Menjadikan Islam Sebagai Agama yang Bercahaya

Publish

15 December 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
414
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir menyampaikan amanatnya dalam Musyawarah PCIM Amerika Serikat

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir menyampaikan amanatnya dalam Musyawarah PCIM Amerika Serikat

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Islam sebagai agama tidak hanya dipahami dalam dimensi perintah dan larangan semata, tetapi juga mengandung dimensi petunjuk (Al-Irsyadah) yang luas bagi kehidupan manusia. Pandangan inilah yang menjadi salah satu ciri khas pemahaman Islam dalam Muhammadiyah.

Hal tersebut ditegaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat membuka Musyawarah Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Amerika Serikat, Sabtu (13/12) secara daring. Kegiatan ini sekaligus menandai usia PCIM Amerika Serikat yang telah memasuki tahun ke-17.

Haedar menjelaskan, dalam Manhaj Tarjih, Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan Allah SWT kepada para Nabi Adam hingga Nabi Muhammad saw, yang ajarannya termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah yang maqbullah. Di dalamnya terkandung perintah-perintah, larangan-larangan, serta petunjuk-petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.

“Yang perlu kita garis bawahi adalah dimensi petunjuk atau Al-Irsyadah. Dari definisi Islam itu, Muhammadiyah memberi penekanan substansial yang mungkin berbeda, yakni pada dimensi petunjuk,” ujar Haedar.

Menurutnya, dalam banyak ceramah, kajian, atau bacaan keislaman, Islam kerap dipahami secara dominan dalam kerangka perintah dan larangan. Padahal, Al-Qur’an sendiri sarat dengan petunjuk yang tercermin dalam berbagai konsep, seperti Al-Furqan, Al-Qur’an sebagai penjelas, penciptaan alam semesta, hingga berbagai peristiwa kehidupan yang mengandung hikmah dan tuntunan.

“Betapa luas dimensi keduniawian yang kemudian direpresentasikan dalam pemahaman muamalah duniawiyah. Di situlah ruang ijtihad dan ruang berpikir terbuka lebar,” jelasnya.

Haedar menambahkan, Muhammadiyah berusaha menggali kembali ajaran Islam yang selama berabad-abad kerap terkungkung dalam kejumudan. Oleh karena itu, Islam dihadirkan sebagai agama pencerah.

Ia mengutip pemikiran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang menyatakan bahwa pada hakikatnya agama itu cerah, bercahaya, dan berkilau. Namun, redupnya agama bukan disebabkan oleh ajarannya, melainkan oleh umat yang tidak memahami Islam secara mendalam.

Pemahaman tersebut, lanjut Haedar, menjadi salah satu pokok pandangan Islam Muhammadiyah yang telah dikodifikasi melalui Muktamar dalam Risalah Islam Berkemajuan. Risalah ini menjadi dasar, bingkai, dan cita-cita dalam menggerakkan Persyarikatan Muhammadiyah.

“Dengan Risalah Islam Berkemajuan itu, saya yakin seluruh PCIM di mana pun berada, meskipun jarang bertemu secara fisik, tetap dapat terikat oleh satu pemahaman dan perspektif yang sama, yaitu Islam Berkemajuan,” pungkas Haedar.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Bagaimana cara sebuah organisasi Islam terbesar tetap kokoh pada ideo....

Suara Muhammadiyah

17 October 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto ....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan International Islamic Schoo....

Suara Muhammadiyah

14 May 2024

Berita

MAROS, Suara Muhammadiyah - Memasuki bulan suci Ramadan, Lembaga Pengembangan Cabang – Ranting....

Suara Muhammadiyah

21 March 2024

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Dengan tema "Menumbuhkan jiwa wirausaha, Membangun Kemandirian Fina....

Suara Muhammadiyah

7 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah