknaan sejarah melalui Ilahiah. Apakah Islam mengenal konsep siklus sejarah? Ya, namun bukan dalam bentuk konspirasi mekanis, tapi dalam bentuk hukum kausalitas moral dan sosial yang dikenal sebagai Sunnatullah.

Al-Qur'an mengafirmasi bahwa kejayaan dan kejatuhan peradaban memang dipergilirkan. Dalam Surah Ali-Imran ayat 140, ditegaskan: "Wa tilkal ayyaamu nudaawiluhaa bainan naas" (Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan di antara manusia). Ayat ini adalah proklamasi yang luar biasa. Makna pergiliran atau siklus ini bukanlah hasil rancangan elit rahasia, melainkan respons atas dinamika internal manusia itu sendiri—tentang keadilan, kezaliman, keserakahan, dan integritas hukum.

Pemikir besar sekaligus sosiolog Muslim klasik, Ibnu Khaldun, dalam kitab Muqaddimah, Ibn Khaldun mencetuskan bahwa umur sebuah peradaban atau dinasti umumnya berkisar pada tiga hingga empat generasi (sekitar 100 hingga 120 tahun). Generasi pertama adalah pendiri yang disatukan oleh 'Asabiyyah dan perjuangan keras. Generasi kedua menikmati hasil dan mulai membangun struktur. Generasi ketiga tenggelam dalam kemewahan, elitisme, dan kelalaian. Generasi keempat menyaksikan keruntuhannya karena korupsi, hilangnya keadilan struktural, dan rusaknya tata ekonomi.

Keruntuhan yang terjadi setiap beberapa generasi, baik yang memicu kerentanan terhadap wabah penyakit karena tata kelola kota yang buruk, maupun resesi karena hukum syariat dan regulasi ekonomi tidak lagi berpihak pada kaum lemah merupakan buah dari tangan manusia sendiri. Ketika kekayaan hanya berputar di kalangan segelintir orang kaya saja, sebagaimana diperingatkan dalam QS. Al-Hasyr: 7 dan tata hukum digunakan untuk menindas, maka Sunnatullah berupa kehancuran sistem akan bekerja. Jadi, siklus ini bukan diorkestrasikan oleh konspirasi seabad sekali, akan tetapi oleh siklus moralitas, terkait kebangkitan yang lahir dari penderitaan, yang perlahan membusuk menjadi hedonisme, dan berujung pada kejatuhan peradaban.

Merengkuh Agensi Kemanusiaan

Implikasi paling berbahaya dari memeluk erat teori konspirasi 100 tahunan adalah lahirnya sikap fatalisme. Jika segala wabah, resesi, dan krisis telah ditentukan oleh kalender rahasia milik kelompok tertentu, lantas untuk apa manusia berjuang? Jika naskah sejarah sudah selesai ditulis oleh tangan-tangan tiran, peran apa yang tersisa bagi kita selain menunggu ketukan setiap pergantian abad?

Sikap menyerah pada nasib seperti ini menjadi sangat bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan nilai fundamental dalam Sunnah. Nabi Muhammad saw. mewariskan paradigma agensi manusia untuk melawan fatalisme. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: "Jika hari kiamat telah tegak, sedang di tangan seorang di antara kalian terdapat bibit pohon kurma, jika ia mampu untuk tidak berdiri sampai ia menanamnya, maka tanamlah." (HR. Bukhari & Ahmad).

Hadist tersebut mengingatkan kepada kita agar merawat akal sehat, memperbaiki tatanan keadilan dan menolak keputusasaan. Sebagai manusia, tugas kita bukan hanya menyusun cocokologi angka tahun kejadian, tapi juga berusaha membangun ketahanan. Ketahanan ini lahir dari institusi hukum yang tidak bisa dibeli, struktur ekonomi syariah yang mencegah eksploitasi kerakusan kapitalistik, dan infrastruktur kesehatan yang mengutamakan nyawa di atas laba.

Sejarah, pada hakikatnya, tidak pernah berulang persis seperti kaset yang diputar ulang. Kutipan populer yang sering disandarkan pada Mark Twain berbunyi, "History doesn't repeat itself, but it often rhymes".

Dengan memahami teori konspirasi siklus seratus tahunan ini bukanlah sebuah bentuk penyangkalan atas kejahatan struktural yang mungkin memang ada di dunia ini. Alih-alih, ini adalah sebuah langkah sadar untuk mengembalikan akal sehat. Kita memindahkan fokus dari ketakutan pada hantu pergantian abad yang tak terbukti, menuju upaya nyata untuk membersihkan sistem kita dari kezaliman yang mengundang berlakunya hukum sebab-akibat Tuhan. Sebagai penulis naskah masa depan kita sendiri, mari pastikan bahwa bab-bab berikutnya dalam peradaban manusia harus didikte oleh keadilan, keberanian, dan kejernihan bertindak.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mewujudkan IPM Sebagai Gerakan Pelajar Progresif Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN ....

Suara Muhammadiyah

8 February 2026

Wawasan

Mengungkap "Q": Injil Tertua yang Tersembunyi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unive....

Suara Muhammadiyah

20 December 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas   Sekitar 1400 tahun sila....

Suara Muhammadiyah

16 September 2024

Wawasan

Ahmad Dahlan Guru Teladan Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja Tanggal 25 November adalah Hari Guru Indo....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

Wawasan

Ikhtiar Menghadang Campak  Oleh: Farindira Vesti Rahmasari – Ekorini Listiowati, Univers....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah