Menuju Tubuh yang Sehat dan Bermartabat

Publish

30 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
37
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

Oleh: dr Irsyal Rusad, SpPD, Dokter Penyakit Dalam di Primaya Hospital Bekasi Timur

Puasa adalah salah satu pilar dari lima rukun Islam. Diperintahkan dan diwajibkan oleh Allah Swt terhadap orang-orang yang beriman. Perintah puasa ini diturunkan Allah Swt pada tahun ke dua Hijriah, dua tahun setelah Nabi Besar Muhammad Saw hijrah ke Madinah. Tujuan utama dari perintah puasa ini adalah agar mereka yang melaksanakannya akan menjadi orang-orang yang betaqwa.

Seperti disinggung dalam ayat itu, perintah puasa juga sudah diturunkan kepada ummat sebelumnya. Praktik puasa juga sudah dijalankan oleh bermacam kelompok kultur dan Agama. Puasa dalam agama Islam berarti menahan diri secara sukarela dari makan. minum dan huhungan seksual pada siang hari mulai fajar atau masuknya waktu shalat subuh sampai tenggelamnya matahari.

Menurut Joel Fuhrman dalam bukunya, “Fasting and Eating for Health,” spesies kita (manusia) dapat bretahan hidup sejak lebih dari 400.000 tahun lalu disebabkan sebagiannya karena manusia memang sudah dirancang untuk hidup dibawah bermacam kondisi, termasuk tidak makan untuk beberapa hari. Tubuh kita sudah diberi kemampuan untuk melakukan adaptasi atau reaksi agar tetap bertahan hidup dalam kondisi tidak ada sumber makanan, seperti pada waktu bencana alam, paceklik.

Jelasnya, tubuh tetap berfungsi normal dalam beberapa waktu tertentu ketika tidak ada makanan sebagai sumber kalori. kecuali air. Ini lah sebabnya sering kita mendengar seseorang yang terperangkap dalam reruntuhan bangunan, terjebak dalam galian tambang, terdampar sebiah pulau kecil setelah beberapa hari ditemukan masih hidup.

Dan, puasa bukanlah hal yang baru. Se lain agama Islam, Agama lain seperti Keristen orthodox, Yahudi, Hindu, Budha juga sudah melakukan ritual puasa, walapun cara menjalaninya bisa berbeda. Selain sebagai ritual agama, yang tujuannya lebih mendekatkan diri kepada Allah, puasa juga dilakukan untuk tujuan tertentu, misalnya alasan politik, kesehatan.

Kemudian selama lebih dari 10 ribu tahun yang lalu, puasa sudah digunakan untuk penyembuhan orang yang sakit. Hippocrates yang hidup 400 tahun sebelum masehi, dikenal juga sebagai bapak kedokteran modern telah menggunakan puasa sebagai terapi penyakit-penyakit tertentu. Hippocrates menganjurkan pasiennya untuk berpuasa dan minum cuka apel atau apple ciggar.

Muridnya kemudian juga melakukan hal yang sama

Sumpah Hippocrates yang sudah sangat familiar bagi tenaga medis. yakni, “first do no harm” menujukkan bahwa pertimbangan pertama dalam proses penyembuhan, pemulihan kesehatan orang yang sakit adalah tidak melakukan intervensi yang dapat menyakiti, membahayakan orang yang sakit. Puasa diketahui dapat meningkatkan potensi penyembuhan yang ada dalam diri setiap orang, dan dapat digunakan sebagai pencegahan maupun membantu penyembuhan untuk penyakit tertentu.

Sudah banyak penelitian dilakukan mengenai manfaat puasa berkaitan dengan kesehatan. Diantaranya puasa mempunyai manfaat positip dalam menurunkan berat badan, mengendalikan gula darah, mengontrol hipertensi, memperbaiki sesnsitifitas Insulin,memperkuat imunitas, bahkan penelitian terakhir, “Intermittent fasting,” atau puasa selang-seling, dapat meningkatkan lama hidup, mencegah dan membantu terapi keganasan.

Disamping itu, peningkatan spiritual, moral menurut saya adalah  salah satu hasil yang seharusnya kita peroleh setelah menjalankan  Ibadah puasa Ramahan ini, dan bagi saya ini adalah hal yang  penting. 

Kemudian, puasa tidak hanya sekedar tidak makan, minum dan  berhubungan seksual suami istri pada siang hari. Kalau hanya  sekedar itu, sangat mudah, dan anak kecilpun bisa melakukannya.  Saya kira jauh lebih dari itu, sesuai dengan artinya “shaum,”  menahan, maka orang yang berpuasa adalah orang yang punya kemampuan untuk menahan, mengendalikan dirinya. Orang yang dapat mengendalikan diri adalah orang yang punya kesadaran atas hakikat dia sebagai manusia, yang dapat membedakan yang baik dengan yang buruk, yang salah, dan yang benar, yang boleh dan yang dilarang, yang hak dan yang bathil, yang halal dan haram, atau menjadi individu yang bermoral tinggi.

Ramadhan juga berarti bulan pembakaran, dan penempaan Dosa  mereka yang menjalankan puasa Ramadhan ini akan dibakar, sehingga bagi mereka yang mendapat ampunan dari Allah, yang  puasanya diterima, maka meraka akan kembali menjadi suci dan  bersih. Ibaratkan besi yang ditempa, akan mudah dibentuk sesuai  dengan keinginan penempa, akan menjadi sesuatu yang lebih baik  berguna dan bermanfaat. 

Sebagai bulan pembakaran, harusnya kita yang telah menjalaninya  akan mengalami perubahan dan peningkatan ke arah yang lebih  baik. Ibaratkan, emas batangan yang belum terbentuk, besi  berkarat yang sangat keras, setelah dibakar, ditempa menjadi  lunak, cair dan akan mudah dibentuk, diukir sehingga menjadi jauh  lebih bermamfaat, bernilai dan berharga tinggi.

Lalu, alam pun  banyak memberikan contoh bagaiamana puasa ini  dapat meningkatkan nilai, martabat sesuatu. Anda bisa melihat  seekor ulat sebelum mengalami “metamorphose” menjadi kupu-kupu. Banyak yang takut, alergi dan jijik melihat ulat, sehingga kalau bertemu dengan ulat, seseorang akan menghindari atau bahkan membunuhnya. Tetapi, setelah ulat berpuasa, tidak makan, tidak minum, tidak hanya 12 jam, mungkin 15 hari. Ulat akan menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu.

Ulat yang dulunya bukan hanya menjijikan, tapi juga bisa menjadi  hama bagi tanaman, sekarang setelah berpuasa menjadi kupu- kupu, disamping perubahan bentuk yang cantik, menarik, kupu- kupu juga mengalami perubahan tingkah laku, perubahan tabiat. Kupu-kupu tidak seperti ulat lagi, yang merusak tanaman,buah- buahan, menghancurkan, malah seballiknya, menebarkan  kehidupan. Kupu-kupu terbang menari kian kemari, hinggap dari  satu bunga ke bunga lain, dari satu putik ke putik lain,  mengembangkan, membiakan bunga-bunga baru yang indah dan  menarik dan juga sumber energi kehidupan bagi yang lain.

Tapi, karena  kebanyakan kita berpuasa hanya sekedar  menjalankan kewajiban, tidak makan, tidak minum, tidak  berhubungan seksual suami istri siang hari, sebagian besar kita  hanya sekedar mendapatkan itu. Sesuai dengan sindiran  Rasulullah, “hanya merasakan dan mendapatkan lapar dan  dahaga.”

Nah, andaikan kita belajar dari proses metamorphose ulat yang  menjadi kupu-kupu, puasa akan memberikan makna lebih dalam  terhadap kehidupan kita. Orang yang berpuasa akan mampu  mengendalikan diri, menebarkan kehidupan, penuh welas asih,  rahmat bagi yang lain, menjadi lebih bermoral, luhur, tidak loba dan  tamak. Bukan menjadi pecundang, pendusta, khianat, menebarkan musibah, pemerkosa, maling, koruptor dan perbuatan-perbuatan  biadab lainnya. 

Saya yakin kalau kita betul-betul berpuasa, kita akan jauh lebih  sehat, angka kesakitan, tingkat hunian rumah sakit akan lebih  rendah. Dan, penjara tidak akan penuh seperti sekarang, kita tidak perlu terlalu banyak polisi, tidak perlu KPK, tidak butuh satgas mafia hukum. Negara kita akan aman, makmur dan sejahtera.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (10) Oleh: Mohammad Fakhrudin dan Iyus Herdiana Saputra Di da....

Suara Muhammadiyah

9 November 2023

Wawasan

Kuasai Sumber Hajat Rakyat Oleh: Saidun Derani Telah terjadi Silaturahmi atau semacam pertemuan se....

Suara Muhammadiyah

11 November 2023

Wawasan

Bumi Isra Mi’raj Oleh: Hatib RachmawanDosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas....

Suara Muhammadiyah

30 January 2025

Wawasan

Memuliakan Tamu Kondangan (2) Oleh: Mohammad Fakhrudin/Warga Muhammadiyah Magelang     ....

Suara Muhammadiyah

2 May 2025

Wawasan

Memaknai Basmalah sebagai Fondasi Ilmu-Adab Oleh: Piet Hizbullah Khaidir, Ketua STIQSI Lamongan; Se....

Suara Muhammadiyah

15 October 2025