Pencegahan Stroke dalam Perspektif Islam

Suara Muhammadiyah

15 August 2026

74
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Pencegahan Stroke dalam Perspektif Islam: Antara Ikhtiar, Gaya Hidup Sehat, dan Tawakal

Oleh: dr. Rivita Putri Nasari, M.Ked (Neu). Sp.S, Dosen Fakultas Kedokteran UMRI, Dokter Spesialis Saraf RS Awal Bros Panam

Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Selain menimbulkan dampak fisik, stroke juga mempengaruhi kondisi psikologis, sosial, dan ekonomi pasien serta keluarganya. Secara medis, stroke terjadi ketika pasokan darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, sehingga jaringan otak kekurangan oksigen dan nutrisi. Sebagian besar faktor risiko stroke, seperti hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, obesitas, merokok, dan kurang aktivitas fisik, sebenarnya dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup.

Dalam pandangan Islam, tubuh manusia bukan sekedar fisik mekanis, melainkan amanah (titipan) dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, ikhtiar menjaga kesehatan dan mencegah penyakit seperti stroke bukan hanya kebutuhan biologis atau sekedar tindakan medis saja, tetapi juga bagian dari ibadah dan wujud rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT anugerahkan. Oleh karena itu, edukasi pencegahan stroke perlu mengintegrasikan pendekatan ilmiah dengan nilai-nilai Islam agar mampu membentuk kesadaran dan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan.

Islam mengajarkan bahwa tubuh manusia adalah amanah yang harus dijaga. Allah SWT berfirman :

“…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan …” (QS. Al-Baqarah: 195). 

Rasulullah SAW juga bersabda:

“ Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab setiap muslim. Pencegahan penyakit, termasuk stroke, menjadi bagian dari ikhtiar untuk memelihara amanah yang telah diberikan Allah SWT.

Pencegahan Stroke sebagai Upaya Menjaga Akal (Hifz al-“Aql)

Dalam maqashid syariah, salah satu tujuan utama syariat adalah hifz al-‘aql (menjaga akal). Otak merupakan pusat fungsi berpikir, mengingat, berbicara, dan mengambil keputusan. Stroke dapat menyebabkan gangguan fungsi-fungsi tersebut sehingga kualitas hidup seseorang menurun secara signifikan.

Karena itu, menjaga kesehatan otak melalui pengendalian faktor risiko stroke merupakan implementasikan nyata dari prinsip hifz al-‘aql. Edukasi Kesehatan yang menghubungkan aspek medis dengan nilai-nilai syariat akan memberikan motivasi spiritual bagi masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat.

Berikut adalah langkah-langkah pencegahan stroke yang diselaraskan dengan tuntunan dan nilai-nilai Islam:

1.  Menjaga Pola makan : Halal, Thayyib, dan Tidak Berlebihan

Faktor risiko utama stroke-seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes-sangat erat kaitannya dengan asupan makanan sehari-hari.

Islam mengajarkan prinsip dasar dalam mengkonsumsi makanan: Halal (sah secara syariat) dan Thayyib (baik, bergizi, dan aman bagi tubuh). Selain itu, Islam dengan tegas melarang perilaku berlebihan (israf).

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” 

(QS. Al-A’raf:31).

Nabi Muhammad SAW juga memberikan petunjuk proporsional dalam mengisi perut: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara (ruang bernapas). Membatasi asupan garam, gula, dan lemak jenuh merupakan bentuk nyata pengamalan prinsip ini dalam mencegah penyumbatan pembuluh darah.

2.  Mengelola Stres dan Emosi: Menahan Amarah dan Memperbayak Dzikir.

Stres kronis dan lonjakan emosi yang tak terkendali dapat memicu lonjakan tekanan darah mendadak (hipertensi), yang menjadi salah satu pemicu utama pecahnya pembuluh darah di otak.

Rasulullah SAW secara khusus berpesan tentang pentingnya mengendalikan emosi:

     “ Jangan marah, maka bagimu surga.” (HR. Thabrani)

Islam menyediakan sarana pengelolaan mental yang efektif melalui ibadah:

  • Dzikir dan Doa: Mengingat Allah memberikan ketenangan jiwa yang dapat menstabilkan detak jantung dan tekanan darah (QS. Ar-Ra’d: 28).

  • Wudhu: Saat emosi memuncak, membasuh tubuh dengan air wudhu terbukti secara fisiologis dapat meredakan ketegangan saraf.

3.  Olahraga dan Aktivitas Fisik teratur

Gaya hidup pasif (sedentary lifestyle) meningkatkan risiko obesitas dan gangguan sirkulasi darah. Anjuran untuk aktif bergerak sangat selaras dengan rutinitas ibadah harian seorang Muslim.

  • Gerakan Shalat: Gerakan seperti ruku’ dan sujud yang dilakukan secara benar dan tumakninah membantu melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk area kepala dan otak.

  • Jalan kaki ke masjid: Kebiasaan berjalan kaki menuju masjid untuk shalat berjamaah merupakan latihan kardiovaskular ringan namun konsisten yang sangat baik untuk kesehatan pembuluh darah.

4.  Menjauhi Zat-Zat yang Membahayakan Tubuh

Merokok dan konsumsi alkohol adalah dua faktor risiko terbesar yang merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat penebalan plak (aterosklerosis) penyebab stroke.

     Prinsip utama dalam syariat Islam menegaskan larangan merusak diri sendiri:

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” 

(QS. Al-Baqarah: 195)

Prinsip La dharara wa la dhirar (tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain) menjadi pijakan kuat untuk meninggalkan kebiasaan merokok, minuman keras, dan gaya hidup tidak sehat lainnya.

5.  Ikhtiar Medis dan Tawakal 

Pencegahan stroke yang efektif juga melibatkan pemeriksaan kesehatan secara berkala (medical check-up), terutama bagi individu yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi atau diabetes.

Melakukan pemeriksaan rutin dan meminum obat sesuai anjuran dokter adalah bentuk ikhtiar yang wajib dilakukan. Setelah ikhtiar maksimal dijalankan, seorang Muslim melengkapinya dengan tawakal-menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT seraya berdoa memohon perlindungan dari penyakit berat.

Mencegah stroke bukan hanya tentang menjaga angka tekanan darah atau kadar gula darah atau kadar kolesterol tetap normal, melainkan bagian dari komitmen moral seorang hamba dalam merawat amanah fisik yang telah dianugerahkan Allah SWT. Dengan memadukan pola hidup sehat secara medis dan ajaran Islam secara spiritual, kita tidak hanya mendapatkan tubuh yang sehat, tetapi juga keberkahan dalam setiap langkah kehidupan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menjaga Kesadaran dalam Berkomunikasi Oleh: Afita Nur Hayati, Bekerja di UIN Sultan Aji Muhammad Id....

Suara Muhammadiyah

29 April 2024

Wawasan

Takwa dan Keberkahan Negeri Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Takwa, dalam narasi k....

Suara Muhammadiyah

14 July 2025

Wawasan

Gerakan Bersepeda di tengah Krisis Energi: Antara Anomali dan Revolusi Paradigma Oleh: Miqdam A. Ha....

Suara Muhammadiyah

2 April 2026

Wawasan

Mengerti Al-Qur`an lewat Sains Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas ....

Suara Muhammadiyah

13 May 2024

Wawasan

Opsi (Tersisa) bagi Bangsa Palestina Oleh: Yasmi Adriansyah Zionis Israel sampai detik ini terus m....

Suara Muhammadiyah

5 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah