Merayakan Merdeka, Meneladani Nabi

Suara Muhammadiyah

14 August 2026

117
Istimewa

Istimewa

Merayakan Merdeka, Meneladani Nabi

Oleh: Hafiz Elfiansya Parawu, Dosen FISIP dan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar

Bulan Agustus tahun ini menghadirkan pertemuan dua momentum yang sarat makna. Bangsa kita memperingati HUT Kemerdekaan ke-81 dengan berbagai kegiatan, pertandingan, dan lomba yang meriah. Pada saat yang sama, bulan Agustus bertepatan dengan Rabiul Awal 1448 H, bulan yang mengingatkan umat Islam pada kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pertemuan kedua momentum ini seharusnya tidak berhenti pada kemeriahan, tetapi menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana kemerdekaan dirayakan dengan tetap menjunjung nilai agama, akhlak, dan etika sosial.

Lomba-lomba 17 Agustus pada dasarnya merupakan tradisi sosial yang positif. Di tengah kecenderungan kehidupan masyarakat yang semakin individualistis, kegiatan tersebut menghadirkan ruang perjumpaan, kegembiraan, gotong royong, dan solidaritas. Anak-anak belajar bermain bersama, generasi muda belajar berkompetisi, sementara masyarakat membangun kembali hubungan sosial di lingkungannya. Beragam aktivitas bersama seperti ini dapat memperkuat kohesi sosial dan modal sosial masyarakat.

Karena itu, kemeriahan HUT RI tentu patut diapresiasi. Namun, kegembiraan tidak berarti bebas tanpa batas. Dalam konteks inilah pandangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengenai lomba Agustusan menjadi relevan. MUI mengingatkan bahwa lomba untuk memeriahkan kemerdekaan pada dasarnya diperbolehkan (mubah), tetapi bentuk dan mekanisme pelaksanaannya perlu memperhatikan ketentuan syariah.

Salah satu yang disoroti adalah penggunaan pakaian lawan jenis dalam perlombaan. MUI menjelaskan bahwa laki-laki yang mengenakan pakaian yang secara khusus menjadi ciri pakaian perempuan, atau sebaliknya, termasuk persoalan tasyabbuh (menyerupai) dan dinilai tidak diperbolehkan dalam perspektif hukum Islam. Demikian pula mekanisme hadiah perlu diperhatikan. Penggunaan uang pendaftaran atau iuran peserta yang kemudian dijadikan hadiah bagi pemenang dapat mengandung unsur qimar (judi).

Pandangan tersebut semestinya tidak dipahami sebagai upaya menghilangkan kegembiraan masyarakat. Sebaliknya, ia dapat dibaca sebagai pengingat bahwa tujuan yang baik harus ditempuh melalui cara yang baik pula. Mempererat persaudaraan adalah tujuan yang baik, tetapi cara mencapainya tetap penting memperhatikan norma agama, etika, dan penghormatan terhadap sesama.

Di sinilah hikmah Maulid Nabi menjadi penting. Memperingati kelahiran Rasulullah SAW tidak semestinya berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan dan mengamalkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran, amanah, keadilan, kesopanan, kasih sayang, sportivitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia merupakan nilai yang seharusnya hadir dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, lomba Agustusan dapat menjadi ruang pendidikan karakter dan akhlak. Anak-anak tidak hanya belajar memenangkan perlombaan, tetapi juga belajar menerima kekalahan. Remaja tidak hanya belajar berkompetisi, tetapi juga menghormati lawan. Panitia tidak hanya belajar menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga belajar amanah dan transparan. Masyarakat tidak hanya menikmati hiburan, tetapi sekaligus memperkuat gotong royong dan kepedulian sosial.

Kreativitas dalam merayakan kemerdekaan pun tidak harus diwujudkan melalui perlombaan yang berpotensi menimbulkan persoalan. Kegiatan seperti olahraga, permainan tradisional, kuis kebangsaan, kebersihan lingkungan, penghijauan, kegiatan sosial, dan berbagai permainan kreatif dapat menjadi alternatif yang tetap meriah sekaligus memberikan manfaat sosial.

Pada titik ini, nasionalisme dan religiusitas tidak perlu dipertentangkan. Kemerdekaan adalah nikmat yang patut disyukuri, sementara keteladanan Nabi memberikan pedoman bagaimana nikmat tersebut digunakan secara bertanggung jawab. Kemerdekaan memberikan ruang bagi masyarakat untuk hidup bebas, sedangkan akhlak memberikan arah bagaimana menyalurkan kebebasan tersebut sesuai tuntunan agama.

Karena itu, merayakan kemerdekaan tidak berarti bebas melakukan apa saja. Kemerdekaan justru harus diisi dengan tanggung jawab. Begitu pula mencintai Nabi bukan hanya dengan memperbanyak seremoni, tetapi dengan menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan nyata.

HUT RI mengajarkan kita untuk menghargai kemerdekaan. Rabiul Awal mengingatkan kita untuk meneladani Rasulullah SAW. Keduanya bertemu dalam satu pesan mulia, rayakan kemerdekaan dengan kegembiraan, tetapi jangan kehilangan akhlak, dan cintai Nabi dengan keteladanan, bukan sekadar perayaan.

Sebab, bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang bebas dari penjajahan, tetapi bangsa yang mampu menggunakan kebebasannya secara bertanggung jawab, bermartabat, dan berkeadaban. Merayakan merdeka, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita meneladani Nabi dalam mengisi kemerdekaan negeri kita tercinta.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Harmonisasi Wahyu dan Kosmologi Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Anda....

Suara Muhammadiyah

18 March 2026

Wawasan

80 Tahun Kemerdekaan dan Ilusi Keberhasilan Pembangunan Manusia Oleh: Abdul Halim, Ph.D., Wakil Rek....

Suara Muhammadiyah

17 August 2025

Wawasan

Sains dan Teknologi Halal: Inovasi Islami ala Muhammadiyah Oleh: Vritta Amroini Wahyudi/Dosen Tekno....

Suara Muhammadiyah

17 April 2025

Wawasan

Seni Mendengar dan Bahaya Keputusan yang Tergesa-gesa Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu B....

Suara Muhammadiyah

22 May 2026

Wawasan

Janji Terakhir bagi Bani Israil Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universit....

Suara Muhammadiyah

25 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah