Menjaga Nyala Gerakan Perempuan Muda

Publish

12 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
53

Menjaga Nyala Gerakan Perempuan Muda; (Refleksi Milad 95 Nasyiatul Aisyiyah: Srikandi Penjaga Peradaban)

Penulis: Tsani Itsna Ariyanti (Anggota Departemen Kebijakan Publik PP Nasyiatul Aisyiyah dan Dosen ITB Ahmad Dahlan Jakarta)

Tanggal 16 Mei menjadi penanda penting perjalanan panjang Nasyiatul Aisyiyah. Organisasi perempuan muda Muhammadiyah ini memasuki usia ke-95 tahun. Bukan sekadar angka, melainkan jejak pengabdian panjang dalam membersamai perempuan, anak, keluarga, serta denyut kehidupan masyarakat Indonesia.

Tema Milad ke-95, “Srikandi Penjaga Peradaban”, terasa begitu relevan dengan situasi sosial hari ini. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, perempuan tidak lagi hanya diposisikan sebagai pelengkap kehidupan sosial, melainkan aktor penting yang menentukan arah peradaban. Di ruang keluarga, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga kebijakan publik, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga nilai, kemanusiaan, dan keberlanjutan generasi.

Nasyiatul Aisyiyah selama hampir satu abad telah menunjukkan bahwa gerakan perempuan bukan sekadar gerakan simbolik. Organisasi ini hadir melalui kerja-kerja nyata di antaranya mendampingi perempuan muda, menguatkan ketahanan keluarga, mendorong pendidikan anak, mengadvokasi isu kesehatan reproduksi, hingga terlibat dalam isu perlindungan perempuan dan anak.

Di banyak daerah, kader-kader Nasyiatul Aisyiyah menjadi wajah terdepan penggerak literasi, pemberdayaan ekonomi, penguatan kesehatan mental remaja, hingga pendampingan korban kekerasan. Kerja-kerja ini sering kali tidak ramai diperbincangkan, namun dampaknya nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Potret Sosial dan Tantangan Gerakan

Meski demikian, perjalanan menjaga peradaban tentu tidak berjalan di ruang yang hampa. Tahun 2026 menghadirkan tantangan sosial yang semakin kompleks. Kemajuan teknologi digital membawa manfaat besar, tetapi juga memunculkan persoalan baru seperti maraknya kekerasan berbasis gender online, krisis kesehatan mental pada anak dan remaja, budaya instan di media sosial, hingga menurunnya kualitas relasi sosial dalam keluarga.

Kita juga masih menyaksikan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, perkawinan usia anak, eksploitasi digital, serta ketimpangan akses pendidikan dan ekonomi di berbagai wilayah. Persoalan-persoalan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari seberapa aman dan bermartabat kehidupan perempuan dan anak.

Dalam konteks ini, organisasi perempuan seperti Nasyiatul Aisyiyah memiliki peran penting sebagai kekuatan sosial yang mampu menjembatani nilai keislaman, kemanusiaan, dan perubahan zaman. Nasyiatul Aisyiyah tidak hanya dituntut aktif dalam kegiatan seremonial organisasi, tetapi juga harus hadir sebagai ruang aman, ruang belajar, dan ruang pemberdayaan bagi perempuan muda.

Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sejak awal sebenarnya telah meletakkan fondasi penting tentang peran perempuan dalam perubahan sosial. Ia mendorong perempuan untuk memperoleh pendidikan dan terlibat aktif dalam kehidupan masyarakat, bukan sekadar berada di ruang domestik. Gagasan itu kemudian diteruskan oleh Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan yang meyakini bahwa perempuan harus menjadi “ibu umat” yang tercerahkan dan mampu memajukan masyarakat melalui pendidikan serta gerakan sosial. Pemikiran tersebut menjadi ruh lahirnya gerakan perempuan Muhammadiyah, termasuk Nasyiatul Aisyiyah.

Dalam konteks yang lebih modern, pemikiran Nurcholish Madjid dalam Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan (1987) juga relevan untuk dibaca ulang. Cak Nur menekankan bahwa kemajuan masyarakat Islam sangat bergantung pada keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, penghormatan pada martabat manusia, dan kemampuan membaca perubahan zaman secara kritis. Spirit inilah yang penting dimiliki gerakan perempuan hari ini, dengan tetap berpijak pada nilai keislaman, tetapi responsif terhadap persoalan sosial yang terus berubah.

Karena itu, Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah bukan sekadar momentum untuk mengenang usia organisasi, melainkan ruang refleksi tentang sejauh mana gerakan perempuan mampu menjawab tantangan zaman. Sebab perempuan muda hari ini tidak hanya membutuhkan ruang untuk bertumbuh, tetapi juga membutuhkan gerakan yang mampu mendampingi mereka menghadapi dunia yang semakin kompleks.

Tantangan lainnya adalah bagaimana organisasi tetap relevan di tengah perubahan karakter generasi muda. Anak muda hari ini hidup dalam budaya digital yang cepat, terbuka, dan dinamis. Mereka membutuhkan pendekatan gerakan yang lebih kreatif, inklusif, dan adaptif.

Oleh sebab itu, dakwah dan gerakan sosial tidak bisa lagi hanya dilakukan dengan pola lama. Organisasi perlu hadir di ruang-ruang digital, memperkuat literasi media, memanfaatkan teknologi untuk edukasi, serta membangun komunikasi yang dekat dengan realitas generasi muda. Kader Nasyiatul Aisyiyah hari ini tidak cukup hanya menjadi organisatoris, tetapi juga harus mampu menjadi pendidik, penggerak komunitas, kreator gagasan, hingga advokat kebijakan yang berpihak pada kepentingan perempuan dan anak.

Persoalan kebijakan publik juga menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari gerakan perempuan. Isu cuti melahirkan, perlindungan pekerja perempuan, pengasuhan anak, stunting, kesehatan mental remaja, hingga perlindungan korban kekerasan seksual membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Di sinilah kader-kader Nasyiatul Aisyiyah perlu terus mengambil peran strategis. Tidak hanya bergerak di akar rumput, tetapi juga aktif terlibat dalam ruang-ruang pengambilan kebijakan. Sebab, menjaga peradaban berarti memastikan bahwa kebijakan publik benar-benar menghadirkan keadilan dan perlindungan bagi kelompok yang rentan.

Menjaga Api Peradaban

Usia 95 tahun menjadi momentum refleksi sekaligus titik tolak untuk menatap masa depan. Nasyiatul Aisyiyah telah membuktikan dirinya sebagai organisasi perempuan muda yang mampu bertahan dan terus bertumbuh melintasi berbagai zaman.

Namun tantangan ke depan tentu akan semakin kompleks. Karena itu, organisasi ini perlu terus berdinamika, inovatif, dan terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan nilai dasar gerakannya. Spirit Islam berkemajuan yang menjadi fondasi Muhammadiyah harus terus diterjemahkan dalam gerakan yang membumi, responsif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Tema “Srikandi Penjaga Peradaban” sejatinya bukan hanya slogan milad. Ia adalah panggilan moral bagi seluruh kader untuk terus menjaga nilai kemanusiaan, merawat keluarga, melindungi perempuan dan anak, serta menghadirkan harapan di tengah berbagai krisis sosial.

Peradaban yang kuat tidak lahir hanya dari pembangunan fisik, tetapi dari lahirnya generasi yang sehat, berdaya, berilmu, dan memiliki akhlak yang baik. Dan dalam proses panjang itu, perempuan selalu memiliki peran penting sebagai penjaga kehidupan.

Selamat Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah. Semoga tetap menjadi rumah gerakan perempuan muda yang mencerahkan, memberdayakan, dan terus menjaga peradaban Indonesia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Istiqamah Pasca Ramadhan Oleh: Moh In'ami (Dosen UIN Sunan Kudus, Anggota PDM Kudus) Ramadhan tela....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Wawasan

Suami Istri: Bukan Sekadar Rumah, Tapi Pakaian dan Dialog Cinta Ayah-Anak Penulis: Donny Syofyan,&n....

Suara Muhammadiyah

13 March 2026

Wawasan

Ramadhan dan Kedewasaan Umat: Merawat Damai di Tengah Perbedaan Oleh: Syahnanto Noerdin, Ketua Bida....

Suara Muhammadiyah

19 February 2026

Wawasan

Quo Vadis Pendidikan Nasional? Oleh: Saidul Amin, Rektor UMRI Di dunia ini hampir tidak ada satu b....

Suara Muhammadiyah

5 May 2026

Wawasan

Efisiensi Anggaran dari Biaya Kelakuan Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Ranting Muhammadiyah Legoso,....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah