Memikul Amanah
Oleh: Suko Wahyudi. Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta
Al-Qur’an tidak pernah berbicara tentang manusia hanya dalam satu dimensi. Manusia adalah makhluk yang diberi akal, kehendak, kebebasan, sekaligus tanggung jawab. Karena itu, kebebasan manusia dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas. Di balik setiap kebebasan terdapat amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Salah satu ayat yang sangat penting untuk memahami persoalan ini adalah QS. Al-Ahzab ayat 72. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Ayat ini menggambarkan betapa beratnya amanah yang diterima manusia. Langit, bumi, dan gunung-gunung digambarkan enggan memikulnya karena besarnya tanggung jawab yang terkandung di dalam amanah tersebut. Akan tetapi, manusia menerimanya. Di sinilah letak kemuliaan sekaligus kelemahan manusia. Manusia diberi kemampuan untuk menerima amanah, tetapi manusia pula yang berpotensi mengkhianatinya. Karena itu, ayat tersebut ditutup dengan penyebutan manusia sebagai zhalūman jahūlā, makhluk yang sangat zalim dan sangat bodoh. Manusia sering kali tidak menyadari bahwa kebebasan yang dimilikinya selalu disertai dengan tanggung jawab.
Amanah sering kali dipahami secara sederhana sebagai sesuatu yang dititipkan kepada seseorang dan harus dikembalikan kepada pemiliknya. Pemahaman seperti itu tidak salah, tetapi amanah dalam kehidupan manusia jauh lebih luas. Amanah mencakup seluruh tanggung jawab yang melekat pada kehidupan manusia. Akal adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Harta adalah amanah. Jabatan adalah amanah. Waktu adalah amanah. Bahkan kemampuan berbicara dan menggunakan teknologi juga merupakan amanah. Semua yang diberikan Allah kepada manusia pada hakikatnya bukan semata-mata untuk dinikmati, tetapi juga harus dipergunakan dengan benar dan dipertanggungjawabkan.
“Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat untuk mengujimu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (Al-An'am [6]: 165)
“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (At-Takatsur [102]: 8)
Kalau demikian, persoalan amanah sesungguhnya bukan persoalan masa lalu. Ia adalah persoalan manusia sepanjang zaman. Bahkan dalam kehidupan modern, persoalan amanah menjadi semakin penting karena kemampuan manusia semakin besar. Dahulu seseorang mungkin hanya mampu memengaruhi lingkungan yang sangat terbatas. Sekarang, dengan teknologi digital, seseorang dapat memengaruhi ribuan bahkan jutaan manusia hanya melalui satu unggahan. Dahulu kesalahan seseorang mungkin hanya diketahui oleh beberapa orang. Sekarang sebuah kesalahan dapat tersebar luas dalam hitungan detik. Kemajuan kemampuan manusia ternyata sekaligus memperbesar tanggung jawab manusia.
Di sinilah kita perlu memahami amanah bukan hanya sebagai “menjaga kepercayaan”, tetapi juga sebagai tanggung jawab atas kemampuan yang dimiliki. Orang yang memiliki ilmu mempunyai amanah untuk menggunakan ilmunya bagi kemaslahatan, bukan untuk menipu atau membodohi orang lain. Orang yang mempunyai kekuasaan mempunyai amanah untuk berlaku adil, bukan mempergunakan kekuasaan untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Orang yang mempunyai harta mempunyai amanah untuk memperoleh dan membelanjakannya secara halal serta memperhatikan hak orang lain. Dengan demikian, amanah selalu berkaitan dengan apa yang kita miliki dan bagaimana kita mempergunakannya.
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi, no. 2417)
Dalam kehidupan politik dan pemerintahan, misalnya, jabatan adalah amanah. Seseorang yang mendapatkan jabatan sesungguhnya memperoleh kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, jabatan tidak boleh dipandang sebagai kesempatan untuk memperoleh fasilitas dan keuntungan pribadi.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jabatan adalah tanggung jawab untuk melayani. Ketika jabatan digunakan untuk korupsi, nepotisme, memperkaya keluarga, atau menindas pihak yang lemah, maka yang terjadi bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang memahami bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat pula pertanggungjawabannya.
Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah [2]: 188)
Hal yang sama berlaku dalam dunia pendidikan. Seorang guru memperoleh amanah untuk mendidik. Seorang mahasiswa memperoleh amanah untuk menuntut ilmu. Seorang peneliti memperoleh amanah untuk mencari dan menyampaikan kebenaran ilmiah. Karena itu, plagiarisme, manipulasi data, menyontek, dan berbagai bentuk ketidakjujuran akademik tidak dapat dianggap sebagai persoalan kecil. Ilmu yang diperoleh dengan cara yang tidak jujur akan kehilangan nilai moralnya. Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang dapat dipercaya.
Pada zaman media sosial, amanah memperoleh bentuk yang baru. Setiap orang sekarang mempunyai kesempatan untuk berbicara di ruang publik. Masalahnya, tidak semua orang memahami bahwa berbicara di ruang publik berarti memikul tanggung jawab publik. Informasi yang belum jelas kebenarannya tidak seharusnya langsung disebarkan. Tuduhan tidak boleh dibuat tanpa bukti. Aib seseorang tidak boleh diumbar hanya karena seseorang mempunyai kemampuan untuk menyebarkannya. Kebebasan berbicara harus berjalan bersama kejujuran dan tanggung jawab. Jika tidak, teknologi yang seharusnya menjadi sarana kemaslahatan justru berubah menjadi sarana kerusakan.
Persoalan yang sama dapat kita lihat dalam penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). AI memberikan manusia kemampuan yang luar biasa untuk mengolah informasi dan menghasilkan berbagai karya. Tetapi kemampuan tersebut tidak menghapus tanggung jawab moral manusia. Ketika AI digunakan untuk membantu belajar dan penelitian, ia dapat menjadi sarana kemajuan. Tetapi ketika digunakan untuk menipu, memalsukan karya, menyebarkan informasi palsu, atau mengambil hak orang lain, maka teknologi tersebut telah digunakan secara tidak amanah. Yang perlu kita persoalkan bukan hanya kecanggihan teknologinya, tetapi juga kualitas moral manusia yang menggunakannya.
Amanah juga harus diperluas kepada hubungan manusia dengan alam. Allah memberikan bumi kepada manusia untuk dikelola, bukan untuk dirusak. Manusia memang diberi kemampuan untuk mengambil manfaat dari alam, tetapi kemampuan itu harus disertai tanggung jawab. Ketika hutan dirusak secara berlebihan, sungai dicemari, sumber daya alam dieksploitasi tanpa memperhatikan keberlanjutan, maka kita perlu bertanya: apakah manusia telah menjalankan amanahnya? Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak yang dapat diambil dari alam, tetapi juga dari seberapa baik manusia menjaga keberlangsungannya.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Rum [30]: 41)
“Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya; dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-A‘rāf [7]: 56)
Dari sini kita dapat melihat bahwa QS. Al-Ahzab ayat 72 mempunyai pesan yang sangat dalam bagi kehidupan kita sekarang. Amanah bukan hanya persoalan antara seseorang dengan orang lain, tetapi juga persoalan antara manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Amanah merupakan prinsip yang menghubungkan kebebasan dengan tanggung jawab. Manusia boleh menggunakan akalnya, ilmunya, hartanya, kekuasaannya, dan teknologinya, tetapi semuanya harus ditempatkan dalam kerangka pertanggungjawaban.
Karena itu, masalah terbesar manusia modern barangkali bukan lagi kekurangan kemampuan. Manusia justru telah memiliki kemampuan yang sangat besar. Persoalannya adalah apakah kemampuan tersebut diiringi dengan kesadaran amanah. Ilmu yang tinggi tanpa amanah dapat melahirkan penipuan. Kekuasaan yang besar tanpa amanah dapat melahirkan kezaliman. Teknologi yang canggih tanpa amanah dapat melahirkan kerusakan. Kebebasan yang luas tanpa amanah dapat merugikan sesama. Maka pesan QS. Al-Ahzab ayat 72 menjadi semakin penting: semakin besar kemampuan yang diberikan kepada manusia, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya. Inilah amanah yang sesungguhnya, dan inilah yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan manusia modern.

