Menilik Makna Daun Kelor di Balik Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

12 September 2026

452
Logo resmi Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah. Doc. PP Muhammadiyah

Logo resmi Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah. Doc. PP Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Palu, Sulawesi Tengah, ditetapkan sebagai tuan rumah Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah. Dan secara resmi, Muhammadiyan meluncurkan logonya, Sabtu (12/9) di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Cik Ditiro, Kota Yogyakarta.

Elemen utama dari logo ini yaitu daun kelor. Daun kelor ini, selain menjadi salah satu ikon dan identitas khas Kota Palu, kata Haedar Nashir, kandungan maknanya begitu rupa.

Pohon kelor disebut Haedar sebagai pohon ajaib. Kenapa dikatakan seperti itu? Sebab bisa tumbuh dan hidup di musim dan tempat mana pun.

"Dia lambang dari kesederhanaan dan ketangguhan," jelas Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut.

Karena itu, spirit Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah, Haedar mengajak kepada seluruh pimpinan dan warga Persyarikatan agar makin memperkuat kesederhanaan yang punya nilai (qimah, value) dan ketangguhan.

"Bukan kesederhanaan sebagai populisme dan ketangguhan di mana kita bisa adaptif tetapi kuat dalam setiap zaman dan pergerakan," terang Haedar.

Selain itu, daun kelor sebagai simbol keluasan. Dalam sebuah adagium dikatakan, "Dunia tak selebar daun kelor." Dikemukakan Haedar, dunia itu bersifat universal. "Itu luas sekali," ucapnya.

Artinya, lanjut Haedar, daun kelor itu lambang keluasan. “Keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan dan keluasan jelajah pergerakan Muhammadiyah,” sambungnya.

Itulah makna dari elemen daun kelor. Sehingga dengan keluasan itu lalu hidup menjadi inklusif.

“Dan kita bisa menghadapi kehidupan dengan universalisme yang bernilai," bebernya.

Di samping itu, pohon kelor juga dimaknai sebagai lambang kesejahteraan dan kemakmuran. "Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan. Terbukti bahwa daun kelor itu bisa dimasak. Dan enak asal masaknya baik," selorohnya, menandaskan.

Bentuk daun kelor itu dipadukan secara dinamis dengan angka 114. Angka ini bukan sekadar peringatan usia semata, bersamaan dengan itu, juga menjadi representasi dari perjalanan eksistensi Persyarikatan Muhammadiyah yang terus bergerak secara dinamis, berkemajuan, dan harmonis. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

VIETNAM, Suara Muhammadiyah – Mengawali tahun 2024 ini Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) ke....

Suara Muhammadiyah

13 January 2024

Berita

TAMIANG, Suara Muhammadiyah - Komitmen kemanusiaan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui pro....

Suara Muhammadiyah

12 January 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 me....

Suara Muhammadiyah

6 May 2026

Berita

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Semarak milad ke-18 Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

18 June 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Bagi Albar Yuwar Dhanuwinata, kuliah Agribisnis menjadi menarik ....

Suara Muhammadiyah

7 September 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah