Menjaga Mentalitas dengan Nilai-Nilai Spiritual

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

2283
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Menjaga Mentalitas dengan Nilai-Nilai Spiritual

Pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Tuhan di dunia dengan sempurna, dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya. Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan "Laqod fi Ahsani fii Taqwim" (Sungguh Aku menciptakan manusia dalam keadaan yang paling sempurna).

Ini menandakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan hewan, tumbuhan, dan yang lainnya. Di dalam diri manusia, terdapat hati (qolbu), yang merupakan pusat dalam menggerakkan akal, pikiran, perilaku, dan tindakan manusia itu sendiri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mentalitas terdiri dari jiwa, berfikir, dan perasaan. Karena mentalitas memiliki makna yang berkaitan dengan watak lahir dan batin manusia, dari bahasa Latin "Mens (Mentis)" yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat, semuanya bersatu dan berhubungan erat.

Seiring dengan perkembangan zaman dan beban yang semakin berat, watak dan karakter manusia cenderung menjauh dari nilai-nilai agama. Saat ini, banyak terjadi peningkatan gangguan kesehatan mental pada manusia, dan semakin mudah terkena penyakit mental. Ini dialami oleh anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa, dikarenakan faktor ekonomi, keluarga, dunia kerja, lingkungan, dan bahkan orang-orang berpendidikan tinggi atau yang memiliki jabatan di dunia politik maupun bisnis, yang terkadang juga terkena penyakit mental.

Beberapa tahun yang lalu, ada calon presiden yang menjadikan isu Revolusi Mental, tetapi kenyataannya masih jauh dari harapan, dengan maraknya praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) di beberapa instansi pemerintahan dan swasta. Prof. Dr. KH. Haedar Nasir, M.Si, pernah mengatakan, "Banyak orang cerdas tapi miskin akhlak," menandakan bahwa kecerdasan dan jabatan tidak akan memiliki dampak positif jika tidak digunakan dengan sebaik-baiknya.

Dalam ilmu kesehatan dan psikologi, penyakit mental dapat disebabkan secara biologis (mental organik), seperti gangguan pada syaraf, infeksi bakteri, kelainan bawaan, atau cedera otak, penyalahgunaan NAPZA, kekurangan nutrisi, dan ketergantungan pada smartphone.

Faktor psikologis, di antaranya, meliputi peristiwa traumatis seperti bullying, pelecehan seksual, kekerasan verbal, kehilangan orang tua, kurangnya kemampuan dalam berinteraksi sosial, perceraian, atau kehilangan suami atau istri, dan perasaan rendah diri.

Untuk mengatasi dan mengantisipasi masalah tersebut, penting untuk memperkuat diri, keluarga, dan masyarakat dengan nilai-nilai spiritual yang holistik. Selain itu, menciptakan kenyamanan dan keadilan akan meningkatkan kesejahteraan.

Selamat Hari Kesehatan Mental sedunia, semoga kita senantiasa terjaga dan melindungi generasi kita agar menjadi generasi yang kuat dan tangguh.

Rumini Zulfikar, Ketua PRM Troketon, Pedan, Klaten


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Rezeki, Risywah, dan Ketenangan Hati Oleh: Rusydi Umar, Dosen FTI Universitas Ahmad Dahlan, Anggota....

Suara Muhammadiyah

6 December 2025

Wawasan

Seni Mengucap Insya Allah: Antara Kepasrahan dan Kepastian Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas I....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Wawasan

Bagaimana Islam Wasathiyah Diterapkan dalam Konteks Dakwah Digital dan Tantangan Era Post-Truth? Ol....

Suara Muhammadiyah

13 March 2025

Wawasan

Hukuman Mati Bagi Koruptor dalam Pandangan Islam Oleh: Krisna Nurhuda, S.H., M.H. Sekretaris Majeli....

Suara Muhammadiyah

28 August 2025

Wawasan

Dari Desa Membaca Buya Syafii (Kisah Saya dan Kelas Reading Buya Syafii) Oleh: Rizkul Hamkani, kom....

Suara Muhammadiyah

17 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah