Menghadapi Fitnah Dajjal

Publish

19 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
37
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Menghadapi Fitnah Dajjal

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Dalam diskursus eskatologi Islam, kedatangan sosok Dajjal merupakan salah satu ujian keimanan terbesar yang sangat diwaspadai. Muncul sebuah kekhawatiran yang mendalam: bagaimana jika justru mereka yang kita anggap sebagai teladan—seperti para ulama atau tokoh masyarakat—justru tergelincir dalam kebingungan dan berakhir menjadi pengikut setianya? 

Hal ini memicu pertanyaan krusial bagi setiap Mukmin: adakah indikator spiritual yang bisa membantu kita mendeteksi apakah kita telah terperdaya oleh tipu daya tersebut? Apakah ada kerentanan tertentu, mungkin berupa noda dosa atau kelemahan karakter, yang membuat seseorang lebih mudah termakan fitnah Dajjal? Lebih jauh lagi, muncul pertanyaan tentang nasib non-Muslim di tengah badai ujian global ini—apakah ada bentuk perlindungan universal bagi mereka yang belum mengenal literatur Islam terkait ancaman ini?

Fenomena ini mencerminkan dinamika psikologis yang berbeda antar generasi. Bagi generasi senior yang telah menghabiskan puluhan tahun mendengar narasi tentang akhir zaman di berbagai mimbar, isu mengenai Dajjal sering kali dipandang dengan sikap yang lebih tenang, bahkan terkadang kehilangan daya kejutnya karena sudah menjadi bagian dari rutinitas rohani selama seumur hidup. Refleksi panjang telah membuat mereka terbiasa dengan peringatan-peringatan tersebut.

Namun, situasinya sangat berbeda bagi generasi muda. Ketika seorang pemuda melangkah ke masjid dan mendengar seruan membara tentang kedatangan Dajjal, mereka merasakannya sebagai ancaman eksistensial yang seolah-olah akan terjadi esok hari. Ketegangan ini sering kali dijawab oleh para mufasir dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan metaforis. 

Mereka berargumen bahwa kita tidak perlu terpaku menunggu kemunculan sosok fisik Dajjal di masa depan, karena benih-benih Dajjalisme—sistem nilai yang penuh tipu daya, manipulasi kebenaran, dan materialisme buta—mungkin sudah meresap kuat dan mewarnai realitas kehidupan kita saat ini.

Secara etimologis, istilah "Dajjal" dalam bahasa Arab bukanlah sekadar nama pribadi, melainkan sebuah predikat yang merujuk pada sosok pendusta ulung yang kepalsuannya telah mencapai tingkat absolut. Ia merepresentasikan personifikasi dari keburukan manusia yang paling ekstrem; sebuah entitas yang seluruh keberadaannya dibangun di atas fondasi manipulasi dan kepalsuan. 

Dalam tradisi Islam, sosok ini secara lengkap disebut sebagai al-Masih ad-Dajjal, yang secara harfiah berarti "Mesias Palsu". Penggunaan istilah ini menciptakan kontras langsung dengan Nabi Isa a.s. yang merupakan Al-Masih yang sejati. Maka, dalam konteks komparasi agama, Dajjal adalah padanan langsung dari figur Antikristus yang dikenal dalam eskatologi Kristen.

Meskipun memiliki kemiripan peran, terdapat nuansa perbedaan interpretasi antara perspektif Islam dan Kristen mengenai sosok ini. Dalam tradisi Kristiani, peringatan mengenai Antikristus tercatat kuat dalam Kitab Wahyu serta dalam khotbah-khotbah Yesus di Injil. Beliau memberikan peringatan keras agar umat waspada terhadap kemunculan mesias-mesias palsu yang akan memproklamirkan diri sebagai penyelamat. Satu tolok ukur utama yang diberikan untuk mengenali mereka adalah melalui buah dari perbuatan mereka; perilaku lahiriah mereka akan menjadi bukti tak terbantahkan atas kebusukan batin mereka.

Interaksi budaya dan intelektual antara umat Muslim dan Kristiani di masa lalu turut memengaruhi perkembangan narasi mengenai Antikristus ini. Seiring berjalannya waktu, berbagai riwayat mengenai Dajjal mulai bermunculan dan dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW. 

Namun, dalam konteks inilah penting bagi kita untuk bersikap kritis melalui ilmu kritik hadits. Membedakan antara sabda asli Nabi dan narasi yang ditambahkan oleh orang-orang di kemudian hari bukanlah proses mekanis yang instan layaknya pemindai kode batang. Proses ini membutuhkan kecerdasan manusiawi yang mendalam, ketelitian sejarah, serta kemampuan untuk menghubungkan berbagai faktor kontekstual yang kompleks.

Sebagai perbandingan, hadits-hadits yang berkaitan dengan praktik ibadah harian, seperti tata cara shalat, cenderung memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi. Hal ini dikarenakan praktik tersebut dilakukan secara kolektif dan turun-temurun oleh seluruh komunitas Muslim setiap harinya. Jika muncul sebuah klaim atau ajaran baru yang asing mengenai shalat, masyarakat akan segera menyadarinya karena hal tersebut bertentangan dengan tradisi yang sudah mendarah daging. 

Sebaliknya, informasi mengenai peristiwa futuristik seperti kedatangan Dajjal lebih sulit untuk diverifikasi karena tidak didasarkan pada praktik harian, melainkan pada memori tekstual yang memerlukan ketajaman analisis untuk memastikan kemurnian pesannya.

Ketika kita beralih membahas fenomena futuristik seperti kedatangan Dajjal, muncul sebuah pertanyaan teologis yang sangat mendasar; sejauh mana validitas narasi ini jika dikaitkan dengan sumber primer Islam? Menarik untuk dicermati bahwa meskipun Dajjal dianggap sebagai fitnah terbesar dalam sejarah manusia, namanya tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur'an. 

Padahal, Al-Qur'an secara detail menyebutkan fenomena akhir zaman lainnya, seperti kemunculan Dabbat al-Ardh (makhluk melata dari bumi) yang berbicara kepada manusia. Absennya penyebutan langsung ini sering kali memicu diskusi kritis di kalangan sarjana mengenai bagaimana kita seharusnya memposisikan riwayat-riwayat tersebut dalam kerangka akidah.

Narasi mengenai Dajjal yang kita kenal saat ini sangatlah variatif dan penuh dengan simbolisme. Ia digambarkan sebagai sosok dengan cacat fisik—yakni buta pada mata kanannya—namun memiliki kemampuan supernatural yang melampaui logika manusia pada zamannya, seperti kecepatan berpindah antar benua dalam waktu singkat. 

Di era kontemporer, gambaran ini sering kali mengalami "digitalisasi interpretasi" atau pemaknaan modern; sebagian orang berspekulasi bahwa kemampuan terbang Dajjal mungkin adalah metafora bagi teknologi penerbangan canggih atau pesawat terbang yang kita saksikan hari ini. 

Namun, esensi paling berbahaya dari Dajjal bukanlah kekuatan fisiknya, melainkan distorsi realitas yang ia bawa. Ia adalah master manipulasi yang mampu memutarbalikkan nilai; apa yang ia tampakkan sebagai kebenaran sejatinya adalah kebatilan, dan apa yang ia sajikan sebagai surga yang menggiurkan sebenarnya hanyalah neraka yang menyengsarakan bagi jiwa manusia.

Ketidakpastian mengenai identitas fisik Dajjal sebenarnya telah ada sejak zaman kenabian. Sejarah mencatat adanya ambiguitas di kalangan sahabat, bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri pun sempat menaruh perhatian khusus pada seorang pemuda bernama Ibnu Sayyad yang menunjukkan gelagat aneh. Di sisi lain, terdapat riwayat dari Tamim al-Dari tentang pertemuannya dengan sosok misterius di sebuah pulau terpencil. Keberagaman versi cerita ini—mulai dari sosok yang ada di tengah masyarakat hingga sosok yang terisolasi—seharusnya mendorong kita untuk menyikapi isu ini dengan sikap yang lebih tenang, objektif, dan tidak terjebak dalam histeria yang berlebihan.

Terkait upaya perlindungan diri, tradisi Islam telah memberikan perisai spiritual yang sangat spesifik. Kita perlu menghafal dan merenungi sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi. Ayat-ayat ini bukan sekadar bacaan, melainkan benteng intelektual dan spiritual yang menjaga kewarasan iman dari tipu daya Dajjal. Mengenai kekhawatiran apakah para ulama akan terperdaya, narasi klasik memberikan harapan optimis: Dajjal akan memiliki tanda "K-F-R" (Kafir) di dahinya—sebuah sandi spiritual yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang memiliki kejernihan hati dan kedalaman ilmu.

Bagi non-Muslim yang mungkin tidak memiliki akses terhadap literatur proteksi ini, tantangannya tentu lebih besar. Namun, pada akhirnya, perlindungan yang paling hakiki bagi setiap manusia adalah komitmen yang teguh pada kebenaran, iman yang tulus kepada Allah, serta hubungan yang intim dengan pesan-pesan suci Al-Qur'an secara keseluruhan. Iman bukanlah sekadar pengetahuan, melainkan radar batin yang akan menuntun kita melewati badai kebohongan sepahit apa pun.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ramadhan, Bulan Kesantunan Berbahasa  Oleh:  Prof. Dr. Achmad Hilal Madjdi, M.Pd. Ketua P....

Suara Muhammadiyah

6 March 2025

Wawasan

Anak Saleh (29)Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang "Anak saleh bukan barang insta....

Suara Muhammadiyah

6 February 2025

Wawasan

Menjaga Keanekaragaman Hayati, Menjaga Masa Depan  Penulis: Afita Nur Hayati, M.Si, Bekerja di....

Suara Muhammadiyah

31 December 2025

Wawasan

Oleh: Amirsyah Tambunan, Sekjen MUI Perbincangan soal tambang seolah tidak akan berakhir, bagaikan ....

Suara Muhammadiyah

5 August 2024

Wawasan

Iuran Anggota Muhammadiyah: Mengapa Tidak Lewat LAZISMU?Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, ....

Suara Muhammadiyah

10 February 2025