Oleh: dr Irsyal Rusad, SpPD, Dokter Penyakit Dalam di Primaya Hospital Bekasi Timur
Puasa adalah salah satu pilar dari lima rukun Islam. Diperintahkan dan diwajibkan oleh Allah Swt terhadap orang-orang yang beriman. Perintah puasa ini diturunkan Allah Swt pada tahun ke dua Hijriah, dua tahun setelah Nabi Besar Muhammad Saw hijrah ke Madinah. Tujuan utama dari perintah puasa ini adalah agar mereka yang melaksanakannya akan menjadi orang-orang yang betaqwa.
Seperti disinggung dalam ayat itu, perintah puasa juga sudah diturunkan kepada ummat sebelumnya. Praktik puasa juga sudah dijalankan oleh bermacam kelompok kultur dan Agama. Puasa dalam agama Islam berarti menahan diri secara sukarela dari makan. minum dan huhungan seksual pada siang hari mulai fajar atau masuknya waktu shalat subuh sampai tenggelamnya matahari.
Menurut Joel Fuhrman dalam bukunya, “Fasting and Eating for Health,” spesies kita (manusia) dapat bretahan hidup sejak lebih dari 400.000 tahun lalu disebabkan sebagiannya karena manusia memang sudah dirancang untuk hidup dibawah bermacam kondisi, termasuk tidak makan untuk beberapa hari. Tubuh kita sudah diberi kemampuan untuk melakukan adaptasi atau reaksi agar tetap bertahan hidup dalam kondisi tidak ada sumber makanan, seperti pada waktu bencana alam, paceklik.
Jelasnya, tubuh tetap berfungsi normal dalam beberapa waktu tertentu ketika tidak ada makanan sebagai sumber kalori. kecuali air. Ini lah sebabnya sering kita mendengar seseorang yang terperangkap dalam reruntuhan bangunan, terjebak dalam galian tambang, terdampar sebiah pulau kecil setelah beberapa hari ditemukan masih hidup.
Dan, puasa bukanlah hal yang baru. Se lain agama Islam, Agama lain seperti Keristen orthodox, Yahudi, Hindu, Budha juga sudah melakukan ritual puasa, walapun cara menjalaninya bisa berbeda. Selain sebagai ritual agama, yang tujuannya lebih mendekatkan diri kepada Allah, puasa juga dilakukan untuk tujuan tertentu, misalnya alasan politik, kesehatan.
Kemudian selama lebih dari 10 ribu tahun yang lalu, puasa sudah digunakan untuk penyembuhan orang yang sakit. Hippocrates yang hidup 400 tahun sebelum masehi, dikenal juga sebagai bapak kedokteran modern telah menggunakan puasa sebagai terapi penyakit-penyakit tertentu. Hippocrates menganjurkan pasiennya untuk berpuasa dan minum cuka apel atau apple ciggar.
Muridnya kemudian juga melakukan hal yang sama
Sumpah Hippocrates yang sudah sangat familiar bagi tenaga medis. yakni, “first do no harm” menujukkan bahwa pertimbangan pertama dalam proses penyembuhan, pemulihan kesehatan orang yang sakit adalah tidak melakukan intervensi yang dapat menyakiti, membahayakan orang yang sakit. Puasa diketahui dapat meningkatkan potensi penyembuhan yang ada dalam diri setiap orang, dan dapat digunakan sebagai pencegahan maupun membantu penyembuhan untuk penyakit tertentu.
Sudah banyak penelitian dilakukan mengenai manfaat puasa berkaitan dengan kesehatan. Diantaranya puasa mempunyai manfaat positip dalam menurunkan berat badan, mengendalikan gula darah, mengontrol hipertensi, memperbaiki sesnsitifitas Insulin,memperkuat imunitas, bahkan penelitian terakhir, “Intermittent fasting,” atau puasa selang-seling, dapat meningkatkan lama hidup, mencegah dan membantu terapi keganasan.
Disamping itu, peningkatan spiritual, moral menurut saya adalah salah satu hasil yang seharusnya kita peroleh setelah menjalankan Ibadah puasa Ramahan ini, dan bagi saya ini adalah hal yang penting.
Kemudian, puasa tidak hanya sekedar tidak makan, minum dan berhubungan seksual suami istri pada siang hari. Kalau hanya sekedar itu, sangat mudah, dan anak kecilpun bisa melakukannya. Saya kira jauh lebih dari itu, sesuai dengan artinya “shaum,” menahan, maka orang yang berpuasa adalah orang yang punya kemampuan untuk menahan, mengendalikan dirinya. Orang yang dapat mengendalikan diri adalah orang yang punya kesadaran atas hakikat dia sebagai manusia, yang dapat membedakan yang baik dengan yang buruk, yang salah, dan yang benar, yang boleh dan yang dilarang, yang hak dan yang bathil, yang halal dan haram, atau menjadi individu yang bermoral tinggi.
Ramadhan juga berarti bulan pembakaran, dan penempaan Dosa mereka yang menjalankan puasa Ramadhan ini akan dibakar, sehingga bagi mereka yang mendapat ampunan dari Allah, yang puasanya diterima, maka meraka akan kembali menjadi suci dan bersih. Ibaratkan besi yang ditempa, akan mudah dibentuk sesuai dengan keinginan penempa, akan menjadi sesuatu yang lebih baik berguna dan bermanfaat.
Sebagai bulan pembakaran, harusnya kita yang telah menjalaninya akan mengalami perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih baik. Ibaratkan, emas batangan yang belum terbentuk, besi berkarat yang sangat keras, setelah dibakar, ditempa menjadi lunak, cair dan akan mudah dibentuk, diukir sehingga menjadi jauh lebih bermamfaat, bernilai dan berharga tinggi.
Lalu, alam pun banyak memberikan contoh bagaiamana puasa ini dapat meningkatkan nilai, martabat sesuatu. Anda bisa melihat seekor ulat sebelum mengalami “metamorphose” menjadi kupu-kupu. Banyak yang takut, alergi dan jijik melihat ulat, sehingga kalau bertemu dengan ulat, seseorang akan menghindari atau bahkan membunuhnya. Tetapi, setelah ulat berpuasa, tidak makan, tidak minum, tidak hanya 12 jam, mungkin 15 hari. Ulat akan menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu.
Ulat yang dulunya bukan hanya menjijikan, tapi juga bisa menjadi hama bagi tanaman, sekarang setelah berpuasa menjadi kupu- kupu, disamping perubahan bentuk yang cantik, menarik, kupu- kupu juga mengalami perubahan tingkah laku, perubahan tabiat. Kupu-kupu tidak seperti ulat lagi, yang merusak tanaman,buah- buahan, menghancurkan, malah seballiknya, menebarkan kehidupan. Kupu-kupu terbang menari kian kemari, hinggap dari satu bunga ke bunga lain, dari satu putik ke putik lain, mengembangkan, membiakan bunga-bunga baru yang indah dan menarik dan juga sumber energi kehidupan bagi yang lain.
Tapi, karena kebanyakan kita berpuasa hanya sekedar menjalankan kewajiban, tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan seksual suami istri siang hari, sebagian besar kita hanya sekedar mendapatkan itu. Sesuai dengan sindiran Rasulullah, “hanya merasakan dan mendapatkan lapar dan dahaga.”
Nah, andaikan kita belajar dari proses metamorphose ulat yang menjadi kupu-kupu, puasa akan memberikan makna lebih dalam terhadap kehidupan kita. Orang yang berpuasa akan mampu mengendalikan diri, menebarkan kehidupan, penuh welas asih, rahmat bagi yang lain, menjadi lebih bermoral, luhur, tidak loba dan tamak. Bukan menjadi pecundang, pendusta, khianat, menebarkan musibah, pemerkosa, maling, koruptor dan perbuatan-perbuatan biadab lainnya.
Saya yakin kalau kita betul-betul berpuasa, kita akan jauh lebih sehat, angka kesakitan, tingkat hunian rumah sakit akan lebih rendah. Dan, penjara tidak akan penuh seperti sekarang, kita tidak perlu terlalu banyak polisi, tidak perlu KPK, tidak butuh satgas mafia hukum. Negara kita akan aman, makmur dan sejahtera.

