Menjaga Muhammadiyah Agar Tidak Kehilangan Arah dalam Berdakwah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
249
Fathurrahman Kamal, Lc., MSI

Fathurrahman Kamal, Lc., MSI

JEMBER, Suara Muhammadiyah — Muhammadiyah pada hakikatnya bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan cara ber-Islam. “Ruh Muhammadiyah itu Islam. Jantung Muhammadiyah ada pada cara ia menghidupkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan,” ujar Fathurrahman Kamal.

Memang, Islam tidak boleh direduksi menjadi simbol formal di dalam Muhammadiyah, “melainkan harus dihidupi secara sadar, bertanggung jawab, dan terorganisasi,” sambungnya.

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengaitkan hal tersebut dengan sabda Nabi Muhammad Saw tentang segumpal daging di dalam jasad manusia.

“Jika Islam hidup dalam Muhammadiyah, maka seluruh Muhammadiyah akan hidup. Tetapi jika Islam dirusak atau diperalat, maka rusaklah Muhammadiyah seluruhnya,” kata dia saat Kajian Tabligh Akbar Milad 113 Muhammadiyah PCM Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahad (28/12) di Masjid Muhammadiyah Wuluhan.

Fathur menegaskan, ber-Islam dalam Muhammadiyah meniscayakan ketaatan pada sistem dan kepemimpinan Persyarikatan. Menurut dia, tidak ada amal jama‘i yang sah tanpa disiplin jamaah. Sikap enggan diatur, tidak patuh pada struktur, atau merasa bisa berjalan sendiri tanpa PCM dan PDM, dinilai bertentangan dengan ruh Muhammadiyah

“Organisasi bukan sekadar alat administratif. Dalam dakwah, ia adalah kaidah yang wajib,” katanya. Aktivisme tanpa sistem, lanjut dia, hanya akan melahirkan kekacauan; semangat tanpa ketaatan berujung konflik; dan amal besar tanpa manajemen akan runtuh oleh ego.

Dalam konteks sejarah kebangsaan, Fathur menyinggung dialog antara Sukarno dan Ki Bagus Hadikusumo, yang menunjukkan bahwa Islam bukan sekadar klaim formal.

Dari Islam yang hidup itu, kata dia, lahir figur seperti Fatmawati yang menjahit Sang Merah Putih, serta berkembangnya kampus, rumah sakit, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah sebagai ladang dakwah. Namun, ia menegaskan, Islam yang hidup tidak boleh dijalankan secara serampangan. “Ia harus dimanajemen dengan baik,” ujarnya.

Menurut Fathur, kebenaran Islam memang dijamin oleh Allah, tetapi tegaknya Islam di muka bumi memerlukan ikhtiar manusia yang terorganisasi. Tantangan terhadap Islam bekerja secara sistematis dan lintas negara. Karena itu, dakwah tidak cukup dengan niat baik.

“Rapat bukan formalitas, musyawarah bukan beban, dan disiplin bukan kekakuan. Semua itu bagian dari tanggung jawab iman,” kata dia.

Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara ketegasan akidah dan keluhuran kemanusiaan. Menolong tetangga non-Muslim, hadir di rumah duka, atau membantu korban musibah, menurut dia, adalah bagian dari akhlak Islam tanpa harus mencampuradukkan prinsip akidah.

“Allah bersama hamba yang menolong sesama hamba,” tegasnya, seraya mengingatkan bahwa seluruh amal kemanusiaan tetap harus dikelola agar berkelanjutan. (Indra/Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Penyerahan Mahasiswa KKN Tematik STIE Muhammadiyah Cilacap  CILACAP, Suara Muhammadiyah - &nbs....

Suara Muhammadiyah

2 August 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 29  personil dan guru besar Kluang Johor Malaysia melakuk....

Suara Muhammadiyah

1 March 2024

Berita

Salurkan Zakat Fitrah, Parcel Hari Raya dan Sembako GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka ....

Suara Muhammadiyah

26 March 2025

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah A.K Anshori mela....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah (UM) Band....

Suara Muhammadiyah

15 January 2025