Merajut Empati di Tengah Perbedaan

Publish

14 October 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1250
Saad Ibrahim

Saad Ibrahim

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Dalam dunia yang semakin kompleks, pemahaman terhadap perbedaan agama menjadi krusial. Saad Ibrahim mengungkapkan bahwa seluruh agama kini dihadapkan pada tantangan besar, terutama di tengah perkembangan sains yang pesat. 

Sekularisme di Barat telah mengubah cara pandang terhadap agama, bahkan muncul pandangan ekstrim yang menyatakan bahwa Tuhan telah mati. Ini adalah dampak dari kemajuan dunia sains yang harus kita hadapi. Selain itu, munculnya konsep ‘When Science Meets Religion’ yang ditulis oleh Ian G. Barbour, bertujuan untuk membangun dialog konstruktif antara sains dan agama. Dalam dialog ini, kedua belah pihak–antara sains dan agama dapat saling memahami tanpa saling menafikan. 

Saad juga menekankan pentingnya analisis kritis dalam memahami ajaran agama. “Dengan pesatnya perkembangan sains dan teknologi informasi, pesan agama kini berada dalam tantangan, namun masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk mempelajari berbagai agama tanpa batasan,” ungkapnya dalam Annual Meeting, Monitoring, and Evaluation Eco Bhinneka Muhammadiyah yang diadakan di Surabaya (12/10). 

Bagi Muhammadiyah, saat ini bukan lagi sekadar berbicara tentang kerukunan antarumat beragama. Tapi bagaimana menunjukkan bentuk kerukunan lewat kerja sama dengan berbagai umat, keyakinan, dan aliran. 

“Kami tidak lagi membicarakan toleransi; Muhammadiyah telah memperlihatkan bentuk toleransi dalam tindakan,” tegas Saad. Ia memberikan contoh berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang tetap menghormati hak pendidikan bagi para mahasiswa yang beragama selain Islam. 

Lebih lanjut, Saad menawarkan konsep ‘Teologi Kasihan’. Jika setiap individu menanamkan dalam pikirannya bahwa perbedaan perlu dikasihani, maka empati dan rasa ingin melindungi akan tumbuh. “Dengan rasa kasihan, kita dapat membangun empati antar sesama,” paparnya. 

Menurut Saad, setiap agama mengajarkan kebaikan dan keselamatan, tentu dalam perspektif masing-masing. Dengan memahami perbedaan dan membangun komunikasi yang baik, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih harmonis. “Di era digital ini, akses untuk belajar tentang agama kita sendiri maupun agama lain semakin luas, dan ini sangat penting untuk membangun toleransi dan dialog yang lebih baik di antara sesama,” tutup Saad. (diko/farah)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Waktunya semakin mendekat. Hanya tinggal sehari lagi untuk peser....

Suara Muhammadiyah

12 February 2024

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka Milad ke 113 Tahun Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Muhamma....

Suara Muhammadiyah

15 November 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar mengukuhkan 3767 ma....

Suara Muhammadiyah

19 September 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Krisis iklim yang melanda dunia saat ini, membutuhkan lebih banyak ....

Suara Muhammadiyah

12 January 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Eco Bhinneka Muhammadiyah, HIDIMU (Himpunan Difabel Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

7 July 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah