Resolusi 2026: Merdeka Finansial atau Mati Konyol Digulung Pinjol

Publish

3 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
242
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Resolusi 2026: Merdeka Finansial atau Mati Konyol Digulung Pinjol

Penulis: Izzul Khaq, Kader IMM Jawa Tengah

Ada satu pemandangan ganjil yang menjadi paradoks di wajah generasi kita hari ini, seorang anak muda duduk di kafe kekinian, MacBook terbuka menampilkan grafik organisasi yang rumit, retorikanya tajam menghujam ketidakadilan negara, namun di balik layar ponselnya, ia sedang gemetar menunggu teror debt collector pinjaman online (pinjol).

Ini adalah kenyataan pahit yang jarang dibicarakan secara jujur di mimbar-mimbar diskusi. Banyak Gen Z yang bekerja keras, berpendidikan tinggi, dan aktif berorganisasi, namun tetap "miskin" secara finansial. Bukan karena kurang gaji, melainkan karena miskin literasi. Di ambang tahun 2026 ini, pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak gelar yang kita raih, melainkan seberapa mampu kita menjaga kemerdekaan diri dari jeratan ekonomi digital yang predatorik.

Musuh dalam Selimut itu Ilusi "Uang Instan"

Kita harus mengakui bahwa pinjol dan judi online (judol) bukan sekadar masalah moralitas atau hobi buruk; mereka adalah manifestasi dari lubang besar dalam sistem pendidikan kita. Selama belasan tahun, sekolah mengajarkan kita cara menjadi pekerja yang patuh, pengejar IPK yang setia, dan pemburu jabatan struktural yang gigih. Namun, kita dibiarkan buta huruf soal bagaimana uang bekerja.

Akibatnya fatal. Saat kebutuhan hidup melonjak dan gengsi sosial menuntut pemuasan, sementara kemampuan mengelola uang tetap stagnan, jalan pintas menjadi tuhan baru. Pinjol menawarkan "solusi cepat", judol menjanjikan "kekayaan instan". Padahal, keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama: mesin penghancur masa depan. Pinjol menjual waktu masa depanmu hari ini, sementara judol menjual harapan palsu yang tidak pernah menang.

Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad memberikan tamparan keras: "Bukan berapa banyak uang yang kamu hasilkan, tapi berapa banyak yang kamu simpan dan seberapa keras uang itu bekerja untukmu." Sayangnya, bagi aktivis yang terlalu sibuk mengurus umat tapi lupa mengurus arus kas pribadi, kutipan ini seringkali dianggap sebagai jargon kapitalis yang tabu.

Jika kita tidak segera melakukan revolusi cara berpikir di tahun 2026, siklus "Gaji Datang lalu Habis kemudian Utang" akan menjadi kurikulum tetap hidup kita. Kita akan melihat generasi yang cerdas dalam ideologi namun lumpuh secara ekonomi.

Dampaknya sudah terasa. Banyak anak muda hari ini merasa gagal sebelum bertanding: sulit menikah karena syarat "mapan" yang mustahil diraih, tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, hingga hidup yang selalu dihantui kecemasan dari satu tanggal muda ke tanggal muda lainnya. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi; ini adalah krisis kemandirian hidup yang merampas kedaulatan kita sebagai manusia merdeka.

Literasi Finansial sebagai Alat Perlawanan

Bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan organisasi kepemudaan lainnya, melek keuangan seharusnya dipandang sebagai bagian dari perjuangan pembebasan (emansipasi). Bagaimana mungkin kita bisa berteriak lantang melawan ketidakadilan sosial jika kaki kita sendiri terikat rantai utang? Bagaimana mungkin kita bisa berdakwah dengan tenang jika hati penuh sesak oleh kecemasan tagihan yang membengkak?

Islam menempatkan pengelolaan harta sebagai amanah. Harta bukan untuk ditumpuk secara egois, melainkan dikelola secara produktif agar memberi manfaat. Literasi finansial adalah senjata untuk memastikan amanah itu tertunaikan. Melek finansial berarti tahu bedanya aset (yang memasukkan uang ke saku) dan liabilitas (yang mengeluarkan uang dari saku). Ia adalah kemampuan untuk menahan diri dari gaya hidup "prestise" demi membangun "aset" jangka panjang.

Tahun 2026 harus menjadi titik balik. Investasi tidak boleh lagi dianggap sebagai urusan orang kaya berdasi. Bagi Gen Z, investasi adalah alat bertahan hidup (survival kit). Inflasi tidak akan menunggu gajimu naik; ia akan terus menggerus nilai uangmu.

Kader IMM harus mulai mengubah prioritasnya. Pertama, Dana Darurat sebelum Gaya Hidup, maksudnya memiliki tabungan yang cukup untuk tiga hingga enam bulan biaya hidup. Kedua, Investasi sebelum Konsumsi, yakni membeli instrumen investasi (emas, reksa dana, atau aset produktif lainnya) sebelum membeli barang yang hanya untuk pamer. Ketiga, Aset sebelum Prestise, maksudnya lebih memilih punya portofolio yang sehat daripada feeds Instagram yang terlihat mewah namun keropos di dalam.

Merdeka Finansial adalah Kedaulatan Berpikir

IMM dan organisasi intelektual lainnya memiliki tanggung jawab besar. Tidak cukup lagi hanya melahirkan orator yang piawai bersilat lidah di podium. Kita butuh kader yang mandiri secara finansial. Literasi finansial harus masuk ke dalam materi kaderisasi, menjadi tema kajian, dan menjadi gerakan edukatif massal.

Tujuan utamanya bukan untuk mengubah aktivis menjadi pedagang, melainkan agar mereka tidak menjadi korban sistem ekonomi yang kejam. Kita butuh aktivis yang saat berbicara tentang perubahan bangsa, ia melakukannya dalam kondisi berdaulat atas dirinya sendiri.

Pinjol dan judi online adalah cermin dari ketidaksiapan kita. Jalan keluarnya bukan hanya pelarangan lewat regulasi, melainkan pencerahan lewat literasi. Pilihan di tahun 2026 hanya dua, apakah tetap bekerja keras tanpa arah dan berakhir terlilit, atau mulai bekerja cerdas dengan kesadaran finansial yang kuat.

Sebab pada akhirnya, kemerdekaan berpikir tidak akan pernah utuh tanpa kemerdekaan finansial. Mari jadikan 2026 sebagai tahun di mana kita benar-benar merdeka.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Usia Aisyah & Bani Quraizhah: Sebuah Kajian Ulang Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buda....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025

Wawasan

Kajian Kritis Surah An-Nisa 34: Mencari Titik Temu Interpretasi Oleh: Donny Syofyan/Dosen Faku....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Wawasan

Homo Digitalis Kehilangan Titik Referensi Oleh: Agusliadi Massere Dalam narasi-narasi semiotik Yas....

Suara Muhammadiyah

10 November 2023

Wawasan

Bersyukur dan Bangga ber-Tapak Suci, Renungan Milad ke-61 Tahun Oleh: Suprapto, S.H, M.M, P. Ka, Ke....

Suara Muhammadiyah

31 July 2024

Wawasan

Indera dan Akal dalam Pandangan Islam Oleh: Kumara Adji Kusuma, Dosen Universitas Muhammdaiyah Sido....

Suara Muhammadiyah

24 October 2025