YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Penguatan kemandirian ekonomi cabang Muhammadiyah menjadi fokus baru model pengabdian perguruan tinggi. Skema Khusus Pengabdian PCM Tempel yang dilaksanakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) hadir sebagai model pengabdian yang dirancang untuk memastikan ilmu dan sumber daya kampus terhubung langsung dengan kebutuhan riil cabang Muhammadiyah.
Program yang diluncurkan pada Ahad (1/3) dan dikelola oleh Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY tersebut merupakan satu dari 14 Skema Khusus tahun ini. Skema ini dirancang untuk mendukung pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah agar lebih mandiri, baik secara kelembagaan maupun ekonomi.
Peluncuran program dilaksanakan di Kompleks SMK Muhammadiyah 1 Tempel dan dihadiri Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMY, Direktur DRP UMY, jajaran pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah serta ‘Aisyiyah, dan unsur Angkatan Muda Muhammadiyah setempat.
Dalam kesempatan tersebut, UMY menyerahkan hibah pengabdian senilai Rp44.250.000 kepada Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel. Dana tersebut tidak dialokasikan untuk kegiatan konsumtif, melainkan diarahkan pada usaha produktif berupa pengembangbiakan domba yang dikelola bersama peternak warga Muhammadiyah.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Sugeng Riyanto, M.Si., menjelaskan bahwa penggunaan dana hibah dirancang dengan prinsip keberlanjutan dan penguatan ekonomi jangka panjang.
“Dana hibah sebesar Rp44.250.000 ini, atas arahan DRP UMY, digunakan untuk usaha produktif agar tidak cepat habis. Kami sepakat bekerja sama dengan peternak warga Muhammadiyah untuk pengembangbiakan domba, bukan sekadar penggemukan. Harapannya, satu hingga tiga tahun ke depan hasilnya dapat menopang kegiatan PCM, PCA, maupun Angkatan Muda Muhammadiyah di Tempel,” jelasnya.
Menurut Sugeng, skema khusus ini juga membagi peran pengabdian ke berbagai unsur persyarikatan, mulai dari pimpinan cabang, pimpinan ‘Aisyiyah, organisasi otonom, hingga ranting Muhammadiyah. Dengan demikian, dampak pengabdian tidak terpusat pada satu titik, melainkan menyebar dan memperkuat ekosistem organisasi secara kolektif.
Ketua BPH UMY, Dr. Agung Danarto, M.Ag., menegaskan bahwa penguatan cabang Muhammadiyah merupakan bagian dari komitmen strategis UMY sebagai amal usaha persyarikatan.
“UMY adalah amal usaha Muhammadiyah yang tumbuh dan berkembang bersama persyarikatan. Karena itu, ilmu yang dimiliki dosen harus terhubung dengan kebutuhan cabang dan ranting. Pengabdian ini bukan yang pertama dan bukan yang terakhir, tetapi harus berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa UMY terus mendorong dosen dan karyawan untuk aktif dalam kegiatan Muhammadiyah sebagai bagian dari penguatan internal sekaligus eksternal organisasi. Pengabdian kepada masyarakat, menurutnya, harus menjadi instrumen untuk memastikan keilmuan yang dikembangkan di kampus benar-benar memberi dampak nyata bagi persyarikatan.
Selain skema kepersyarikatan, DRP UMY tahun ini menargetkan ratusan judul pengabdian dosen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dengan dukungan anggaran yang signifikan, pengabdian diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga membangun model kolaborasi berkelanjutan antara kampus dan masyarakat. (ID)

