Menapaki  Pegunungan, Menyalakan Cahaya Ramadhan di Uhaidao

Publish

18 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
71
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menapaki  Pegunungan, Menyalakan Cahaya Ramadhan di Uhaidao

Penulis: Furqan Mawardi, Ketua LPCRPM PWM Sulawesi Barat

Perjalanan dakwah selalu ada  ceritanya. Terkadang ada jalannya yang mulus lancar, akan tetapi terkadang  juga ada yang harus ditempuh dengan tikungan tajam, tanjakan terjal, liukan dan belokan yang berbahaya. Namun di balik setiap medan yang berat, selalu ada kebahagiaan yang tak bisa ditukar dengan apa pun, yaitu kebahagiaan ketika melihat wajah-wajah masyarakat yang rindu akan ilmu dan sentuhan pengajian.

Sabtu, 14 Februari 2026, saya kembali memulai perjalanan dari kota Mamuju menuju Aralle, Mamasa. Agenda kami adalah mengisi Tarhib Ramadhan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Aralle bersama tiga ranting lainnya: PRM Aralle, PRM Uhaidao, dan PRM Ralleanak Utara. Ketiga ranting tersebut  terasa istimewa, karena baru terbentuk pada 31 Agustus 2025 ketika pelaksanaan program KKN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mamuju. Ini adalah kegiatan perdana mereka setelah pelantikan.

Saya berangkat pukul 08.00 pagi bersama putra saya, Ahmad Dahlan, dan Ustadz Bohari Muslim dari LPCRPM PWM Sulawesi Barat. Hujan sempat menemani di awal perjalanan. Jalanan basah, udara lembap, tetapi semangat tetap hangat. Memasuki wilayah Mamasa, pemandangan pegunungan yang hijau dan udara yang menyegarkan terbentang luas. Mobil harus berulang kali berbelok dan berkelok mengikuti lekukan gunung, naik turun lembah, dengan jurang di sisi jalan yang menganga. Setiap tanjakan menuntut kesabaran, setiap turunan menuntut kewaspadaan dan kehati hatian yang extra.

Sesekali kami berhenti di pinggir jalan. Kami berhenti untuk menikmati segarnya air pegunungan yang mengalir deras dari tebing menjadi tempat kami mencuci muka, berwudhu, sekaligus mengusir rasa lelah. Airnya dingin, jernih, dan menyegarkan. Inilah istimewanya perjalanan ke Mamasa, Air terjun mengalir deras dari tebing yang posisinya berada dipinggir jalan, sehingga setiap pengendara bisa menikmatinya setiap saat. Di tengah perjalanan yang melelahkan dan penuh tantangan, alam sepertinya memberikan pelukan ketenangan serta kenyamanan.

Perjalanan mulai terasa lebih berat ketika memasuki wilayah Aralle, khususnya menuju kampung Uhaidao. Jalan berbatu, sebagian rusak, sebagian lagi masih berupa tanah. Beberapa kali mobil harus mundur karena tidak kuat menanjak. Kami mengambil ancang-ancang, menarik napas, lalu mencoba lagi. Di situlah terasa bahwa perjalanan dakwah bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang kesabaran dan keteguhan.

Kami tiba bertepatan dengan waktua adzan dzuhur. Para pengurus cabang dan ranting sudah menunggu sejak lama. Ketua PCM Aralle, Ustadz Kadri, menyambut dengan sambutan dan salaman hangat. Rasa lelah perjalanan seketika terbayar oleh sambutan penuh ukhuwah dan persauadaraan tersebut.

Udara di Uhaidao cukup dingin, Air wudhunya terasa menembus tulang. Sehingga badan saya cukup menggigil padahal ini waktunya siang. Setelah shalat berjamaah di Masjid Nurul Huda, pengajian langsung dimulai. Jamaah terus berdatangan dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak.

Seperti biasa, saya menggunakan laptop dan proyektor lengkap dengan layarnya. Bagi saya, dakwah hari ini perlu strategi yang membuat jamaah tetap fokus dan tidak jenuh. Ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, gambar, dan video pendek tentang Ramadan ditampilkan. Alhamdulillah, jamaah terlihat sangat antusias. Beberapa di antara mereka bahkan membawa buku catatan dan menulis setiap materi yang ditampilkan.

Suasana semakin hidup ketika sesi kuis dimulai. Anak-anak berebut mengangkat tangan. Hadiah sederhana berupa sarung dan perlengkapan shalat yang kami bawa dari Mamuju menjadi penyemangat yang menjadikan suasana lebih riuh. Tawa, semangat, dan kegembiraan memenuhi ruangan. Kegiatan dan suasana pengajian terasa hangat, hidup, dan membahagiakan.

Pengajian berlangsung hampir dua setengah jam, dari pukul 12.45 hingga 15.30. Waktu terasa cepat berlalu. Yang lebih mengharukan, baru acara pengajian dimulai para jamaah telah disiapkan bosara’ yang dilteakkan di depan para jamaah. Bosara’ adalah wadah makanan khas Sulawesi sebagai simbol penghormatan. Bagi masyarakat disini, kehadiran tamu dalam pengajian bukan sekadar menghadiri acara, tetapi sebuah kegiatan agama yang perlu penghormatan  .

Setelah pengajian selesai, kami diundang ke rumah Ustadz Kadri. Para Ibu-ibu Aisyiyah telah menyiapkan berbagai hidangan makanan disana. Nasi hangat, ikan bakar, menu ayam kampung, kue-kue tradisional, dan kopi khas Mamasa tersaji dengan penuh kehangatan. Acara makan bersama makin terasa karena disertai  obrolan hangat yang mengalir. Diskusi kecil yang penuh makna terus berlanjut, yang pada akhirnya membuat kesimpulan  bahwa pengajian seperti ini sebaiknya menjadi agenda rutin yang dilakukan setiap bulan.

Para jamaah meminta kesediaan saya untuk bisa mengisi pengajian rutin yang rencana akan mulai dijadwalkan setelah Ramadhan. Sebenarnya permintaan ini terasa berat jika melihat medan perjalanan. Namun melihat semangat dan kerinduan mereka terhadap ilmu, saya mantap menyatakan Bismillah, insya Allah akan saya usahakan.

Saat hendak pulang, sebuah kejutan menanti di dekat mobil. Dua tandan pisang besar telah disiapkan oleh warga sebagai oleh-oleh dari kebun mereka. “ Ini Pak Ustadz,.hasil langsung dari kebun, bisa dinikmati langsung atau bisa juga di goreng-goreng panas”demikian kata salahsatu jamaah yang mengangakt dua tanda pisang ke bagasi mobil.

Sambil saya menerima dengan senang, hati saya membatin, pemberian ini bukan hanya soal nilainya, tetapi ketulusan di balik pemberian itu yang membuat hati terasa terharu.

Perjalanan pulang kembali menembus pegunungan dengan penuh kehati-hatian. Di sepanjang jalan, salahsatu satu doa terus yang terulang dalam hati “Ya Allah, berikan kami kesehatan, kekuatan serta keikhlasan agar kegiatan pengajian ini bisa terus berjalan.”

Perjalanan ini mengajarkan satu hal bahwa pengajian tidak selalu di tempat yang nyaman, tidak selalu di hadapan banyak orang, dan tidak selalu yang mudah dijangkau. Tetapi justru di tempat-tempat terpencil, di tengah keterbatasan, kita menemukan wajah-wajah yang paling tulus menunggu cahaya ilmu.

Di sanalah kita sadar, bahwa kegiatan berdakwah bukan hanya tentang kemudahan perjalanan, tetapi tentang kesediaan untuk melangkah. Selama masih ada masyarakat yang membutuhkan, selama masih ada hati yang rindu untuk belajar, maka kegiatan pengajian rutin mutlak untuk terus dijaga dan dilanjutkan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Klinik Pratama Rawat Inap PKU Muhammadiyah Sampang Cilacap menyelengga....

Suara Muhammadiyah

19 February 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Upaya meningkatkan kualitas ujian praktik keperawatan secara nasional....

Suara Muhammadiyah

27 June 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Ahmad ....

Suara Muhammadiyah

19 February 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) akan menyelenggarakan Sid....

Suara Muhammadiyah

1 May 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Saat ini Fisip Unismuh Makassar sedang mempersiapkan berkas administr....

Suara Muhammadiyah

27 March 2024