Menjaga Muhammadiyah Agar Tidak Kehilangan Arah dalam Berdakwah

Suara Muhammadiyah

30 December 2025

572
Fathurrahman Kamal, Lc., MSI

Fathurrahman Kamal, Lc., MSI

JEMBER, Suara Muhammadiyah — Muhammadiyah pada hakikatnya bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan cara ber-Islam. “Ruh Muhammadiyah itu Islam. Jantung Muhammadiyah ada pada cara ia menghidupkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan,” ujar Fathurrahman Kamal.

Memang, Islam tidak boleh direduksi menjadi simbol formal di dalam Muhammadiyah, “melainkan harus dihidupi secara sadar, bertanggung jawab, dan terorganisasi,” sambungnya.

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengaitkan hal tersebut dengan sabda Nabi Muhammad Saw tentang segumpal daging di dalam jasad manusia.

“Jika Islam hidup dalam Muhammadiyah, maka seluruh Muhammadiyah akan hidup. Tetapi jika Islam dirusak atau diperalat, maka rusaklah Muhammadiyah seluruhnya,” kata dia saat Kajian Tabligh Akbar Milad 113 Muhammadiyah PCM Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahad (28/12) di Masjid Muhammadiyah Wuluhan.

Fathur menegaskan, ber-Islam dalam Muhammadiyah meniscayakan ketaatan pada sistem dan kepemimpinan Persyarikatan. Menurut dia, tidak ada amal jama‘i yang sah tanpa disiplin jamaah. Sikap enggan diatur, tidak patuh pada struktur, atau merasa bisa berjalan sendiri tanpa PCM dan PDM, dinilai bertentangan dengan ruh Muhammadiyah

“Organisasi bukan sekadar alat administratif. Dalam dakwah, ia adalah kaidah yang wajib,” katanya. Aktivisme tanpa sistem, lanjut dia, hanya akan melahirkan kekacauan; semangat tanpa ketaatan berujung konflik; dan amal besar tanpa manajemen akan runtuh oleh ego.

Dalam konteks sejarah kebangsaan, Fathur menyinggung dialog antara Sukarno dan Ki Bagus Hadikusumo, yang menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar klaim formal.

Dari Islam yang hidup itu, kata dia, lahir figur seperti Fatmawati yang menjahit Sang Merah Putih, serta berkembangnya kampus, rumah sakit, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah sebagai ladang dakwah. Namun, ia menegaskan, Islam yang hidup tidak boleh dijalankan secara serampangan. “Ia harus dimanajemen dengan baik,” ujarnya.

Menurut Fathur, kebenaran Islam memang dijamin oleh Allah, tetapi tegaknya Islam di muka bumi memerlukan ikhtiar manusia yang terorganisasi. Tantangan terhadap Islam bekerja secara sistematis dan lintas negara. Karena itu, dakwah tidak cukup dengan niat baik.

“Rapat bukan formalitas, musyawarah bukan beban, dan disiplin bukan kekakuan. Semua itu bagian dari tanggung jawab iman,” kata dia.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara ketegasan akidah dan keluhuran kemanusiaan. Menolong tetangga non-Muslim, hadir di rumah duka, atau membantu korban musibah, menurut dia, adalah bagian dari akhlak Islam tanpa harus mencampuradukkan prinsip akidah.

“Allah bersama hamba yang menolong sesama hamba,” tegasnya, seraya mengingatkan bahwa seluruh amal kemanusiaan tetap harus dikelola agar berkelanjutan. (Indra/Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Agung Danarto menegaskan b....

Suara Muhammadiyah

22 May 2026

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Tim Pengembangan Prestasi Mahasiswa (TPPM) Universitas Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

31 July 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Muhammadiyah Center for Entrepreneurship and Business Incubator (MCEBI....

Suara Muhammadiyah

29 February 2024

Berita

SD Muhammadiyah 20 Palembang Sukses Gelar ANBK 2025: Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan PALEMBANG,....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang bersiap menunjukkan ....

Suara Muhammadiyah

11 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah