Merdeka dan Tantangan Globalisasi

Suara Muhammadiyah

17 August 2026

134
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Merdeka dan Tantangan Globalisasi

Penulis: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/LPPA PWA Kalbar

Memaknai merdeka tidak terlepas dari bagaimana hak kewajiban sebagai warga negara telah kita lakukan sesuai kemampuan dan kesanggupan. Merdeka adalah rahmat dan kasih sayang Allah SWT yang harus selalu di syukuri, kita manifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Jika pada 1945 kemerdekaan dimaknai sebagai bebas dari penjajahan fisik, maka kini tantangannya adalah bagaimana Indonesia tetap berdaulat dalam menghadapi penetrasi ekonomi global, arus budaya asing, dan dominasi teknologi transnasional. Serta penyakit memperkaya diri yang nyata telah menjangkiti para elite bangsa. Keadaan yang tidak boleh kita anggap remeh. Ibarat rumah, namun  banyak kebocoran di langit atap, yang saat hujan perlahan membasahi seisi rumah, jika tidak ada pelapis anti bocor (waterproofing). 

Jika ditelaah dari Perspektif Sosiologi,  kemerdekaan sejati bukan hanya kebebasan politik, tetapi juga kemampuan menjaga keadilan sosial dan mewujudkan kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat. Harapan dan mimpi besar yang masih menjadi pekerjaan rumah pemimpin bangsa untuk menciptakan  kesejahteraan (welfare state), di mana pemerintah bertanggung jawab aktif menyediakan layanan dasar, perlindungan sosial, dan keadilan ekonomi. Satu sisi globalisasi menjadi  tantangan besar bagi cita-cita Indonesia berdaulat, adil, dan makmur.

Globalisasi pun tidak hanya dipahami sebagai arus ekonomi dan teknologi, tetapi juga sebagai fenomena sosial yang mempengaruhi nilai, budaya, dan struktur masyarakat. Ia membawa peluang sekaligus ancaman. Peluang berupa akses ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi ancaman berupa penetrasi budaya konsumtif, ketergantungan ekonomi, dan melemahnya kedaulatan politik.

Globalisasi di Indonesia

Kedaulatan Indonesia diuji ketika globalisasi menempatkan negara dalam pusaran pasar bebas. Produk asing membanjiri pasar, sementara industri lokal kesulitan bersaing. Telaah dari Sosiologi Islam menekankan pentingnya kemaslahatan umum sebagai dasar kebijakan. Artinya, negara harus melindungi kepentingan rakyat dari dominasi pasar global. Sebab, kedaulatan bukan sekadar simbol politik, melainkan kemampuan nyata untuk mengatur ekonomi agar berpihak pada rakyat kecil. Jika tidak, globalisasi akan memperlebar jurang ketimpangan sosial.

Keadilan juga terancam oleh globalisasi. Ketika kapitalisme global masuk tanpa filter, yang kuat semakin kuat, sementara yang lemah semakin terpinggirkan. Islam menekankan keadilan distributif, di mana kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan elite. Dalam konteks Indonesia, globalisasi seringkali memperkuat oligarki ekonomi, sehingga distribusi kesejahteraan menjadi timpang. Sosiologi Islam mengingatkan bahwa keadilan sosial harus menjadi inti kebijakan, agar globalisasi tidak melahirkan ketidakadilan struktural.

Kemakmuran dalam era globalisasi sering diukur dengan pertumbuhan ekonomi, padahal Islam menekankan pemerataan. Zakat, infak, dan wakaf adalah instrumen sosial yang relevan untuk menghadapi ketimpangan akibat globalisasi. Namun, instrumen ini harus diintegrasikan dengan kebijakan negara agar efektif. Mohammad Hatta pernah menekankan pentingnya ekonomi kerakyatan, yang sejalan dengan konsep Islam tentang keadilan distributif. Tanpa distribusi yang merata, kemakmuran hanya menjadi ilusi di tengah arus global.

Para ahli juga menyoroti hal ini. Nurcholish Madjid menekankan bahwa demokrasi dan pluralisme harus dijaga agar globalisasi tidak mengikis identitas bangsa. Amin Abdullah menambahkan bahwa integrasi nilai agama dengan realitas sosial adalah kunci menghadapi globalisasi, sehingga masyarakat tidak kehilangan akar budaya dan moralnya. 

Setidaknya ada tiga tantangan globalisasi bagi Indonesia. Pertama, ketimpangan ekonomi yang semakin tajam akibat dominasi kapitalisme global. Kedua, penetrasi budaya yang mengikis nilai lokal dan solidaritas sosial. Ketiga, melemahnya kedaulatan ketika kebijakan ekonomi dan politik tunduk pada tekanan internasional. Semua ini menuntut strategi yang berbasis pada nilai keadilan Islam dan semangat Pancasila.

Indonesia harus menjawab tantangan globalisasi dengan memperkuat ekonomi kerakyatan, membangun pendidikan karakter Islami yang menekankan etika sosial, serta memperkuat solidaritas lintas agama dan etnis. Globalisasi tidak bisa dihindari, tetapi bisa dikendalikan. Agar tema HUT RI ke-81  “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” bukan sekedar narasi dan mimpi,  tetapi slogan penyemangat, pemersatu untuk menuju Indonesia emas 2045.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketika Perjanjian Suci Runtuh oleh Pengkhianatan Hati Penulis: Roehan Ustman, Pengasuh PP Ibnul Qoy....

Suara Muhammadiyah

27 July 2026

Wawasan

 Meminimalisir Dampak Buruk Gawai Oleh: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/Sekretaris LPP PWM....

Suara Muhammadiyah

5 February 2025

Wawasan

Dzikir, Tazkiyatun Nafs, Tasawuf, dan Muhammadiyah Oleh: Kumara Adji Kusuma, Dosen Universitas Muha....

Suara Muhammadiyah

20 January 2025

Wawasan

Ujian Idul Fitri: Mencari Makna dalam Perayaan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univ....

Suara Muhammadiyah

30 March 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Saya ingin membahas salah satu ....

Suara Muhammadiyah

30 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah