Tangis Perpisahan Bulan Ampunan

Suara Muhammadiyah

23 March 2026

546
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Tangis Perpisahan Bulan Ampunan

Oleh Sobirin Malian, Dosen UAD

Suasana di penghujung Ramadan selalu membawa getaran yang berbeda. Ada semilir angin yang terasa lebih berat, seolah membawa pesan perpisahan dari langit dan bumi. Alam semesta—bumi yang kita pijak hingga planet-planet di cakrawala—seakan tertunduk lesu. Mereka bersedih karena tamu agung, bulan penuh ampunan, akan segera melangkah pergi.

Selama sebulan penuh, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar. Namun kini, pintu itu perlahan mulai merapat. Para malaikat yang turun menyertai keberkahan Lailatul Qadar mulai membentangkan sayap untuk kembali naik ke langit. Langit yang tadinya sibuk dengan lalu lalang makhluk cahaya, kini mulai terasa sunyi. Keberkahan yang tumpah ruah itu mulai ditarik kembali ke haribaan-Nya.

Hati Rasulullah SAW adalah yang paling merasa kehilangan. Menjelang akhir Ramadan, beliau justru semakin "mengencangkan ikat pinggang." Beliau meninggalkan tempat tidur dan menghidupkan malam dengan sujud yang panjang. Beliau bersabda: “Sekiranya umatku tahu keutamaan Ramadan, niscaya mereka mengharapkan agar sepanjang tahun menjadi Ramadan.” Kesedihan beliau adalah bentuk kasih sayang, khawatir jika ada umatnya yang belum sempat membasuh noda hitam di hatinya sebelum bulan ini berlalu. 

Jeritan Penyesalan: "Celakalah Ia..."

Di balik syahdunya perpisahan, terselip peringatan keras bagi mereka yang lalai. Rasulullah SAW bersabda: "Celakalah seseorang yang bulan Ramadan menemuinya, kemudian bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan." (HR. Tirmidzi). 

Ini adalah tragedi spiritual. Betapa pedih menyadari bahwa saat pintu surga dibuka lebar dan setan dibelenggu, seseorang masih gagal mendapatkan rida-Nya karena terlalu sibuk dengan urusan duniawi yang fana. Penyesalan itu akan semakin menyesakkan ketika kita sadar bahwa kesempatan ini mungkin takkan datang lagi.

Apakah kita akan bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan? Tak ada jaminan dari fajar yang terbit besok bahwa umur kita akan sampai pada Ramadan berikutnya. Umur adalah rahasia yang terkunci rapat di Lauhul Mahfuz.

Kesedihan alam semesta adalah peringatan bagi kita: bahwa kesempatan emas ini mungkin adalah yang terakhir. Maka, selagi hilal Syawal belum tampak, jangan biarkan air mata perpisahan ini sia-sia. Bersimpuhlah sedalam-dalamnya, memohon agar nama kita tidak termasuk golongan yang merugi saat pintu surga benar-benar tertutup rapat.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Praktik Moderasi Muhammadiyah melalui Media Online Oleh: Said Romadlan, Dosen Ilmu Komunikasi Uhamk....

Suara Muhammadiyah

5 September 2024

Wawasan

Mens Rea, Komedi, dan Batas Kritik di Ruang Publik Oleh: Syahnanto Noerdin, Ketua Bidang Kerjasama ....

Suara Muhammadiyah

17 January 2026

Wawasan

  Terima kasih Bung Denny JA Oleh: Ahsan Jamet Hamidi Pada awal September 2023, diskusi di ....

Suara Muhammadiyah

7 September 2023

Wawasan

Sains dan Sunnah: Membongkar Khasiat Jahe yang Disebut dalam Al-Qur'an Oleh: Wakhidah Noor Agustina....

Suara Muhammadiyah

10 October 2025

Wawasan

 Adam dalam Al-Qur`an dan Alkitab (Serial Para Nabi)  Oleh : Donny Syofyan, Dosen Fakulta....

Suara Muhammadiyah

11 October 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah