MEDAN, Suara Muhammadiyah – Kepemimpinan menjadi sesuatu hal yang paling krusial. Di sinilah hal paling berat sesungguhnya dari konteks kepemimpinan itu.
“Sering orang menganggap diberi tugas kepemimpinan itu adalah fasilitas kehormatan,” kata Agus Taufiqurrahman, yang demikian itu telah meninabobokan fungsi sebagaimana semestinya.
“Lupa bahwa itu adalah amanah yang dimintai pertanggung jawaban,” beber Agus, Sabtu (25/7) saat Pelantikan Wakil Rektor Univesitas Muhammadiyah Sumatera Utara Masa 2026-2030.
Amanah, menjadi pokok pangkal dari sisi kepemimpinan. Di samping amanah yang besar dan harus dipertanggung jawabkan, di saat yang sama pula, tidak boleh berkeluh kesah.
“Kalau orang sudah jadi pimpinan tidak boleh mengeluh lagi. Kalau mengeluh sebaiknya SK-nya dikembalikan,” tegas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Pada esensinya, menjalankan kepemimpinan meniscayakan menyelesaikan satu pokok kungkungan permasalahan. Bukan sebaliknya, menghindar masalah atau bahkan, menceritakan kekurangan yang terjadi.
“Jabatan kepemimpinan adalah bukan fasilitas, tetapi tanggung jawab yang harus kita selesaikan,” tekan Agus.
Pendek kata, jabatan kepemimpinan itu bersifat sementara. “Bisa datang dan pergi,” ujarnya. Satu hal yang akan tetap abadi selamanya menyangkut dedikasi, pengabdian, dan amal saleh yang ditinggalkan.
“Banyak pemimpin yang ketika pada fasenya baik tapi karena lupa di etape-etape terakhir tergelincir sehingga nama harumnya yang 7 tahun itu hilang. Sehingga seolah-olah muncul kalimat karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” terangnya.
Di situlah menjaga amanah menjadi amat penting. Dan semestinya yang diberikan kesempatan menjalankan kepemimpinan, Agus mendorong agar tetap mengedepankan amanah.
“Menjaga amanah sejak awal. Kita memasuki ini (kepemimpinan) agar diberi cara masuk yang baik, nanti keluar juga dengan cara yang baik. Istilahnya meninggalkan legasi yang baik,” beber Agus. (Cris)

