Menulis Untuk Peradaban

Suara Muhammadiyah

29 July 2026

115
Istimewa

Istimewa

Menulis Untuk Peradaban; Saatnya Muhammadiyah Memimpin Kebangkitan Literasi Bangsa; Refleksi atas Seruan Haedar Nashir dan Agenda Dakwah Bil-Qalam

Oleh: Agus Subeno, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Duren Sawit II, Jakarta Timur

Peradaban besar selalu lahir dari tradisi membaca, berpikir, dan menulis. Tidak ada kemajuan yang dibangun hanya oleh semangat, apalagi oleh riuhnya percakapan di ruang publik. Ia tumbuh dari gagasan yang ditulis, ilmu yang diwariskan, dan pemikiran yang terus dipertukarkan lintas generasi.

Karena itu, tidak mengherankan jika wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah perintah untuk berpidato atau berperang, melainkan firman-Nya:

Iqra' bismi rabbika alladzi khalaq... alladzi 'allama bil-qalam

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan... Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena." (QS. Al-‘Alaq : 1–5).

Ayat tersebut menegaskan bahwa membaca dan menulis merupakan fondasi utama pembangunan peradaban Islam. Pena menjadi simbol ilmu, sedangkan literasi menjadi jalan menuju kemajuan umat.

Muhammadiyah sejak kelahirannya telah menjadikan semangat itu sebagai ruh gerakan. KH Ahmad Dahlan membangun sekolah, perpustakaan, majalah, dan tradisi diskusi bukan sekadar untuk mencerdaskan warga persyarikatan, tetapi untuk membangun masyarakat Islam yang berilmu, tercerahkan, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, kembali mengingatkan pentingnya menghidupkan tradisi literasi. Beliau pernah mengatakan:

"Kalau ingin banyak membaca, ya menulis. Dan kalau ingin baik menulis, ya membaca. Jadi membaca dan menulis itu satu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan."

Pesan sederhana ini sesungguhnya merupakan agenda besar Muhammadiyah untuk mengembalikan tradisi ilmu sebagai fondasi gerakan tajdid.

Ironisnya, di era digital yang dipenuhi informasi, justru kemampuan literasi belum berkembang sebagaimana yang diharapkan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan membaca peserta didik Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. Fakta ini menjadi pengingat bahwa melimpahnya informasi tidak otomatis melahirkan masyarakat yang kritis, apalagi masyarakat yang gemar menulis.

Fenomena banjir hoaks, polarisasi media sosial, budaya instan, serta algoritma yang hanya menyajikan informasi sesuai preferensi pengguna semakin memperlihatkan bahwa tantangan literasi hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Karena itu, gerakan literasi Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada ajakan membaca, tetapi harus melahirkan budaya menulis sebagai bagian dari dakwah pencerahan.

Menulis sebagai Ibadah Pencerahan

Dalam perspektif Muhammadiyah, menulis bukan sekadar aktivitas akademik ataupun hobi intelektual. Menulis adalah bagian dari dakwah bil-qalam, yaitu menyampaikan kebenaran melalui ilmu dan tulisan.

Allah Swt. berfirman:

"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. Az-Zumar : 9).

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia ditentukan oleh ilmu yang dimilikinya. Salah satu cara menjaga ilmu agar tetap hidup adalah dengan menuliskannya. Sebab ilmu yang tidak ditulis akan mudah hilang bersama waktu.

Tradisi Muhammadiyah telah membuktikan hal tersebut. Majalah Suara Muhammadiyah, yang terbit sejak 1915, menjadi salah satu media dakwah tertua di Indonesia yang terus menyuarakan Islam berkemajuan. Dari sinilah lahir banyak pemikir, pendidik, dan ulama yang gagasannya memberi arah bagi perjalanan bangsa.

Karena itu, setiap warga Muhammadiyah seyogianya mulai naik kelas: dari pembaca menjadi penulis. Menulis resensi buku, opini, refleksi dakwah, laporan kegiatan, hingga karya ilmiah populer merupakan bagian dari amal saleh intelektual yang manfaatnya dapat terus mengalir.

Budaya literasi tidak akan tumbuh melalui seminar yang berlangsung sehari. Ia hanya berkembang apabila menjadi kebiasaan yang hidup dalam ekosistem organisasi.

Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar untuk membangun ekosistem tersebut:

Pertama, menjadikan masjid sebagai pusat literasi. Selain tempat ibadah, masjid dapat menjadi ruang bedah buku, diskusi pemikiran Islam, kelas menulis, dan perpustakaan yang hidup.

Kedua, sekolah Muhammadiyah perlu membiasakan guru dan peserta didik menghasilkan karya tulis. Refleksi pembelajaran, artikel ilmiah populer, maupun buku sederhana akan membentuk budaya berpikir kritis sejak dini.

.Ketiga, setiap ranting dan cabang dapat menerbitkan buletin atau media digital secara berkala. Di sinilah kader belajar menulis sekaligus menyampaikan gagasan yang mencerahkan masyarakat.

Keempat, Majelis Diktilitbang bersama media Muhammadiyah dapat memperluas program pendampingan bagi penulis muda sehingga regenerasi intelektual terus berlangsung.

Menulis dengan Integritas

Kualitas tulisan tidak hanya ditentukan oleh indahnya bahasa, tetapi juga oleh integritas penulisnya.

Tulisan yang baik dibangun di atas kejujuran data, ketelitian riset, keberanian menyampaikan kebenaran, serta adab dalam berbeda pendapat. Menulis bukan untuk mencari sensasi ataupun menyerang pribadi, melainkan menghadirkan solusi yang mencerahkan.

Dalam era digital saat ini, penulis Muhammadiyah juga dituntut mampu memverifikasi informasi, menghindari plagiarisme, serta menyampaikan argumen berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Inilah bentuk nyata dakwah yang berkemajuan: santun dalam bahasa, kokoh dalam argumentasi, dan kuat dalam integritas.

Gerakan 30 Hari Menulis

Membangun budaya literasi tidak harus dimulai dari program yang besar. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih efektif membentuk kebiasaan.

Gerakan sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menyediakan waktu sekitar dua puluh menit setiap hari untuk menulis

2. Menuntaskan membaca minimal satu buku setiap bulan

3. Menerbitkan satu tulisan setiap pekan

4. Membentuk kelompok belajar menulis di tingkat ranting

5. Menghadirkan mentor yang membimbing proses penyuntingan karya

Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan melahirkan perubahan budaya yang besar.

Dari Konsumen Informasi Menjadi Produsen Gagasan

Allah Swt. kembali mengingatkan:

"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah : 11).

Ayat ini menjadi penegasan bahwa kemajuan umat hanya dapat dicapai melalui ilmu. Dan salah satu cara paling efektif menyebarkan ilmu adalah melalui tulisan.

Muhammadiyah tidak lahir semata-mata untuk membangun sekolah, rumah sakit, atau masjid. Muhammadiyah hadir untuk membangun peradaban ilmu. Karena itu, dakwah bil-qalam harus menjadi gerakan kolektif seluruh warga persyarikatan.

Sebagaimana diingatkan Haedar Nashir, "Menulis buku merupakan proses merawat nalar dan pikiran yang sangat mahal." Pesan ini patut menjadi pengingat bahwa tradisi menulis bukan pekerjaan sampingan, melainkan investasi peradaban.

Sudah saatnya warga Muhammadiyah mengubah budaya mengonsumsi informasi menjadi budaya menghasilkan gagasan. Ketika setiap ranting memiliki penulis, setiap masjid menjadi pusat literasi, setiap sekolah melahirkan karya, dan setiap kader meninggalkan jejak pemikiran melalui tulisan, maka Muhammadiyah tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi memimpin arah perubahan zaman.

Di situlah dakwah bil-qalam menemukan makna sejatinya: menghadirkan ilmu, menebarkan pencerahan, dan menulis untuk membangun peradaban.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Buya Hamka dan Pancasila Oleh: Fokky Fuad Wasitaatmadja, Associate Professor, Universitas Al Azhar ....

Suara Muhammadiyah

2 June 2024

Wawasan

Pilkada dalam Ancaman Ketidakpercayaan Warga  Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting....

Suara Muhammadiyah

2 December 2024

Wawasan

Libur Jumat atau Ahad? Menimbang Identitas dan Maslahat Pendidikan Muhammadiyah Oleh: Rusydi Umar, ....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Wawasan

Pendidikan dan Tantangan: Kunci Pemimpin Pintar dan Bijak Oleh: Agus setiyono Pendidikan merupak....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Wawasan

JLFR dan Gerakan Kesetaraan di Ruang Publik: Bagaimana Peran Dakwah Muhammadiyah? Oleh: Miqdam....

Suara Muhammadiyah

8 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah