Menari dalam Gelombang Perubahan
Penulis: Iu Rusliana, Penulis adalah dosen Program MM Uhamka, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat
Sebagai pimpinan, kita harus bekerja dengan metode terbaik. Jikapun hasilnya belum sesuai harapan, tak boleh berhenti, apalagi dihinggapi keputusasaan. Teruslah berikhtiar karena hasil tidak pernah mengkhianati proses. Tak perlu juga mencari kambing hitam persoalan, jujur dan objektiflah, untuk mencari jalan keluar persoalan. Mencari alasan itu paling mudah dilakukan. Tapi secara jantan mengakui kekurangan atau kesalahan, lalu memperbaiki, itu adalah model keteladanan.
Teruslah berjuang demi kepentingan bersama. Jangan mudah menyerah, apalagi sedikit-sedikit mengeluh dan mengaku lelah. “…Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87).
Mereka yang kurang bersyukur selalu akrab dengan sikap menyerah. Oleh karena itu, optimisme harus terus dikobarkan. Berprasangka baik kepada Allah Yang Maha Kuasa adalah modalnya. Menyala terus semangat juang sampai titik darah penghabisan. Jika Anda sebagai pemimpinnya saja loyo, hilang semangat, bagaimana dengan anak buahnya? Ketegaran seorang pemimpin menjadi modal penting. Vibesnya harus dapat, begitu kata anak zaman sekarang.
Mungkin hal teknis dikerjakan staf kantor, tetapi kerangka konseptual, rencana besar visi misi target, lobi dan ngopi-ngopi harus dieksekusi. Banyak hal dibahas dulu di meja sambil ngopi. Jejaring dibuka, dipelihara, dan dikembangkan. Kalau hanya duduk, mendapatkan laporan, mana ada perkembangan dan berkemajuan. Akhirnya lebih banyak berkeluh kesah, dibandingkan mendapatkan perkembangan.
Tak ada yang datang ke kita begitu saja. Kadang ada pihak yang memperjuangkannya sekuat tenaga. Lalu Anda diberi kesempatan, dengan duduk manis saja, jadilah. Lalu sampaikan ke banyak pihak kalau semuanya hasil kerja saya. Sungguh tak tahu malu dan rendah kualitas Anda.
Tempa dan pantaskan terus diri kita. Jangan berpuas diri dan berhenti belajar. Dunia terlalu luas dan tantangan akan terus menghebat dan tinggi kompleksitasnya. Semuanya cepat berubah sulit diprediksi. Volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambigu (VUCA) begitu dunia digambarkan saat ini.
Dengan situasi seperti ini, jadilah pemimpin yang pandai menari dalam perubahan. Tetap teguh dengan identitas dan prinsip dasar. Bersedia berkompromi untuk hal yang bersifat atributif, bukan esensial. Perubahan itu nyata, tetapi sikap kita menjadi alat ukur, seberapa paham dengan arus perubahan itu.
Solusinya, jadilah pembelajar dan kembangkan organisasi yang terus belajar. Seluruh elemennya belajar bersama, tidak ada lagi pengetahuan di masing-masing anggota organisasi (tacit), tapi semuanya terbagikan dengan baik, menjadi pengetahuan yang tersebarluaskan. Dokumentasi dan penyebarluasan di internal menjadi salah satu budaya kerja dan organisasi yang berkembang.
Kerja kolektif adalah buah dari langkah bersama. Dilakukan dengan strategi dan proses kolaboratif, bahu membahu. Saling mengunci yang terbuka, menutup yang kosong, sehingga rencana besar terealisasi. Sebuah tim hebat bukan karena bertabur bintang, tetapi satu orkestra indah yang diatur dirijen yang super keren.
Oleh karena itu, kebaikan harus direncanakan, dilaksanakan, dievaluasi, karena pasti pelaksanaannya akan ada kekurangan, lalu diteruskan sehingga berkembang, meluas manfaatnya pada sesama. Menjadi tugas pemimpin untuk merencanakan kebaikan, memantau proses pelaksanaannya, mengevaluasi dari setiap masukan perbaikan, dan melakukan perbaikan secara terus menerus menyeluruh.
Bukan kebaikannya yang tidak sempurna. Pelaksana kebaikan itu sendiri adalah manusia. Kadang ada yang kurang dalam prosesnya. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Tentu saja, mereka yang terus mencintai kebaikan dan kebenaran akan mencapai derajat ketakwaan.
Manusia beriman, diharuskan bertakwa dan memperhatikan bekal apa yang akan dibawa untuk hari esok. Tentu saja hal ini merupakan perintah agar kita merencanakan kebaikan sebaik mungkin. Kebaikan yang direncanakan, dikerjakan secara kolaboratif organisatoris (berjamaah) akan kuat, kokoh, berdampak luas dan berkelanjutan. Teruslah bergerak dan menebar energi untuk kemajuan. Wallaahu’alam.

