Memperkuat Akar Ekonomi: Ikhtiar Muhammadiyah Menuju Resiliensi Dakwah Berkelanjutan

Suara Muhammadiyah

30 June 2026

78
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Menapaki usia lebih dari satu abad, Persyarikatan Muhammadiyah kini berada pada titik krusial untuk mereformasi tata kelola ekonomi. Organisasi yang telah lama dikenal mapan melalui pilar filantropi dan amal usaha ini mulai secara serius merumuskan model "resiliensi keuangan" guna memastikan keberlanjutan dakwah di tengah disrupsi zaman yang semakin kompleks.

Dalam Pengajian Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bertajuk "Resiliensi Keuangan untuk Dakwah Berkelanjutan" yang digelar di Aula Gedung PP Muhammadiyah Jakarta, Jum'at (26 Juni 2026), para pakar ekonomi syariah dan praktisi keuangan menyoroti pentingnya perubahan paradigma bagi organisasi kemasyarakatan (ormas). Muhammadiyah tidak lagi sekadar dipandang sebagai gerakan sosial-keagamaan, melainkan telah bertransformasi menjadi entitas "kuasi-korporasi" dengan aset yang diproyeksikan mencapai Rp 400 triliun hingga Rp 450 triliun.

Ekonom Syariah Nasional, Adiwarman Azwar Karim, menekankan bahwa kunci dari keberlanjutan bisnis organisasi terletak pada kemampuan untuk hadir dalam setiap "siklus kehidupan" manusia. Menurutnya, organisasi harus mampu menangkap kebutuhan anggotanya mulai dari lahir hingga hari tua agar ekosistem ekonomi tetap terjaga di internal. Ia memperkenalkan strategi follow the money (mengikuti arus uang), di mana transaksi ekonomi warga persyarikatan seharusnya dikelola dalam skema close-loop transaction atau transaksi tertutup di lingkungan sendiri.

"Jangan sampai kita hanya lelah mengumpulkan dana kecil dari anggota, namun pada setiap akhir pekan, dana besar tersebut keluar ke bank-bank konvensional karena sistem kita tidak menangkap kebutuhan belanja mereka," ujar Adiwarman. Ia menggarisbawahi bahwa kekuatan ekonomi ormas ada pada besarnya permintaan (demand), yang seharusnya bisa dikapitalisasi untuk memperkuat posisi tawar terhadap produsen.

Senada dengan hal tersebut, Anggota Badan Pelaksana BPKH RI, Amri Yusuf, menyoroti aspek manajemen risiko dan kepercayaan publik sebagai fondasi resiliensi. Ia mencatat bahwa meski Muhammadiyah memiliki aset luar biasa, sebagian besar portofolionya masih tertumpu pada direct investment (investasi langsung) seperti tanah, bangunan sekolah, dan rumah sakit yang bersifat tidak likuid.

Amri menyarankan adanya diversifikasi aset ke instrumen keuangan yang lebih moderat untuk menjaga likuiditas organisasi dalam menghadapi krisis. "Resiliensi itu adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap tantangan dan kemampuan untuk bangkit kembali (bounce back) saat terjadi disrupsi," ungkapnya. Ia juga mendorong transparansi melalui publikasi laporan keuangan yang diaudit sebagai cara meningkatkan reputasi dan kepercayaan publik secara global.

Penguatan ekonomi ini dipandang bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan instrumen untuk membiayai gerakan dakwah, beasiswa, dan pelayanan sosial agar tidak bergantung pada bantuan eksternal yang bersifat fluktuatif. Dengan fondasi ekonomi yang kokoh, Muhammadiyah berupaya memastikan bahwa misi dakwah tetap tegak berdiri dalam satu abad mendatang.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPwr) kembali menegaskan komitme....

Suara Muhammadiyah

14 April 2026

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar kuliah tamu den....

Suara Muhammadiyah

15 November 2024

Berita

BATU, Suara Muhammadiyah - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim berkeyakinan masj....

Suara Muhammadiyah

26 October 2025

Berita

Nur Winda, Anak Buruh Jahit asal Pemalang Jadi Wisudawan Terbaik  TEGAL, Suara Muhammadiyah - ....

Suara Muhammadiyah

17 April 2025

Berita

Gladen Geden Sasi Besar Jagal Muhammadiyah LP4H PDM Sleman Perkuat Kompetensi Jagal dan Dakwah Persy....

Suara Muhammadiyah

16 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah